Islam dan Bisnis Properti

Oleh: Robi Nurhadi, PhD

Sekretaris Komisi Litbang MUI Provinsi DKI Jakarta

Rumah DP nol persen yang akan direalisasikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 memberikan kebahagiaan tersendiri bagi warga Jakarta yang belum memiliki rumah. Sebenarnya, bukan perkara sulit untuk menyediakan rumah DP nol persen karena beberapa pebisnis properti sudah melakukannya.

Dikarenakan bisnis properti itu seperti bisnis tambang yang mudah, dan relatif lebih humanis. Ia begitu melimpah dengan angka rupiah yang tidak sedikit, tetapi hampir semua orang memerlukannya. Tambang juga melimpah, tetapi belum tentu semua orang memerlukannya. Sayangnya, ada beberapa anomali dalam dunia properti ini, terlebih lagi dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.

Saya ingin mulai dari anomali yang umum. Pertama, soal konsumen dan produsen yang senjang. Hampir semua memerlukan, tetapi sedikit sekali penyedianya. Dalam teori ekonomi, ia dilihat dalam kesenjangan supply and demand. Akibatnya, harga rumah selalunya menjadi fantastis, alias sulit terjangkau. Akibat turunannya, banyak orang mengalami tunawisma (ketiadaan rumah untuk dimiliki atau ditempati). Kehadiran kebijakan pemerintah yang mensubsidi rumah, mulai dari kredit kontruksi hingga ke kredit kepemilikan, lumayan menjadi solusi yang menarik meski masih mengalami keterbatasan-keterbatasan.

Anomali kedua, terkait dengan harga material rumah yang sebenarnya menjadi masalah. Barang-barang yang menjadi bahan baku rumah sebenarnya bukan barang yang susah didapatkan, seperti batu, tanah atau pasir, kayu, dan lain sebagainya. Kalau toh semen menjadi barang yang agak mahal, itu juga adalah hal yang anomali. Bahan bakunya tersedia banyak, dan banyak badan usaha milik Negara yang menjadi produsennya. Mestinya kan menjadi tetap murah. Tapi toh kenyataannya harga rumah tetap mahal. Faktor tenaga kerja? Realitanya, untuk rumah subsidi atau menengah tidak memerlukan teknologi yang canggih, yang untuk membelinya perlu rupiah yang banyak. Teknologi pembuatan rumah relatif tradisional. Bahkan tukang dan pembatu tukangnya rata-rata orang dari kampung dengan honor per hari yang standar. Lalu kenapa ia menjadi mahal? Inilah anomalinya.

Anomali yang ketiga adalah kita mengetahui bahwa yang ingin memiliki rumah itu semua warganegara Indonesia dengan segala keunikannya, mulai dari pengetahuannya hingga cara mereka memperoleh pendapatannya. Tetapi kita juga tahu bahwa untuk memiliki rumah, para penyedia rumah dan pihak ketiga terutama lembaga keuangan, seringkali menetapkan persyaratan kepemilikan rumah (baca: mendapatkan kredit kepemilikan rumah) yang rumit, atau seperti tidak membaca demand yang besar dengan segala keunikannya tadi. Alhasil, anomali terjadi. Arus kepemilikan rumah di Indonesia mengalami bottle neck, macet. Korbannya adalah mereka yang justru menjadi penyelamat ekonomi negeri ini, seperti petani, nelayan, para pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM) dan sejenisnya. Mereka tidak punya slip gaji, dan persyaratan formal lainnya, tetapi mereka riil hadir dan eksis di tengah perekonomian kita. Dunia seperti itu, saya sebut sebagai kenyataan gagal faham. Kepemilikan rumah tidak lagi menjadi tanggungjawab Negara dengan segala hulubalangnya seperti Bank, dan lain sebagainya. Mereka bergerak dan memiliki rumah, bagaikan pesawat autopilot di tengah turbulensi kapitalisme. Anomali untuk sebuah cita-cita Negara kesejahteraan.

Anomali yang keempat adalah soal siklus usaha properti saat ini, yang merupakan anomali dari sebuah kegelapan pengetahuan kita tentang bagaimana mendapatkan properti yang sebaiknya. Dunia ini dimulai dengan peluang besarnya kebutuhan akan rumah dari sejumlah besar orang yang ada di suatu Negara. Mereka yang perlu rumah itu punya uang, hanya mereka tidak tahu bagaimana kolektivitas mereka bisa menghasilkan rumah murah untuk mereka. Karena tidak tahu, maka komedi-putar pun terjadi. Yang disediakan terlebih dahulu adalah Bank atau lembaga keuangan untuk menyedot uang. Hanya dengan modal sekian ditambah dengan iming-iming hadian mobil mewah, dana para pengingin rumah pun terkumpul. Dana itu digunakan untuk membeli tanah. Lalu tanah diagunkan ke pihak lain seperti bank, atau lembaga keuangan lainnya. Maka uang yang didapat digunakan untuk membangun. Bangun rumah dengan kredit, menjual rumah juga dengan para pembeli yang menggunakan jasa kredit. Jadi beli tanah dengan kredit, bangun rumah dengan kredit, dan beli rumah dengan kredit. Jadi, harga rumah yang dibeli oleh masyarakat merupakan harga sebenarnya yang saya paparkan di atas ditambah dengan kredit pangkat tiga. Terlihat dalam alur tersebut, bagaimana banyak pihak yang bukan pemilik kebutuhan rumah mengambil keuntungan. Akibatnya, harga rumah menjadi bengkak. Ini anomali yang harus segera diakhiri.

Bagaimana Islam melihat anomali dunia properti ini? Pertama, Islam selalu mengedepankan tentang pentingnya niat yang harus baik dalam menginginkan rumah dan menyediakan rumahnya: innamal a’maalu binniat. Kedua, kekuatan memegang komitmen akan nilai-nilai yang melandasi proses kerjasama dalam interaksi penyedia rumah dengan yang menginginkan kepemilikan rumah: wata’awanu ‘alal birri wattaqwaa, wala ta’awanu ‘alal ismi wal udwan. Islam menggarisbawahi pentingnya kerjasama dalam kebaikan dan berlomba untuk saling memberi kebaikan. Kebaikan dalam konteks kepemilikan rumah adalah kebaikan untuk saling menopang antara penyedia dengan yang ingin memiliki rumah. Dengan begini maka, Islam tidak menyarankan adanya pihak ketiga yang mengambil keuntungan dalam bentuk riba (kelebihan dari nilai asal yang sepihak dan mendzalimi). Dunia kepemilikan properti saat ini, menghadirkan pihak ketiga dalam tiga fase sebagaimana saya paparkan di atas. Kedzaliman ada, tapi tidak terasa. Kedzaliman ada, tapi terpaksa diterima pembeli. Belum lagi ada kedzaliman lain yang melibatkan banyak pihak namun tidak terasa, karena banyak yang belum mengetahuinya.

Lalu bagaimana seharusnya kita menata dunia baru tentang kepemilikan rumah kita? Kata kuncinya, yaitu ta’awanu ‘alal birri wattaqwaa. Kita harus lihat bahwa rumah merupakan istrumen ketaqwaan, media bagi manusia mendekatkan dirinya untuk taat kepada Allah swt. Semakin banyak yang kita bantu untuk bertaqwa melalui rumah maka semakin banyak kebaikan yang kita perlombakan. Maka, fase berikutnya adalah menghindari perlombaan dalam keburukan yang berdosa, yaitu jangan masuk ke dalam mekanisme kedzaliman pangkat tiga yang saya sebut di atas. Bagaimana caranya, uang kita jangan diputar ke para pihak melalui skema lembaga keuangan yang berbasis pemberi riba. Konsekuensinya kita memang harus bekerjasama secara berjamaah untuk menyediakan rumah kita dengan bantuan lembaga yang ahli dan berpengalaman dalam penyediaan rumah. Dengan demikian, setiap orang, baik itu Muslim ataupun bukan, sangat mungkin memiliki rumah dengan harga murah. Kata kuncinya, ada gotong-royong dan kesukarelaan yang profesional. ***

 

Top