Fatwa Hukum Fidyah Shalat

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 19 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 25 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Fidyah Shalat, setelah :

Menimbang:

  1. Bahwa shalat adalah rukun Islam kedua sesudah syahadat dan merupakan amal ibadah yang akan dihisab (diperhitungkan) pertama kali oleh Allah SWT kelak di akhirat. Oleh karena itu umat Islam harus selalu memperhatikan pelaksanaan shalat serta tidak meninggalkannya.
  1. Bahwa sungguh pun demikian, karena satu dan lain hal ada diantara umat Islam yang kurang sempurna dalam menjalankan ibadah shalat sehingga ketika wafat mereka masih mempunyai hutang shalat sehingga ketika wafat mereka masih mempunyai hutang shalat yang ditinggalkannya sewaktu masih hidup.
  1. Bahwa sebagian umat Islam menduga (berasumsi) bahkan meyakini, bahwa hutang shalat yang ditinggalakan oleh orang yang sudah wafat dapat dibayar dengan memberikan fidyah kepada fakir miskin. Sementara itu, sebagian yang lain menolak pemahaman tersebut dan bahkan menilainya sebagai perbuatan bid’ah.
  1. Bahwa untuk meluruskan pemahaman sebagian umat Islam serta menghindarkan terjadinya perselisihan yang berakibat pada lemahnya ukhuwah Islamiyah, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Fidyah Shalat.

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 25 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Fidyah Shalat.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya, setiap manusia akan memperoleh balasan (pahala atau siksa) sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu masih hidup di alam dunia. Mereka tidak akan mendapatkan balasan amal perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat an-Najm ayat 39-41 :

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna”. [QS. An-Najm (53): 39-41]

  1. Sungguh pun setiap orang hanya akan mendapat balasan sesuai dengan amal perbuatannya, agama Islam mewajibkan orang-orang yang beriman untuk membantu sesama orang-orang yang beriman dengan menshalatkan jenazahnya dan mendo’akannya agar seluruh amal ibadahnya diterima Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni. Sebagaimana disabdakan Rasulallah SAW dalah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah RA[1] ;

 “Kewajiban orang Islam atas orang Islam yang lain ada lima ; menjawab salam, menengok orang sakit, mengiring jenazah (ke kuburan), memenuhi undangan, dan mendo’akan orang yang bersin”.

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari sahabat Utsman ibnu Affan RA[2] ;

“Rasulallah SAW jika selesai menguburkan mayat beliau berdiri di atas kuburnya dan bersabda ; ‘Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu ini dan mohonkanlah untuknya agar diberikan ketetapan iman karena sekarang ia sedang ditanya (oleh Malaikat Munkar dan Nakir)’”.

Demikian juga firman Allah SWT dalam surat al-Hasyr ayat 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Hasyr (59):  10]

Berdasarkan ayat al-Qur;an dan Hadits-Hadits di atas, para ulama telah bersepakat bahwa do’a dan perbuatan baik yang diperuntukkan bagi mayit akan sampai dan bermanfaat baginya. Bahkan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah memfatwakan sebagai berikut : “Barang siapa berkata bahwa do’a atau perbuatan baik yang diperuntukkan bagi mayit, pahalanya tidak sampai kepadanya maka mereka adalah termasuk ahli bid’ah”[3].

  1. Agama Islam juga menyarankan kepada keluarga mayit agar beramal shaleh dan bershadaqah atas nama mayit, meng-qadha’ ibadah haji yang telah wajib atas mayit tetapi sewaktu hidup belum dilaksanakan dan sebagainya. Semua pahala amal shalih yang diperuntukkan bagi mayit akan sampai dan bermanfaat baginya. Hal ini didasarkan pada hadits shahih yang diriwiyatkan Imam Ahmad bin Hambal dari ‘Aisyah RA[4] :

“Dari ‘Aisyah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulallah SAW : ‘Sesungguhnya ibuku telah wafat secara mendadak. Saya yakin jika beliau berkesempatan untuk berbicara pasti akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapat pahala jika aku bershadaqah atas nama dia?’ Rasulallah SAW menjawab : “Ya”.

  1. Para ulama berbeda pendapat tentang perlu atau tidaknya meng-qadla’ atau membayar fidyah sebagai ganti terhadap shalat yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah wafat. Perbedaan pendapat ini disebabkan karena tidak adanya satu pun nash al-Qur’an atau Hadits yang secara sharih (jelas) menerangkan masalah ini. Yang dijelaskan di dalam al-Qur’an adalah fidyah puasa bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya karena tua renta atau sakit yang kronis sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 184 :

… وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١٨٤)

(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. [QS. Al-Baqarah (2) : 184]

Menurut  Jumhur Ulama, termasuk Syekh Zainuddin al-Malibari pengarang kitab Fathul Mu’in, bahwa jika ada orang yang sudah wafat mempunyai hutang Shalat Fardlu, maka tidak perlu di-qadla’ atau dibayarkan fidyah-nya. Sementara itu menurut sebagian ulama seperti as-Subki dan Ibnu Burhan berpendapat, bahwa jika ada orang yang sudah wafat mempunyai hutang shalat Fardlu, maka supaya dibayarkan fidyah-nya jika mayit meninggalkan harta benda (tirkah). Pendapat ini didukung oleh para pengikut Madzhab Hanafi. Mereka berpendapat, jika ada orang sudah wafat mempunyai hutang Shalat dan Puasa, maka supaya dibayar fidyah-nya kepada kaum fakir miskin. Pembayaran fidyah tersebut diambilkan dari harta peninggalan mayit (tirkah) atau dari harta keluarganya. Keterangan ini dapat dibaca dalam kitab I’anatut Thalibin sebagai berikut[5] ;

من مات و عليه صلاة فلا قضاء و لا فدية و فى قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخارى و غيره. و من ثم إختاره جمع من أئمتنا و فعل به السبكي عن بعض أقاربه

“Barangsiapa wafat dan dia masih mempunyai hutang shalat, maka tidak perlu di-qadla’ dan atau dibayarkan fidyah-nya. Menurut sebagian pendapat para imam mujtahid, bahwa shalat tersebut harus di-qadla’. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan yang lain. Sehubungan dengan hal itu, sebagian ulama kita (madzhab Syafi’i) memilih pendapat ini, bahkan Imam as-Subki mempraktekkannya sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan oleh salah seorang kerabatnya”

Sehubungan dengan perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh diatas, Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta memilih pendapat ulama yang menyatakan bahwa shalat yang telah ditinggalkan mayit sewaktu masih hidup dapat di-qadla’ atau diganti dengan membayar fidyah. Sungguh pun demikian, bukan berarti orang yang masih hidup boleh meninggalkan shalat untuk digantikan dengan membayar fidyah atau berwasiat kepada keluarganya agar sesudah wafat, shalat-shalat yang ditinggalkannya di-qadla’ atau dibayar dengan fidyah.

Jakarta, 19 Dzulqa’dah 1420H.

25 Pebruari 2000 M.

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

[1]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, al-Jami as-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut : Dar al-Fikr, 1987), Juz ke-1, hal. 418, no. 1183

[2]Abi Daud Sulaiman, Sunan Abi Dawud, (Beirut : Dar al-Fikr, tth.), Juz ke-3, hal.215, no.3221.

[3]Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, (Beirut : al-Maktab al-Islami, 1978), Jilid 24, hal. 306

[4]Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, (Beirut : al-Maktab al-Islami, 1978, Juz ke-6, hal. 51, no. 24296.

[5]Sayid Bakri Muhammad Syatho, Hasyiah ‘Ianatut Thalibin  Ala Halli Alfadz Fath al-Mu’in Lisyarh Qurrat al-A’in, (Beirut : Dar al-Fikr, tth.), Juz ke-1, hal. 24. Lihat juga, Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami Wa Adilatuhu, (Beirut : Dar al-Fikr, 1999), Juz ke-2, hal 134-135.

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top