Home Artikel Fatwa Tata Cara Shalat Tahiyyat Al-Masjid

Fatwa Tata Cara Shalat Tahiyyat Al-Masjid

10
0
sumber foto: www defendthemodernworld com

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 5 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 11 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Tata Cara Shalat Tahiyyat al-Masjid[1], setelah :

Menimbang:

  1. Bahwa dewasa ini, semangat umat Islam untuk melakukan shalat sangat tinggi, sehingga banyak masjid yang tidak mampu menampung jamaah, terutama jamaah shalat Jum’at.
  1. Bahwa untuk menampung jamaah yang ingin melaksanakan shalat, maka di kantor-kantor, perusahaan-perusahaan, dan hotel-hotel yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, banyak yang memfungsikan sebagian ruangannya untuk tempat shalat (mushala), termasuk untuk shalat Jum’at.
  1. Bahwa sebagian jamaah menduga (berasumsi), bahwa ruang shalat (mushala) tersebut memiliki kedudukan yang sama dengan masjid sehingga mereka melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid di mushala-mushala yang ada di kantor-kantor, perusahaan-perusahaan, dan hotel-hotel.
  1. Bahwa untuk meluruskan pemahaman sebagian umat Islam tersebut, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Tata Cara Shalat Tahiyyat al-Masjid.

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 5 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 11 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Tata Cara Shalat Tahiyyat al-Masjid.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Setiap muslim yang masuk ke dalam masjid, sebelum duduk disunnahkan untuk melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid sebanyak dua rakaat. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, sebagai berikut: [2]

“Apabila salah seorang dari kamu masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia melaksanakan shalat dua rakaat sebelum ia duduk”.

  1. Setiap muslim yang masuk ke dalam masjid disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid, dengan syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Tempat atau bangunan yang dipergunakan untuk shalat, benar-benar merupakan masjid. Definisi masjid menurut istilah agama Islam adalah setiap tanah atau bangunan yang dikhususkan untuk tempat shalat, baik yang digunakan untuk shalat Jum’at atau tidak. Apabila digunakan untuk shalat Jum’at maka disebut masjid jami’ dan jika tidak, disebut masjid ghairu jami’.

المسجد ما جعل موضعا للصلاة أرضا كان أو بناء فإن أقيمت فيه الجمعة فهو مسجد جامع و الا فغير جامع

“Masjid adalah tanah atau bangunan yang dikhususkan untuk tempat shalat, baik yang digunakan untuk shalat Jum’at atau tidak. Apabila digunakan untuk shalat Jum’at maka disebut masjid jami’ dan jika tidak, disebut masjid ghoiru jami”.

 

Berdasarkan definisi masjid di atas, maka seseorang yang melaksanakan shalat fardlu, menghadiri shalat Jum’at atau shalat Idul Fitri di tempat-tempat shalat jamaah yang bukan masjid, seperti aula kantor, perusahaan, sekolah, lapangan dan lain-lain yang belum dikhususkan untuk tempat shalat, tidak disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid (penghormatan kepada masjid) karena tempat-tempat tersebut tidak termasuk masjid sehingga tidak ada penghormatan padanya. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:[3]  “Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat pada hari ‘Id (di Jabannah, yaitu mushala al-‘Id di lapangan) dua rakaat. Beliau tidak sembahyang sebelumnya tidak pula sesudahnya”.Demikian juga disebutkan dalam Kitab al-Qulyubi Jilid I, halaman 280:

و لا يصلى فى غير مسجد لعدم التحية

“Seseorang tidak boleh melaksanakan shalat tahiyyat masjid selain di masjid, karena tidak ada penghormatan selain di masjid”. Sungguh pun demikian, jika seseorang yang memasuki tempat-tempat shalat jamaah selain masjid baru saja selesai berwudhu, maka ia disunnahkan melaksanakan shalat sunnah wudhu, selama imam belum memulai kegiatan, baik untuk shalat berjamaah atau menyampaikan khutbah. Jika imam telah memulai shalat berjamaah, maka ia disunnahkan langsung melaksanakan shalat berjamaah bersama-sama imam. Sedangkan jika imam telah memulai menyampaikan khutbah, maka ia diperintahkan ishmat, yaitu diam untuk mendengarkan khutbah dan dilarang mengadakan kegiatan apapun, termasuk melaksanakan shalat sunnah wudhu.

  1. Ketika ia memasuki masjid, imam belum memulai kegiatan shalat berjamaah. Jika imam telah memulai shalat berjamaah atau bersiap-siap untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka ia tidak lagi disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid, melainkan langsung melaksanakan shalat berjamaah bersama-sama imam. Jika saat memasuki masjid imam sudah mulai berkhutbah, maka ia tetap disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid dua rakaat secara cepat dan singkat. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Jabir RA. sahabat Jabir RA berkata: Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid ketika Nabi sedang menyampaikan khutbah Jum’at. Maka nabi menegurnya, “Apakah kamu sudah shalat?” Laki-laki tersebut menjawab “Belum”. Maka Nabi pun bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat”[4]: “Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Seorang laki-laki datang pada saat Nabi SAW sedang menyampaikan khutbah pada hari (shalat) Jum’at. Nabi lalu menegur laki-laki itu “Sudahkah kamu shalat, hai Fulan?” ia menjawab, “Belum”, lantas Nabi bersabda, “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat dengan cepat (singkat)”.

 

  1. Jika seseorang yang masuk ke dalam masjid langsung melaksanakan shalat fardlu atau shalat-shalat sunnah yang lain, maka shalat-shalat tersebut secara otomatis juga berfungsi shalat Tahiyyat al-Masjid, di samping shalat-shalat yang diniatkan. Karena tujuan utama disyari’atkannya shalat Tahiyyat al-Masjidadalah agar seseorang yang memasuki masjid menghormatinya dengan melaksanakan shalat. Jika ia langsung melaksanakan shalat fardlu atau shalat-shalat sunnah yang lain, maka berarti ia telah menghormati masjid. Dengan demikian, tujuan utama disyari’atkannya shalat Tahiyyat al-Masjidtelah terpenuhi.
  1. Jika seseorang yang masuk ke dalam masjid langsung duduk, tanpa melaksanakan shalat Tahiyyat al-Masjid atau shalat-shalat yang lain, maka sebagai gantinya ia disunnahkan membaca dzikir sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Agung. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung”.

  1. Shalat Jum’at yang dilaksanakan di luar masjid, seperti ruang perkantoran, perusahaan, kampus, dan sebagainya hukumnya sah sepanjang syarat-syarat lain yang diperlukan di dalam melaksanakan ibadah shalat Jum’at terpenuhi.

Jakarta, 5 Dzulqa’dah 1420H.

11 Pebruari 2000M.

 

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

 

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

Lampiran:

Penjelasan Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta

 tentang Shalat Tahiyyat al-Masjid

 

Dewasa ini banyak jamaah mengadakan shalat Jum’at bukan di masjid, seperti di aula kantor-kantor, bank, sekolah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, maka Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta perlu mengeluarkan pendapat sebagai penjelasan kepada jamaah yang bersangkutan untuk diketahui dan diperhatikan sebaik-baiknya.

  1. Ta’rif / Definisi Masjid

Masjid menurut istilah agama Islam adalah:

المسجد ما جعل موضعا للصلاة أرضا كان أو بناء فإن أقيمت فيه الجمعة فهو مسجد جامع و الا فغير جامع

“Masjid adalah tanah atau bangunan yang dikhususkan untuk tempat sembahyang pada-Nya. Maka apabila digunakan untuk shalat Jum’at maka disebut masjid jami’ dan jika tidak, maka disebut masjid ghoiru jami’.

 

Pada keduanya berlaku hukum kehormatan masjid, seperti sunnah bersembahyang di tahiyyat al-masjid bagi yang masuk di dalamnya, sah i’tikaf di dalamnya, dilarang wanita yang sedang haid masuk dan lain sebagainya”.

  1. Pengertian Mushala di Zaman Rasul dan Sekarang

Mushala di zaman Rasul adalah mushala ‘Id, yakni lapangan luas yang digunakan untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi berbeda dengan pengertian masyarakat kita sekarang, ialah masjid yang tidak dipakai untuk shalat Jum’at yang disebut mushala. Lain halnya di zaman Rasul seperti Masjid Qiblatain, Masjidul Fatah, Masjid Salman, Masjid Jin dan lain-lainnya. Meskipun semuanya itu tidak dipergunakan untuk shalat Jum’at, tetapi namanya tetap masjid.

  1. Shalat Sunnat Tahiyyyat Masjid

Bagi setiap muslim yang masuk ke masjid baik yang dipakai shalat Jum’at atau yang tidak, disunnatkan shalat Tahiyyat Masjid dua rakaat sebelum ia duduk. Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

و اذا دخل أحدكم المسجد فليصل ركعتين قبل أن يجلس

“Apabila salah seorang dari pada kamu ke masjid, maka hendaklah ia bersembahyang dua rakaat sebelum ia duduk”. Dan yang dimaksud di sini ialah shalat Tahiyyat Masjid. Kecuali ia masuk ke masjid pada waktu imam sedang shalat jamaah atau akan memulai shalat jamaah, maka ia langsung saja shalat berjamaah bersama-sama imam. Lain halnya apabila ia masuk ke masjid di waktu imam sedang berkhutbah, maka kepadanya diperintahkan bersembahyang dua rakaat yang singkat dan ringan, berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Jabir RA, ia berkata: “Seorang laki-laki pada hari Jum’at masuk ke masjid padahal Nabi sedang berkhutbah, maka Nabi menegurnya dengan berkata: Apakah kamu sudah shalat? Maka dijawabnya; belum, maka Nabi bersabda: “Bangunlah bersembahyang dua rakaat yang ringan (singkat)”.

  1. Shalat Tahiyyat Masjid di Tempat Berjamaah yang Bukan Masjid

Adapun bagi orang yang dating menghadiri shalat berjamaah di tempat jamaah yang bukan masjid; seperti di aula kantor, bank, sekolah dan lain-lain yang belum dikhususkan untuk tempat shalat maka tidak disunnahkan shalat Tahiyyat Masjid. Mengapa demikian? Karena tidak ada kehormatan masjid padanya. Dalilnya adalah sebagai berikut:

  1. Hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْعِيْدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas RA bahwasannya Nabi SAW bersembahyang pada hari ‘Id (di jabannah yaitu mushala ‘Id di lapangan) dua rakaat. Beliau tidak sembahyang sebelumnya dan tidak pula sesudahnya”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah.

  1. Dari Kitab Qulyubi jilid I halaman 280:

و لا يصلى فى غير مسجد لعدم التحية

“Dan tidak boleh sembahyang (tahiyyat masjid) di bukan masjid, karena tidak ada tahiyyatnya”.

Tapi bagi orang yang baru selesai berwudlu, boleh saja ia shalat sunnah wudhu selama belum ada kegiatan imam. Adapun jika imam sudah mulai berkhutbah, maka yang diperintah hanya inshaat yaitu diam mendengarkan khutbah dan dilarang mengadakan kegiatan apapun juga

  1. Orang yang masuk masjid dan terus menghadapi kegiatan shalat fardlu ataukah shalat-shalat sunnah yang lain, maka shalat itu selain berfungsi sebagaimana dimaksud juga berfungsi sebagai shalat tahiyyat masjid.
  1. Kedudukan Hukum Shalat Jum’at Bukan di Masjid

Shalat Jum’at bukan di masjid hukumnya sah apabila mencukupi syarat-syarat lain yang diperlukan di dalam melaksanakan ibadah shalat Jum’at.

Demikianlah penjelasan ini disusun dengan ikhlas. Semoga bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.

Jakarta, 16 Dzulqa’dah 1397 H.

19 Oktober 1977 M.

DEWAN PIMPINAN

MUI PROVINSI DKI JAKARTA

Ketua I,

ttd

 

KH. RAHMATULLAH SIDDIQ

 

 

Sekretaris Umum,

ttd

 

H. GAZALI SYAHLAN

[1]Fatwa ini merupakan penyempurnaan atas penjelasan MUI DKI Jakarta tanggal 6 Dzulqa’dah 1397 H bertepatan pada tanggal 19 Oktober 1977 M yang ditandatangani oleh KH. Rahmatullah Shiddiq dan H. Gazali Syahlan, penjelasan terlampir.

[2]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, al-Jami’ as-Shahih al-Mikhtashar, (Beirut: Dar al-Fikr, 1987), cet. Ke-3, juz ke-1, hal. 170, no. 453. Lihat juga, Abi Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, al-Jami’ as-Shahih, (Makah: Isa Baby al-Halabi, 1955), juz ke-1, hal. 496, no.714.

[3]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, op.cit., juz ke05, hal. 2207, no. 5544.

[4]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, op.cit., juz ke-1, hal. 315, no. 888.