Home Artikel Berhajilah dan Ingat Ka’bah Ruhanimu

Berhajilah dan Ingat Ka’bah Ruhanimu

14
0

“Ka’bah yang berdiri di kota Suci Mekkah senantiasa suci bagi orang-orang yang beribadah. Namun, bagaimanakah kita menjaga kesucian Ka’bah ruhani yang padanya kita melihat Hakikat!?”–Syekh Abdul Qadir al-Jailani

 

Pergilah haji, Saudaraku, pergilah. Tunaikan rindumu kepada-Nya, Sang Pemilik Hati. Pergilah umrah, Saudaraku, pergilah. Pungkasi kasmaranmu kepada-Nya, Sang Pemilik Jiwa.

Bertamulah di Rumah-Nya dengan hati yang bungah dan rindu berlarat-larat.  Ia memang memanggilmu. Ia menyeru kepadamu. Karena itulah, akhirnya, kau  berziarah ke Kota Suci-Nya. Melihat Ka’bah, menyaksikan Rumah-Nya.

Kenakan kain ihrammu. Meleburlah bersama saudara-saudarimu dengan hati yang lapang dan tulus. Berthawaflah mengelilingi Baitullah, memutari Kubus Suci yang selama ini kau idam-idamkan itu.  Engkau boleh terharu; menangis dan bahagia. Engkau boleh meraung-raung di depan-Nya. Engkau boleh merintih-rintih karena kuasa dan kehendak-Nya hingga kau bisa sedekat itu di depan Ka’bah. Bahwa pada giliranya kau tiba juga berkunjung ke Rumah-Nya. Bahwa inilah momen terindah yang selama ini menggenangi mimpi-mimpimu. Bermunajatlah. Merintihlah. Kenanglah dosa, kenanglah khilaf, dan beristigfarlah hingga lisan terasa kelu, hingga hati tidak ada lagi ruang untuk nafsu kedirian dan keakuan yang membebat jiwa. Pancangkanlah niat menjadi manusia baru seputih kain ihram yang kau selempakan di tubuh, seputih kain ihram yang membalut tubuhmu.

Berhajilah, Saudaraku, berhajilah. Lakoni ibadah Sa’i-mu seraya mengenang perjuangan Siti Hajar yang mondar-mandir antara Shafa dan Marwah, mencari mata air demi sang buah hati yang masih merah: Ismail. Reguklah saripati kisahnya: pengorbanan, kesetiaan, ketaatan demi meraih keridhaan-Nya.

Berhajilah, Saudaraku, berhajilah. Ingat dengan syahdu dan pilu perjuangan Nabi Adam dan Hawa saat engkau berada di Padang Arafah, ketika engkau wukuf bersama lautan muslim sedunia. Membaur di dalamnya, beribadah dan mendekat kepada-Nya dalam satu padang luas yang tandus, yang atapnya angkasa.  Wukuflah bersama jutaan saudara-saudarimu yang lain; yang putih, yang hitam, yang coklat, yang asia, yang timur, yang barat. Semua sama di hadapan-Nya. Semua tak ada bedanya. Berpakaian serupa. Hanya satu yang berbeda: hatimu, niatmu, keikhlasanmu, keridhaanmu, kerendahhatiamu, jiwamu. Bertempurlah menaklukan syahwat raga, syahwat hati, syahwat yang merusak imanmu selama berdiam di sana. Ingatlah baik-baik bahwa wukuf adalah puncak ibadah haji. Kenang rapat-rapat bahwa Nabi Muhammad saw pernah berkhutbah untuk terakhir kalinya di sana, khutbah perpisahan dengan umatnya.

Berhajilah, Saudaraku, berhajilah. Serap saripatinya. Serap keindahan berasyik masyuk di depan Ka’bah seraya mengenang pesan Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini: “Ka’bah yang berdiri di kota Suci Mekkah senantiasa suci bagi orang-orang yang beribadah. Namun, bagaimanakah kita menjaga kesucian Ka’bah ruhani yang padanya kita melihat Hakikat!?”

Berhajilah, Saudaraku, berhajilah. Mabrurkan hajimu. Mabrurkan. Dan doakan saya, doakan keluarga Anda, doakan setiap muslim yang belum berhaji, doakan agar kelak juga berkunjung ke Rumah-Nya.  [Muaz/muaz.abdillah@gmail.com/ Sumber foto: dok.pribadi muaz]