6 Prinsip Membangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga Berketahanan

Oleh : Ustadzah Mursyidah Thahir

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat  

 

 

Membangun Karakter dalam Keluarga Sakinah

Biasanya dalam perhelatan akad pernikahan maupun resepsi, para tamu undangan selalu memberikan ucapan doa kepada kedua mempelai agar mampu mengarungi rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Apa sebenarnya makna dari keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang sekarang populer dengan singkatan Samara itu?

Kata ”sakinah” mengandung makna bahagia yang membahagiakan. Bukan bahagia yang menyengsarakan orang lain seperti yang banyak terjadi, suami bahagia dengan teman selingkuhnya, sedangkan istri dibuatnya menderita. Bahagia dalam konsep sakinah adalah bahagia yang didasari rasa cinta yang tulus (mawaddah), welas asih (rahmah) dan kuatnya iman kepada Allah. Oleh karenanya sakinah dapat dinikmati semua orang tanpa memandang kelas sosial, suku, atau bangsa tertentu. Sakinah dapat dinikmati oleh semua orang kaya maupun miskin, di kota ataupun desa, bersekolah atau tidak

Bahagia dalam konsep sakinah memiliki kekuatan yang lebih permanen dalam menghadapi situasi kehidupan sesulit apa pun, bahkan sangat berperan sebagai saluran untuk mengalirkan segala kebaikan seluruh anggota keluarga agar mereka berkumpul kembali dalam istana di surga. Setiap satu orang memperoleh tempat seluas langit dan bumi, mereka menikmati buah-buahan yang setiap gigitan memberi rasa lebih lezat dari sebelumnya. Sebagaimana Firman Allah:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 25)

Keluarga sakinah adalah keluarga khas Islam yang mengandung makna rukun, damai, tenteram dan bahagia atas dasar takwa. Sebagai tempat memakmurkan umat manusia di muka bumi, maka keluarga haruslah dibangun dalam lingkungan paling membahagiakan dan menyenangkan seluruh anggota keluarga. Mengapa? Karena di tempat inilah anak-anak kita pertama kali melihat dunia, mendengar suara azan yang dibisikkan ayahanda di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri begitu ia lahir dari rahim sang ibu.

Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa dianugerahi kelahiran seorang bayi, kemudian dibacakan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri maka setan tidak akan bisa membahayakan (menyesatkan) nya”.[1]

Kalimah tauhid yang mengawali fungsi inderawinya pada saat ia dilahirkan, menjadi rekaman yang terpatri kuat dalam otak sang anak dan akan tersimpan selamanya. Hal ini dapat menumbuhkan kecenderungan yang positif pada jiwa anak di masa mendatang. Secara alamiah ia akan memiliki kemampuan membedakan antara yang baik dengan yang buruk, memilih yang baik, menjauhi yang buruk, dan kelak ia tidak mengalami kesulitan melaksanakan ibadah dan beramal saleh sesuai petunjuk Allah di manapun ia berada.

Dalam keluarga sakinah, anak tumbuh kembang melalui proses asah-asih dan asuh orang tua dengan penuh cinta dan kasih sayang maka anak dapat tumbuh-kembang lebih ceria, tidak sombong, tidak penakut dan penuh rasa percaya diri.

Sifat-sifat positif pada anak yang terbentuk secara terus-menerus dalam keluarga, membentuk karakter yang menjadi kekuatan mendekati natur yang dibawa sejak lahir.[2]

Membangun keluarga sakinah identik dengan membangun generasi yang sehat, cerdas, beriman, berkarakter dan memiliki keseimbangan antara imajinasi dan nalar. Dalam keluarga sakinah, para orang tua mendidik putra-putrinya tentang tutur kata yang patut digunakan untuk menyapa ayah dan ibu dengan penuh penghormatan serta bahasa yang baik untuk menyapa kakak dan adik dengan penuh keakraban. Dengan demikian, orang tua telah membekali modal kehidupan sangat penting kepada anak-anaknya. Karena, mereka telah memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus. (Perlu dicatat, banyak orang pintar namun gagal mewujudkan cita-citanya karena ketidakmampuannya menggunakan komunikasi yang baik).

Kepada anak-anaknya, orang tua selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kesantunan, kesetiakawanan dan kejujuran. Juga mengajarkan prinsip-prinsip dan cara hidup yang sehat serta bagaimana menata dan memelihara lingkungan yang bersih. Dengan demikian anak akan memiliki karakter yang kuat, kepekaan sosial yang tinggi yang dapat menolong dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup modern yang kian maju.

Para orang tua mengajak anak-anaknya bertamasya, melihat alam raya sambil mengajak berpikir tentang keagungan Sang Pencipta. Bagaimana langit dan bumi diciptakan, matahari dan rembulan tidak saling bertabrakan, bagaimana kapal-kapal bisa berlabuh di atas samudera yang luas, bagaimana hujan turun dari langit lalu menghijaukan sawah dan ladang yang gersang. Dengan demikian orang tua telah menunaikan tugas yang paling menentukan bagi hidup dan matinya anak, bahagiakah dia atau sengsara? Karena ternyata, semua ulama sependapat bahwa bahagia adalah mati dalam keadaan beriman dan sengsara ialah mati dalam keadaan kufur.

Tugas paling penting dari semua proses yang dilalui para orang tua untuk mewujudkan keluarga sakinah adalah mengantarkan seluruh anggota keluarga beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta bagaimana cara-cara yang harus dilakukan untuk beribadah hanya kepada-Nya

 

Takwa Landasan Utama Ketahanan Keluarga

Al-Qur`an surat Al-Furqan ayat 74 mengajarkan doa yang sangat indah:

”Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, istri-istri dan keturunan kami yang menenteramkan jiwa dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Furqan: 74)

Mewujudkan keluarga sakinah membutuhkan keterlibatan dan peran seluruh anggota keluarga. Istri yang salehah saja tidak cukup kuat sebagai andalan tunggal dalam menjalankan tugas mengurus keluarga dan mendidik anak tanpa didukung suami yang saleh. Orang tua yang baik juga tidak mampu mewujudkan keluarga sakinah tanpa didukung anak-anak yang baik. Allah SWT memberikan panduan lebih detail bahwa mewujudkan keluarga sakinah harus memenuhi keseluruhan lingkup takwa sebagai berikut:

 

  1. Memiliki Peran Sosial yang Baik

 

Allah SWT Berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

 

Keluarga yang bertakwa harus memiliki peran sosial yang baik, rendah hati, pandai berkomunikasi, tidak mudah terprovokasi dan mampu menciptakan suasana damai di tengah keluarga serta masyarakat. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai diperlukan komunikasi, silaturrahim dan musyawarah antar tetangga. Mereka bersama-sama menciptakan lingkungan yang bebas perjudian, narkoba, prostitusi, perampokan dan pembunuhan. Setiap individu terlibat menjaga keamanan lingkungan sesuai peran dan kedudukan masing-masing serta bertanggung jawab atas tugas yang diamanatkan.

 

Menurut al-Ghazali, paling sedikit empat puluh rumah tetangga memiliki hak untuk disapa. Sepuluh rumah sebelah kanan, sepuluh rumah sebelah kiri, sepuluh rumah ke depan dan sepuluh rumah ke belakang harus menjalin ikatan persaudaraan yang kuat. Masing-masing berhak dan berkewajiban mengontrol satu sama lain.[3] Bila di antara mereka ada yang mengundang wajib dihadiri, bila ada yang sakit wajib dijenguk dan bila ada yang meninggal wajib takziyah. Dalam empat puluh keluarga mereka membuat clustercluster yang bersih, sehat dan aman. Bila ada gangguan keamanan mereka hadapi bersama dan kalau ada biaya yang harus dikeluarkan mereka tanggung bersama. Masyarakat dan negara sangat diuntungkan oleh konsep ini, karena tanpa membebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara, mereka telah berbuat banyak hal yang sangat berharga bagi kehidupan bangsa dan negara. Mereka mampu menekan angka kejahatan, mengurangi jumlah kematian akibat narkoba, menghentikan jatuhnya korban jiwa akibat perampokan, tawuran atau kejahatan lainnya.

Konsep ini pula yang pernah diterapkan para wali songo ketika salah seorang warga masyarakat bertanya kepada sunan tentang sesajen, yaitu satu nampan makanan berwarna warni yang biasanya dipersembahkan kepada Dewi Sri sebagai ungkapan terima kasih (konon, Dewi Sri ini dipercayai sebagai pelindung padi di sawah hingga menguning). Maka beliau menyarankan, ”Jangan hanya satu nampan, tetapi tambahkan 20 piring dan undanglah tetangga untuk makan bersama.”

Kearifan inilah yang kemudian melahirkan tradisi slametan (syukuran) dengan mengundang para tetangga makan bersama, sehingga membentuk masyarakat paguyuban, saling kenal, akrab, rukun, damai, aman dan sentosa. Sementara tradisi mempersembahkan sesajen yang dilarang agama karena mengandung unsur syirk, tabdzir dan israf telah sirna dengan sendirinya tanpa terjadi konflik antar masyarakat muslim dan Hindu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: ”Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi[4]

 

  1. Shalat Tahajjud

Firman Allah Swt:

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”(QS. Al-Furqan: 64)

Di malam hari mereka korbankan sebagian jam tidurnya untuk menghadap Tuhan. Di sepertiga malam terakhir mereka bersujud melakukan shalat malam. Para orang tua yang rajin melaksanakan shalat Tahajud dan berdoa untuk kesalehan putra-putrinya, akan memiliki putra-putri yang dilindungi Allah dari bermacam-macam kejahatan, hal ini akan sangat berbeda bila para orang tua enggan melaksanakan shalat Tahajud. Allah berfirman: ”Bertahajudlah di malam hari sebagai ibadah yang kamu lakukan dengan sukarela, niscaya Tuhanmu akan memberi kamu tempat yang terpuji”.

Dr. M. Sholeh, salah seorang ilmuwan peraih gelar Doktor Jurusan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, dalam disertasinya yang berjudul Pengaruh Shalat Tahajud Terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahanan Tubuh Imunologik, telah melakukan penelitian yang melibatkan 41 responden santri pondok pesantren Hidayatullah Surabaya. Dari hasil penelitiannya ia memperoleh kesimpulan bahwa shalat tahajud yang dilakukan secara sukarela dan terus menerus secara medis dapat menumbuhkan respons ketahanan tubuh khususnya pada imunoglobin M, G, A dan limfosit yang berupa persepsi dan motivasi positif serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.

 

  1. Mampu Mengelola Ekonomi

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”(QS. Al-Furqan: 67)

Di bidang ekonomi para orang tua mampu mengelola keuangan dengan benar, mencari rezeki dari sumber yang halal. Kalau berdagang mereka lakukan dengan jujur tanpa mengurangi takaran, kalau bekerja mereka disiplin serta profesional dan kalau mereka menjadi pemimpin mereka mampu menegakkan keadilan. Mereka memiliki sifat dermawan, belanja sesuai dengan kebutuhan dan menyimpan uang sesuai kebutuhan. Mereka tidak kikir dan tidak boros. Kedermawanan merupakan sikap paling ideal yang dapat mengantarkan kehidupan keluarga pada posisi yang mapan secara ekonomi.

 

  1. Menjaga Iman dan Moral

Di bidang akidah, mereka tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan kemusyrikan, mereka juga sangat menjaga diri dan keluarga dari berbagai kejahatan yang dilarang Tuhan. Sedangkan dalam moral mereka tidak pernah terlibat perselingkuhan, prostitusi, perjudian, narkoba dan pembunuhan. Sebagaimana Allah Swt. mensifati hamba-hamba kesayangan-Nya di dalam al-Qur`an:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.”(QS. Al-Furqan: 68)

Kemuliaan akhlak dan moral seseorang kepada sesama manusia sangat menentukan kesuksesannya baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya kerusakan moral seseorang akan merugikan dirinya di dunia, dan lebih-lebih rugi lagi di akhirat.

Sebagaimana dikisahkan di dalam hadits bahwa orang yang rusak akhlak dan moralnya kepada manusia akan menjadi manusia yang paling merugi di akhirat nanti. Bahkan Rasulullah menyebut orang yang demikian sebagai orang yang bangkrut.

 

Nabi SAW. bertanya kepada para shabat: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”  

Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan tidak pula memiliki barang.”

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzalim-an. Ia pernah memaki seseorang, menuduh orang lain tanpa bukti, memakan harta seseorang, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah dosa yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.”[5]

 

  1. Paham Hukum

”Dan orang-orang yang tidak bersumpah palsu… ” (QS. Al-Furqan: 72)

Keluarga yang bertakwa adalah keluarga yang paham hukum, taat hukum dan tertib hukum. Kewajiban kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada masyarakat dan kepada negara dilaksanakan dengan baik dan proporsional. Banyak keretakan rumah tangga yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka atas hak dan kewajibannya, sehingga melakukan pelanggaran hak atas yang lain.

Sesuai urutannya, kewajiban kepada Allah berupa shalat lima waktu, puasa di bulan suci ramadhan, berzakat dan melaksanakan ibadah haji jika mampu, wajib ditaati oleh seluruh anggota keluarga tanpa kompromi, namun tetap dalam suasana yang menyenangkan.

Kewajiban kepada diri sendiri dan keluarga. Yakni masing-masing anggota keluarga terlatih disiplin, jujur, adil dan peduli karena keteladanan dari orang tua. Mereka tahu kapan saatnya belajar, bermain, makan dan istirahat karena orang tua selalu memberi contoh, menyediakan fasilitas dan mengontrol aktivitas mereka. Disiplin, jujur, adil dan peduli dijadikan standar personal yang wajib dijaga bersama demi kesehatan, kepandaian, kesejahteraan dan kesalehan mereka. Dengan sifat disiplin, jujur, adil dan peduli mereka memiliki posisi hukum yang kuat dan disegani baik dalam keluarga maupun di masyarakat.

Di masyarakat, mereka tidak pernah tertarik menghalalkan segala cara. Mereka menolak suap, tidak korupsi dan tidak terlibat skandal apapun yang menimbulkan kerusakan di muka bumi. Dalam hal penegakan hukum inti kejujuran adalah tidak pernah memberikan kesaksian palsu di pengadilan.

Allah mengizinkan pelaksanaan hukuman bagi orang-orang yang membuat kehancuran di muka bumi dengan hukuman seberat-beratnya seperti potong tangan, kaki atau diasingkan.[6] Kecuali bagi mereka yang bertaubat sebelum diproses di pengadilan, maka Allah mengampuni mereka.[7] Artinya, Allah mengampuni dosa seorang koruptor yang bertaubat sebelum dimeja-hijaukan dengan cara mengembalikan semua hasil korupsinya ke kas negara sebelum ditangkap oleh KPK.

Kejujuran adalah inti penegakan hukum, karena hal ini menyangkut hak asasi setiap orang untuk memperoleh keadilan hukum. Kesaksian yang palsu dapat mempe-ngaruhi hakim dalam menjatuhkan vonis hukuman kepada yang tidak bersalah dan membebaskan hukuman kepada yang bersalah. Maka konsekuensinya selain meruntuhkan kewibawaan lembaga hukum juga mereka yang berdusta terancam hukuman yang lebih berat di akhirat nanti.

 

  1. Peningkatan Kapasitas Intelektual

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapi-nya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”(QS. Al-Furqan: 73)

Keluarga yang bertakwa harus memiliki kapasitas intelektual tinggi, bila al-Qur`an dibacakan, mereka tidak bersikap tuli dan buta. Mereka berupaya untuk mampu memahami makna setiap ayat yang dibaca, mereka tadarus setiap hari tanpa harus menunggu datangnya bulan ramadhan yang hadir satu kali dalam setahun.

Al-Qur`an adalah sumber segala pengetahuan, bila dibaca selalu memberikan inspirasi tentang ilmu dan hikmah kepada pembacanya. Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikanmu ilmu pengetahuan. Membaca al-Qur`an merupakan salah satu bentuk komunikasi dua arah antara manusia dan Tuhan tanpa memerlukan perantara siapa pun dan pembatas apapun.

Al-Qur`an adalah cahaya yang tak pernah padam. Ia menyinari perjalanan hidup manusia di dunia, menghibur hati di kala gelisah, memberi semangat ketika kehilangan asa, mengontrol emosi yang buruk, menjawab segala teka-teki kehidupan yang penuh misteri, mendampingi masa istirahat di alam kubur, menjadi penghalang pintu neraka dan membukakan pintu surga.

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, Rasulullah bersabda: ”Orang yang mahir membaca al-Qur`an selalu didampingi malaikat yang mulia lagi berbakti, adapun orang yang membaca al-Qur`an yang kurang fasih dan mengalami kesulitan membacanya maka ia akan memperoleh dua pahala”[8]

Dengan prinsip 6 ajaran tersebut, karakter bangsa terbentuk oleh keluarga berketahanan. Insya Allah. (foto: pixabay.com)

 

Catatan: Artikel ini pernah disampaikan dalam acara seminar: “ Membangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga Berketahanan” yang diselenggarakan oleh Komisi Perempuan MUI DKI Jakarta pada 9 September 2017.

[1] Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Jaami` al-Shaghir, hadits riwayat Abu Ya`laa dari al-Husain, Juz II hal. 183

[2]Prof. Dr. Ahmad Amin, Al-Akhlaq (alih bahasa : Prof. Farid Ma`ruf, Bulan Bintang Jakarta, 1975) hal. 24-25

[3] Ihya Ulum al-diin

[4]Al-Qur`an, surah al-A`raaf/7 ayat 96

[5] HR Muslim no. 6522

[6] A surah al-Maidah/5 ayat 33

[7] Ibid, ayat  34

[8] Abi Zakaria, Yahya ibn Syaraf An-nawawi, Riyadh al-Shalihin, hal 199

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top