HUKUM MEMBUDIDAYAKAN CACING

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 19 Syawwal 1420 H, bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2000 M, yang membahas tentang Hukum Membudidayakan Cacing denganmenggunakan cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palem) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan yang diajukan oleh ketua AVTECH Indonesia d.a.Gedung 410 Kawasan Puspitek Serpong Tangerang Jawa Barat melalui suratnya Nomor 0011/PrOM/AVTECH/01/00 tertanggal 19 Januari 2000, setelah ;

Menimbang:
1. Bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini telah memungkinkan manusia mendayagunakan ciptaan Allah SWT secara optimal sehingga hal-hal yang mustahil dilakukan oleh manusia beberapa puluh tahun yang lalu, kini dapat mereka lakukan.

2. Bahwa salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan ciptaan Allah SWT secara optimal berkat pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah pembudidayaan cacing dengan menggunakan cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palem) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan.

3. Bahwa sebagian umat Islam mempertanyakan boleh tidaknya pembudidayaan cacing dengan menggunakan cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palm) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan ditinjau dari sudut hukum Islam.

4. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hukum pembudidayaan dengan menggunakan cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palem) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan, maka MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang hukum masalah yang dimaksud ;

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 19 Syawwal 1420 H, bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2000 M, yang membahas tentang Hukum Membudidayakan Cacing dengan menggunakan cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palem) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan yang diajukan oleh ketua AVTECH Indonesia d.a.Gedung 410 Kawasan Puspitek Serpong Tangerang Jawa Barat melalui suratnya Nomor 0011/PrOM/AVTECH/01/00 tertanggal 19 Januari 2000.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:

1. Bahwa hukum pembudidayaan cacing adalah termasuk masalah ijtihadiyah karena tidak ada nash al-Qur’an atau nash al-Hadits yang secara shahih (jelas dan tegas) menjelaskan hukum masalah ini. Hal ini dapat dipahami karena pembudidayaan cacing termasuk kasus baru yang belum pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.

2. Bahwa menurut hasil ijtihad (analisa) Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta, bahwa hukum pembudidayaan cacing yang akan dipergunakan untuk membuat suatu produk obat, antibiotik, pakan ternak dan lain-lain adalah HALAL, sepanjang tidak menimbulkan bahaya (madharat). Apalagi pembudidayaan tersebut menggunakan bahan-bahan yang halal seperti cocopeat atau palmpeat (serbuk serabut kelapa atau serbuk serabut batang palem) sebagai media dan passing (hasil olahan ampas singkong) sebagai pakan. Diantara argumentasi dan dalil-dalil yang menunjukkan halalnya pembudidayaan cacing dengan pola di atas adalah sebagai berikut :

a. Budidaya cacing adalah termasuk masalah al-maskut ‘anhu (tidak dijelaskan hukumnya secara tegas) oleh al-Qur’an atau as-Sunnah. Oleh karena itu, sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudharat) hukumnya adalah mubah (halal). Karena pada dasarnya segala ciptaan Allah SWT yang ada di langit dan di bumi adalah diperuntukkan bagi manusia, sehingga halal bagi mereka. Seperti telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surat al-Jatsiyah ayat 13 :

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.
Demikian pula sabdaRasullah SAW yang diriwayatkan Imam ad-Daruquthni, sebagai berikut ;
سَمِعْتُ مِنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ رَضِيَ الله عَنْهَا لَقَالَ رَسُوْلُ الله -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ- « إِنَّ الله افْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا وَ حَدَّ لَكُمْ حُدُوْدًا فَلَا تَعْتَدُوْهَا و نَهَاكُمْ عَنْ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوْهَا وَ سَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلَا تَكْلَفُوْهَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكُمْ فَاقْبَلُوْهَا »
“……Sesungguhnya Allah telah menentukan beberapa ketentuan maka janganlah kamu menyia-nyiakannya ; dan telah menggariskan beberapa batasan, maka janganlah kamu melampauinya ; dan Dia telah menetapkan beberapa larangan (yang diharamkan), maka janganlah kamu melanggarnya ; dan Dia sengaja mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagimu, maka terimalah dan janganlah kamu menanggungnya”.

Berdasarkan firman Allah SWT dan sabda Rasulallah SAW maka para ulama Ushuliyun merumuskan salah satu kaidah yang menyatakan ;
“Hukum dasar segala sesuatu (yang bermanfaat) adalah mubah (halal)”

b. Budi daya cacing sangat besarmanfaatnya, karena budidaya tersebut dapat dipergunakan untuk menyuburkan tanah, mengatasi masalah sampah, dijadikan bahan kosmetika, obat-obatan, antibiotik, pakan ternak dan lain-lain. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip-prinsip penetapan hukum Islam, dimana salah satu tujuan syari’at hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan. Sehubungan dengan banyaknya manfaat dalam pembudidayaan cacing, maka hal ini dihalalkan bahkan sah diperjual-belikan. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama sebagai berikut ;

وَ يَصِحُ بَيْعُ الحَشَرَاتِ وَ الهَوَامِ كَالحَيَاةِ وَ العِقَارِبِ إِذَا كَانَ يَنْتَفَعُ بِهِ، وَ الضَابِط عِندهم (اى المالكية) اَنَ كُلَ مَا فِيْهِ مَنفَعَةٌ تَحِلُ ِشَرْعًا لأَنَّ الأَعْيَان خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ الاِنْسَانِ بِدَلِيْلٍ قَوْلِهِ تَعَالَى: “هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيْعًا….”

“Dan sah menjual binatang melata seperti ular dan kalajengking sepanjang dapat dimanfaatkan.Ketentuan menurut Madzhab Maliki, bahwa segala sesuatu yang bermanfaat halal diperjual-belikan. Karena pada dasarnya semua benda adalah diciptakan untuk dimanfaatkan manusia. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT. “Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi.”

Jakarta, 14 Syawwal 1420 H.
26 Januari 2000 M

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

       Ketua,                                                                    Sekretaris,

ttd                                                                               ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA               KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                               Sekretaris Umum,

ttd                                                                        ttd

KH. Achmad Mursyidi                            Drs. H. Moh. Zainuddin

Related posts

One Comment;

  1. imron tohari said:

    assalamualaikum,saya mau tanya,itu budidaya cacing itu kan hal baru,dengan landasan iptek bisa dimanfaatkan,trus dianggap halal,nanti kalau dengan perkembangan teknologi bisa memanfaatkan bangkai ataupun kotoran manusia,trus apa dihalalkan juga?jelas2 cacing itu menjijikkan.

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top