10 Rekomendasi Konferensi Internasional Fatwa MUI DKI Jakarta

Rekomendasi Konferensi Internasional tentang Fatwa dan Problematika Kontemporer

 

Bismillahirrahmannirrahim

 

Segala puji bagi Allah SWT dan shalawat serta salam semoga tercurah ke atas junjungan kita Rasulullah, Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang bersamanya mendukung dakwahnya.

Konferensi Internasional tentang Fatwa dan Problematika Kontemporer yang diselenggarakan dari tanggal 20 s/d 22 Juli 2018 dan bertempat di hotel Santika, TMII, Jakarta telah selesai dilaksanakan.

Selanjutnya, demi menindaklanjuti pemaparan yang disampaikan oleh para narasumber dan para ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, bersamaan dengan hasil kajian, pandangan dan penelitian mereka tentang fatwa dan problematika kontemporer, maka dengan ini konferensi ini menyampaikan beberapa keputusan penting sebagai rekomendasi, yaitu:

  1. Senantiasa menjalin keberlangsungan hubungan di antara lembaga-lembaga fatwa di dunia islam dalam menghadapi berbagai isu-isu terbaru dan persoalan terkini.
  2. Menginisiasi ilmu fatwa sebagai disiplin ilmu tersendiri dan mandiri yang tidak terkait dengan politik dan sebagainya, dan diajarkan di perguruan tinggi agama dan lembaga-lembaga kaderisasi para calon hakim agama, imam dan dai.
  3. Mengatasi hiruk-pikuk fatwa dengan pendekatan ilmiah yang berpangkal pada otoritas keilmuan sebagaimana yang diajarkan di institusi-institusi pendidikan, sehingga fatwa-fatwa yang diterbitkan benar-benar terkendali.
  4. Menjelaskan bahaya fatwa palsu yang mengajak kepada pembunuhan (orang yang tak bersalah) dan pengkafiran saudaranya yang lain yang berbeda pendapat dengan cara menghentikan model-model fatwa palsu tersebut.
  5. Mengajak para mufti dan lembaga fatwa untuk lebih serius lagi memperhatikan fikih realitas “fiqh al-waqi” dan menjalin kerjasama dengar para pakar dari berbagai bidang, baik saintek, humaniora, dan sosial, sehingga fatwa yang dihasilkan lebih kredibel dan efektif dalam berkontribusi bagi pembangunan yang berkelanjutan.
  6. Menyeru para ulama dan lembaga fikih agar berusaha untuk tidak menerbitkan fatwa secara tergesa-gesa dan individual, khususnya fatwa-fatwa yang terkait dengan persoalan keumatan dan nasib umat Islam bagi menjamin agar umat tidak terjatuh pada kesalahan, karena kolektivitas keumatan tidak akan bersepakat dalam kesesatan.
  7. Menganjurkan kepada pemerintah di negara-negara Islam untuk lebih memperhatikan fatwa yang legal yang sah dan resmi dan merujuk kepada hukum Islam bagi persoalan umat islam secara umum, khususnya pertikaian yang terjadi pada sebagian negara-negara Muslim yang dilanda konflik demi menghindari terjadinya porak-porandanya masyarakat Muslim dunia dengan menjalin hubungan yang tidak mendzolimi dan terdzolimi. ”Laa tadzhlimuna wa laa tudzhlamuna”.
  8. Mengusahakan terjalinnya hubungan yang lebih erat di antara lembaga-lembaga fatwa di dunia Islam dan juga negara-negara Arab.
  9. Membentuk lembaga khusus untuk tindak lanjut dan terlaksananya poin-poin penting hasil konferensi yang menjadi rekomendasi di sini.
  10. Menganjurkan diadakannya konferensi internasional berikutnya tentang fatwa dan isu-isu kontemporer ke-2 yang dapat diselenggarakan tahun depan. *** (RZK)

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top