Home Artikel Haji dan Niat Ibadah yang Revolusioner

Haji dan Niat Ibadah yang Revolusioner

15
0

Allah tidak melihat anda berhaji reguler atau berhaji plus. Allah tidak menimbang anda jamaah haji golongan menengah atas atau bawah, jamaah haji dari kalangan pejabat atau pun rakyat.

 

Oleh: A. Muaz

Redaktur Majalah Info Ulama MUI DKI Jakarta

 

Dalam buku masyhur bertajuk Haji, Dr. Ali Syariati memaknai niat berhaji seperti ini: “Sebelum memasuki Miqat, yang merupakan titik awal sebuah perubahan dan revolusi yang besar ini, anda harus menyatakan niat. Apa saja yang harus anda nyatakan? Anda harus menyatakan niat meninggalkan (hijrah) dari rumah anda menuju rumah umat manusia; meninggalkan hidup untuk memperoleh Cinta; meninggalkan keakuan untuk berserah diri kepada Allah; meninggalkan penghambaan untuk memperoleh kemerdekaan; meninggalkan diskriminasi rasial untuk mencapai kesetaraan, ketulusan, dan kebenaran; meninggalkan pakaian untuk bertelanjang; meninggalkan hidup sehari-hari untuk memperoleh kehidupan yang abadi dan meninggalkan sikap egoisme dan hidup tak berarah-tujuan untuk menjalani kehidupan penuh bakti dan tanggung jawab. Ringkasnya: peralihan ke dalam keadaan “ihram”…Jadi niat anda itu harus anda tegaskan. Dengan api cinta, terangilah hati anda sehingga ia bersinar. Lupakanlah segala sesuatu mengenai diri anda. Di masa sebelumnya, hidup anda penuh dengan “kelengahan” dan “kebodohan”…Bahkan dengan pekerjaan anda sendiri, anda menjadi budak, entah itu bekerja karena kebiasaan atau karena terpaksa. Sekarang tinggalkanlah pola kehidupan demikian. Milikilah “kesadaran” yang sebenar-benarnya mengenai Allah yang Maha Besar, manusia, dan diri anda sendiri. Ambillah tugas yang baru, arah yang baru, dan “keakuan” yang baru.” (Pustaka, 16: 2005)

Ya, ibadah apa pun, niat adalah hal terpenting dalam menunaikan senarai perintah dan titah Allah.  Ia faktor penentu. Perkara utama. Bahwa ibadah seorang hamba bisa sah atau tidak dapat ditilik dari niatnya; ibadah seorang Muslim bisa berbuah pahala atau tidak dapat ditelisik melalui niatnya. Dalam hadits, Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya amal ibadah itu bergantung pada niatnya”. Dari hadits tersebut kemudian tercetus kaidah fiqih dengan redaksi yang serupa. Ada pula kaidah fiqih lain dengn maksud dan makna yang tak jauh berbeda: Al-umuru bimaqasidaha (Segala perkara berpijak pada niat dan tujuannya).

 

Dan niat berhaji, agaknya, bukan sekadar berelasi secara vertikal (hablum minallah, hubungan hamba dengan Tuhannya),  horizontal (hablum minnas, hubungan hamba dengan manusia lainnya), tapi juga semacam ibadah “revolusioner” seorang hamba selama di dunia. Dalam haji, sejak dini, sejak jamaah haji memancangkan niat di miqat-miqat yang sudah ditentukan, ia sudah dituntut belajar mematikan syahwat jasadnya dan menghidupkan kebutuhan-kebutuhan ruhaninya. Ia sudah serupa jenazah yang dituntut mempertanggungjawabkan laku-lampah ibadahnya secara langsung. Bukankah tak aneh, kita kerap mendapati kisah-kisah personal dan mistikal dari mereka yang pernah berhaji?

Itu artinya, haji adalah semacam “latihan” seorang Muslim untuk menghadapi Hari Pengadilah kelak. Pada momen  hajilah, yang merupakan puncak rukun Islam, kita diingatkan kembali siapa sejatinya eksistensi kita sejak pertama kali diciptakan. Manusia yang tidak lain hanya diminta bersaksi: ya kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami (QS. 7: 172), bukan “tuhan-tuhan” lain yang kerap kami berhalakan; tuhan karir, tuhan jabatan, tuhan keluarga, tuhan pencitraan dan seterusnya.

Tak aneh, momen ibadah haji sejak niat itu diikrarkan di miqat-miqat menjadi milestone seorang Muslim, batu pijakan mengenali kembali siapa sebenarnya dirinya di mata Ilahi. Hanya manusia. Hanya hamba yang tak memiliki apa-apa. Tanpa embel-embel status. Tanpa gelar ini-itu. Dan sebagainya dan lain-lainnya yang membuatnya merasa lebih dibanding manusia lainnnya. Ia harus menyadari posisi haji itu: medan siapa sebenarnya yang benar-benar dianggap layak menjadi hamba-Nya. Allah tidak melihat anda berhaji reguler atau berhaji plus. Allah tidak menimbang anda jamaah haji golongan menengah atas atau bawah; anda jamaah haji dari kalangan pejabat atau rakyat. Yang Dia lihat seberapa besar anda menghancurkan sekat-sekat material yang selama ini membebat anda.

Bayangkan seolah-seolah anda nihil, kosong, dan ingin berubah total menjadi manusia baru di momen niat berhaji ini. Pada poin inilah, mafhum bila niat haji adalah niat revolusi akbar seperti yang diterakan Ali Syariati di atas. Implikasi niat merevolusi diri dalam haji ini sungguh signifikan bagi sukses tidaknya rangkaian ibadah haji anda selanjutnya; anda bisa mendapat gelar mabrur atau mardud dari kesungguhan niat anda berhaji, anda bisa bermetamorfosa menjadi hamba yang bersih dan bersinar atau hamba yang keruh dan gagal dari kesungguhan niat haji anda. Sederhana melihat buktinya. Tengok sebagian jamaah haji kita yang selepas berhaji malah kembali melakukan maksiat dan kemunkaran hingga merugikan diri dan orang banyak. Untuk itulah, hemat penulis, bagi anda yang tengah berhaji, belum terlambat untuk meluruskan niat kembali. Bertaubatlah selagi di sana. Dan bagi anda yang belum berhaji, semoga berazam untuk berhaji dengan niat yang revolusioner. Wallahua’lam bilshawab. (Naskah ini pernah dimuat dalam Lembar Dialog Jumat, HU Republika/25/08/2017)