Jalin Ukhuwah, Raih Mardhatillah !
The news is by your side.

Dua Nasihat yang Seringkali Terabaikan

0

“Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.” (Nabi Muhammad)

 

Motivator adalah penasihat, meski judulnya pembangkit semangat dalam kehidupan sehari-hari. Pendakwah juga penasihat, walau titelnya juru dakwah, penyeru kebaikan agar seseorang kian lurus dalam beragama. Tentu saja, di luar kedua laqab tersebut, banyak istilah yang serupa dan tidak jauh berbeda kontennya. Dan laku. Dan suka diburu. Artinya sebagian besar kita memang gemar dinasihati. Sebagian kita butuh nasihat. Sebagian besar kita banyak yang mengalami kegalauan dan penderitaan di dalam jiwanya. Maka, jadilah “industri motivasi” atau nasihat atau wejangan atau apalah namanya laris manis di negeri yang penduduknya disebut negara Muslim terbesar di dunia.

Lalu, adakah jejak  yang indah dan melekat di hati  bila semuanya berawal dari industri? Mampukah para motivator atau pendakwah itu mengobati lara dan duka yang tengah kita hadapi? Adakah mereka membuat  hati kita senantiasa “basah” dan selalu eling kepada-Nya bila yang kita rujuk sebagai juru nasihat itu mereka yang meraup rupiah dari gelar motivator dan (atau) pendakwah? Memang, ada bab isytisna alias pintu pengecualian, alias tidak semuanya demikian. Tapi, itu agaknya kian mengecil dan langka di era digital seperti sekarang ini.

Saya ingat, Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah pernah menyitir salah satu sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi: “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.” Lebih lanjut, Imam Ghazali menjelaskan: pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dari keduanya, bagaimana ia akan menasihati orang lain?

Begitulah. Pada hakikatnya, setiap Muslim, setiap kita yang butuh nasihat, motivasi, dan inspirasi tidak perlu menguras kocek demi mendengar khutbah seorang motivator dan pendakwah. Sudah ada Alquran, yang bahkan isinya pun beyond nasihat dan motivasi. Pada Alquran kita bisa mereguk spirit, semangat,  ilmu, cahaya, dan hal ihwal lainnya yang luarbiasa dan berlimpah. Lebih-lebih kita mafhum, senarai huruf, kata dan kalimat yang termaktub dalam Alquran adalah kalam Allah sendiri, Maha Penasehat, Maha Motivator, Maha Inspirator. Tapi, anehnya kita kerapkali menganggapnya sekadar mushaf mati yang kelu.

Sejatinya, Alquran itu penasihat yang berbicara, sebagaimana dipertegas Imam Ghazali berdasarkan hadis Nabi: “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.”

Syaratnya cuma satu: sering-seringlah membuka dan mendarasnya. Lakukan itu setiap hari, siang dan malam, seolah-olah anda tengah berdialog dengan Sang Maha Penasihat, Rabb Azza wa Jalla.  Pelan-pelan, secara tartil, bayangkanlah Dia tengah mendikte dan mengajarkan kepada anda pelbagai pengetahuan yang anda belum atau tidak tahu. Bayangkanlah Dia Sang Maha Motivator sedang memoles cermin hati anda yang keruh, sedang menguatkan jiwa anda yang rapuh, sedang mengobati luka (fisik dan psikis) yang tengah bergumul di dalam diri anda.

Melalui hadis tersebut, saya kian mengerti pernyataan Imam Nawawi dalam kitab  Al-Adzkar An-Nawawiyyah bagian Tilawah Alquran mengatakan bahwa Alquran itu sepaling kuat zikir dan untuk itu usahakan untuk mudawamah (mengulang-ulang) untuk membacanya. Tak aneh, dalam riwayat Anas ra, Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesiapa yang membaca Alquran  paling sedikit 50 ayat sehari semalam, maka ia tidak ditulis sebagai orang-orang yang lalai (ghafilin)….”

Karena itulah, tak ada salahnya, mari kita ramai-ramai kembali lagi kepada Penasihat yang setiap huruf, kata, dan kalimatnya adalah cahaya,  adalah ketenangan jiwa, adalah obat hati paling dahsyat. Wallahua’lam bilshawab. (Muaz)

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.