Jalin Ukhuwah, Raih Mardhatillah !
The news is by your side.

KH. Nurhasyim Subadi: “Eksistensi diaspora Muslim Indonesia di Eropa masih kurang terdengar…”

0

Bersama dengan Jurjen Aandewiel, KH. Nurhasyim Subadi menjadi pembicara dari Belanda pada Jakarta International  Islamic Conference (JAIIC), Jakarta,  30 November-1 Desember  2016 lalu. Dalam konferensi  internasional yang diadakan MUI DKI Jakarta tersebut, lelaki kelahiran Kudus ini memang bukan warga negara Belanda, namun pengalamannya berdakwah di Belanda sungguh tidak bisa diragukan lagi. Pasalnya, kyai yang kini menjabat  Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Belanda ini sudah makan asam garam selama tinggal di Belanda. Ia menempuh magister, bekerja, dan banyak berdakwah di negeri  kincir angin tersebut. Tak aneh, bila ia didaulat panitia JAIIC membincang ihwal dakwah di Belanda bersama Jurjen. Lebih-lebih, saat ini, ia adalah petugas Konsuler di KBRI di Denhaag, Belanda. Berikut ceramahnya seputar  tantangan dan solusi dakwah di Belanda.

 

Tantangan dan Solusi Dakwah Aswaja di Belanda

Belanda merupakan negara di Eropa yang terkenal dengan warga negaranya yang terbuka (open society). Keterbukaan Belanda ini bersandar pada keadilan, kebebasan, dan hak asasi manusia. Hal ini membuat Belanda termasuk negara yang ramah dan diminati pendatang (migrants) dari berbagai penjuru dunia. Sebagian dari mereka beragama Islam sehingga kehadiran mereka berkontribusi pada keragaman di Belanda dari makanan sampai tradisi yang mereka bawa dari negara asal. Belanda sebagai sebuah negara sekuler yang memberi ruang warganya (termasuk pendatang) untuk berekspresi, berorganisasi, dan berpolitik. Hal ini membuat para pendatang yang beragama Islam dapat beribadah dan mendapat izin mendirikan rumah ibadah secara leluasa. Hal ini merupakan berkah yang tidak terhingga bagi mereka.

Interaksi antar pendatang muslim dan warga Belanda memberi peluang bagi warga Belanda untuk mengenal Islam dari individu muslimnya. Interaksi ini bukan hanya perkenalan bagi mereka tapi juga jalan dakwah bagi muslim di Belanda. Akibatnya, beberapa diantara mereka tertarik dan memutuskan untuk masuk Islam. Proses islamisasi ini terjadi pada umumnya terjadi secara alami tanpa perencanaan dakwah dari umat Islam.

Namun, fakta tentang adanya umat Islam atau oganisasi Islam seperti Negara Islam Suriah dan Iraq (ISIS) yang melakukan kekerasan dan memaksakan keyakinannya kepada orang lain membuat pihak-pihak yang tidak senang dengan keberadaan muslim di Belanda melakukan kampanye anti-Islam. Ini artinya dakwah Islam di Belanda secara garis besar dihadapkan pada dua sisi, dakwah kepada non-muslim dan muslim radikal.

Makalah ini merupakan kumpulan gagasan-gagasan dan kesimpulan dari sarasehan dan workshop diselenggarakan oleh PCINU Belanda bertema Globalising ‘Islam Nusantara’: envisioning Indonesian Muslim diaspora’s role di Amsterdam dan Den Haagpada 17 Januari 2015 yang mencoba memetakan tantangan dan solusi dakwah di Belanda. Pemetaan ini bertujuan memperkenalkan Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai alternatif dan memperbaiki citra Islam di Eropa.

 

Aswaja Berparadigma Global

 

Dalam sebuah sarasehan Aswaja (Ahlussunnah wal jama’ah) yang diselenggarakan para pemuda dan pemudi Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) di sebuah kota kecil di Jawa Timur, pertanyaan jenial ini muncul: bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global? Bukan semata-mata karena yang melontarkannya anak-anak muda yang datang dari desa dan latar belakang keluarga santri yang sederhana. Tetapi juga karena pertanyaan itu datang dari sebuah tempat di pelosok, yang cukup jauh dari hiruk-pikuk keriuhan “politik global” – berbeda bila datang dari kalangan mahasiswa atau warga NU yang berada di luar negeri.

Ada sederet hal yang menjadi kegelisahan anak-anak muda itu, yang diajukan kepada penulis untuk dijawab dalam sesi panel diskusi: bagaimana Aswaja di mata dunia? Bagaimana ber-Aswaja di era globalisasi? Dan pada gilirannya, bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global?

Pertanyaan-pertanyaan yang tak mudah. Pertama, pertanyaan itu melampaui apa yang dipikirkan oleh para tokoh NU yang berjasa merumuskan pemikiran ke-Aswaja-an NU, sebutlah – untuk menyebut generasi mutakhir – Gus Dur atau Kyai Said Aqil Siradj sendiri. (Lagi-lagi kita akan kaget bercampur gembira bahwa pertanyaan itu dilontarkan oleh santri-santri muda NU.) Wacana Aswaja yang menjadi bidang garapan para tokoh tersebut, khususnya Gus Dur (untuk menyebut stadium terakhir dan bentuk paling “kosmopolit” dari wacana Aswaja yang pernah dimunculkan NU), baru berhenti pada ranah negara (bagaimana agama mendapat tempat dalam negara yang bukan negara Islam), dan belum pada ranah antar-negara (inter-states), lebih-lebih antar-bangsa (inter-national). Secara konseptual, dalam berbagai tulisannya, ada fase ketika persoalan-persoalan dunia menjadi perhatian Gus Dur. Yang pertama, secara analogis, yaitu ketika Gus Dur mencoba memandang persoalan-persoalan dunia secara analogis dengan yang terjadi di dalam negeri. Ini fase esai-esai di Tuhan Tidak Perlu Dibela. Selebihnya fase keterlibatan (engagement), yaitu ketika Gus Dur melibati persoalan itu dengan menempatkan keprihatinannya pada titik yang sentral: bagaimana Islam dapat terlibat dalam membangun perdamaian dunia. Tetapi tidak secara khusus tentang Aswaja.

Kedua, pertanyaan itu membuka dimensi yang tidak terpikirkan dalam pemikiran ke-NU-an yang berpijak pada pengalaman lokalitas dan penghayatan atas hal-hal yang familiar dari tradisi setempat. Sangat sulit, jika bukannya “intimidatif”, memaksa seorang warga NU untuk berkomentar tentang suatu dinamika politik di Argentina, atau memintanya menanggapi sebuah penangkapan demonstran di sebuah pawai massa di New York. Hal-hal itu terlalu asing dan jauh dari dunia “kultural”-nya. Praktis pertanyaan itu hanya dapat dilontarkan oleh generasi NU yang lain, yang terikat dengan lokalitasnya namun mengalami pertemuan dengan arus global dan dituntut menanggapinya, sedikit-banyak untuk meredam kontradiksi antara lokalitasnya dan arus baru yang dapat mengasingkannya dari lokalitas itu.

Dan itulah persisnya yang dihadapi anak-anak muda itu, yang mungkin merasakan dunia kini telah menjadi bagian dari kampung halaman mereka yang terdekat.

Untuk memenuhi permintaan mereka, penulis membuat sebuah draf yang berjudul “Aswaja untuk Kekinian: Tantangan Global, Jawaban Lokal”. Untuk merintis suatu pendekatan “global” atas Aswaja, kita mesti menjadikan fenomena global sebagai tantangan. Namun merumuskan tantangan itu saja tidak mudah, karena persoalan-persoalan global yang dihadapi oleh umat manusia hari ini sudah sedemikian kompleks dan berjalin-kelindan dengan persoalan-persoalan struktural yang ruwet dan diferensiasi kehidupan yang kelihatannya terpisah namun terkait satu sama lain. Scott Sernau, dalam Global Problems(2006), menyebut sedikitnya dua belas rumpun persoalan: kelas, kerja, gender dan keluarga, pendidikan, kejahatan, perang, demokrasi dan HAM, etnisitas dan agama, urbanisasi, populasi dan kesehatan, teknologi dan energi, serta ekologi. Sementara Aswaja? Aswaja adalah suatu paradigma beragama. Dapatkah suatu paradigma beragama menjawab sederet persoalan yang penyelesaiannya membutuhkan pendekatan “non-agama”?

Belajar dari kegagalan setiap gerakan yang ingin menjadikan agama sebagai solusi yang tuntas dan instan, maka Aswaja tidak dapat diperlakukan sebagai satu-satunya jawaban “dogmatis”, melainkan sebagai tawaran, suatu proposal, suatu kerangka kerja, suatu inspirasi bagi transformasi dunia yang lebih baik, dalam arti sebenarnya. Tidak semua orang, tentu saja, menganut Aswaja, tetapi Aswaja dapat menjadi kerangka kerja yang memungkinkan berbagai pihak bekerja bersama untuk mencari solusi atas persoalan bersama yang dihadapi.

Lagi-lagi persoalannya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Lebih mudah menjawab “bagaimana Aswaja di mata dunia” daripada “bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global”, lebih-lebih “bagaimana memecahkan persoalan dunia dengan kerangka berpikir Aswaja”. Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan menyajikan statistik: Aswaja, atau Sunnism, dianut oleh kira-kira delapan puluh persen umat Muslim di dunia, kecuali di beberapa negara di mana Syi’ah (Shiism) atau ideologi-ideologi keagamaan lain dominan. Kepenganutan itu sendiri sudah menjadi kekuatan besar untuk suatu perubahan, atau minimal mempertahankan suatu tradisi yang baik dari pengrusakan kekuatan-kekuatan luar. Hal itu terlihat dari kasus Tunisia dalam Pemilu terakhir baru-baru ini – kekuatan politik Sunni dapat membendung kekuatan politik reaksioner anti-demokratis, yang ingin memanfaatkan situasi pasca-revolusioner untuk tujuan-tujuannya yang sempit. Namun, itu pun tidak sepenuhnya. Kepenganutan Aswaja yang kuat tidak menjamin kemampuannya untuk diporakporandakan oleh ekstremisme dan ideologi-ideologi keagamaan militan yang reaksioner. Gerakan takfiri dan ektremis-teroristik yang haus kekuasaan seperti Wahhabi (untuk yang pertama) dan ISIS (untuk yang kedua), terus menjadi tantangan yang mengintai setiap saat.

Pertanyaan tentang “bagaimana Aswaja di mata dunia”, dengan kata lain, adalah semata soal membuka dan mengetahui seberapa dalam dan seberapa besar kekuatan “internal” umat Muslim di dunia hari ini, yang sebagian besar bisa dipastikan menganut setidaknya satu dari keempat mazhab fiqh dan berakidah dengan salah satu dari dua mazhab teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, serta menerima tasawuf sebagai warisan tradisional yang berharga. Namun itu bukan jaminan untuk membanggakan diri. Mengetahui kenyataan demikian, juga berarti bertanya tentang seberapa kuat daya tahan Aswaja menghadapi godaan perpecahan umat, sektarianisme, dan aksi-aksi kekerasan yang dilancarkan oleh kaum puritan. Seberapa ampuh dan efektif Aswaja dapat menjadi pelindung bagi tradisi-tradisi yang baik (al-qadim ash-shalih) yang setiap saat berada dalam ancaman destruksi, dan terus-menerus menjadi sasaran kaum puritan itu?

Dengan bertanya demikian, mungkin kita akan mampu menjawab “bagaimana ber-Aswaja di era globalisasi”. Dengan mengetahui kekuatan dan daya tahan internal Aswaja, kita dapat mengukur seberapa jauh kekuatan tersebut mampu menghadapi tantangan-tantangan global. Seperti disinggung di atas, tidak cukup memahami Aswaja semata-mata Aswaja sebagai paham keagamaan, sementara tantangan global yang dihadapi tidak mesti bersifat keagamaan. Paham keagamaan itu merupakan modal yang perlu di-upgrade agar dapat menjadi perekat bagi ikatan-ikatan sosial yang riil yang setiap saat mengalami proses pelapukan dan destruksi karena globalisasi yang mendorong individualisme, eksploitasi, kekerasan, dan oportunisme yang sempit. Dengan berlandaskan pada sikap-sikap  tawassuth, tawazun, dan i’tidal, maka keragaman pemahaman dan praktik keagamaan yang jadi mozaik dari kaum Sunni di berbagai negara akan dapat meregenerasi ikatan-ikatan sosial itu, dan memperkuat tidak saja persaudaraan seagama (ukhuwwah islamiyyah) tetapi juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah). Aswaja tidak saja muncul sebagai ikatan keagamaan, tapi juga ikatan sosial baru. Seorang muslim kulit langsat di pelosok Indonesia dapat menjalin ikatan dengan seorang Muslim kulit hitam dari Afrika Tengah, atau seorang muallaf kulit putih dari sebuah negeri di Eropa Barat. Perbedaan dan keragaman latar belakang ras, budaya, dan mazhab fiqh yang dianut menjadi kekuatan yang mempertemukan dan memungkinkan lahirnya solidaritas baru.

Globalisasi yang dimungkinkan oleh interaksi dan konektivitas di antara berbagai pihak, dapat memungkinkan ikatan-ikatan baru yang tak terduga di antara berbagai elemen penganut Aswaja di berbagai negeri. Hal ini akan memungkinkan pengenalan akan lokalitas masing-masing, dengan melihat keterbatasan masing-masing lokalitas sebagai salah satu dari sekian manifestasi dari keragaman wajah Islam. Kekhasan dialek, kekhasan tradisi zikir dan perayaan sosial (Maulid, khitanan, perayaan kelahiran) akan terungkap dalam pertemuan antar-lokalitas itu. Jika Gus Dur pernah menggulirkan gagasan “pribumisasi Islam”, maka dalam perspektif global, penting melihat bagaimana pribumisasi itu terjadi di masing-masing negeri; bagaimana setiap komunitas Muslim mempribumikan Islam dengan caranya masing-masing. Tekanan akan lokalitas masing-masing komunitas Muslim itulah yang akan membedakan “kosmopolitanisme” Aswaja dari kosmopolitanisme dalam teori-teori liberal yang mempromosikan pluralisme tanpa keberakaran tertentu atas lokalitas.

Lokalitas itu mungkin menjadi suatu parameter bagi suatu konsepsi yang lebih komprehensif tentang Aswaja berparadigma global. Tetapi itu baru satu parameter, yang bisa jadi belum satu-satunya. Dibutuhkan “ijtihad” untuk menggali Aswaja berparadigma global. Tetapi satu hal setidaknya pasti: generasi Aswaja berwawasan global merupakan generasi poliglot yang mampu berinteraksi dengan beragam bahasa.

Paparan tersebut merupakan usaha kritik sekaligus tawaran penulis tentang konsep Aswaja agar mengglobal. Transformasi Aswaja merupakan keharusan jika Aswaja sebagai bagian dari paham Sunni ingin ikut berpartisipasi dalam mewujudkan keamanan dunia. Aswaja harus dapat berwujud bukan hanya sebagai ikatan keagamaan tapi juga ikatan sosial yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia. Kekhasan Aswaja yaitu lokalitas bisa menjadi parameter untuk konsep dakwah di Belanda. Ini artinya muslim di Belanda harus dapat mengintegrasikan dirinya sebagai warga Belanda sehingga Islam akan lebih diterima oleh warga Belanda.

 

Pribumisasi Islam Eropa

Menjadi muslim minoritas, lebih-lebih di sebuah negara yang mayoritas penduduknya tak sepenuhnya percaya kepada agama, seperti di Eropa, adalah sebuah tantangan tersendiri. Tantangan itu berasal dari berbagai sisi kehidupan dan dalam perjalanannya sangat berpengaruh dalam cara kita beragama, bermasyarakat dan berbudaya.

Mereka yang tak tahan dengan berbagai tantangan yang sebagiannya memiliki perbedaan pandangan dengan nilai-nilai Islam biasanya akan dengan mudah melakukan (r)evolusi diri dengan cara meleburkan diri menjadi bagian dari umumnya identitas masyarakat tersebut. Sedangkan mereka yang masih berusaha mempertahankan nilai dan identitas keislamannya umumnya akan saling bertemu, membentuk komunitas yang senafas, biarpun isinya hanya segelintir orang.

Dua bentuk respon pertemuan dua identitas tersebut, katakanlah: Islam dan Eropa, bukan tanpa konsekuensi. Pada respon yang pertama, mereka akan diterima secara positif dan terbuka oleh masyarakat Eropa walaupun dalam perjalanannya secara tak sadar mereka akan kehilangan identitas dan jati diri keislamannya. Sementara pada respon yang kedua, pada umumnya jati diri keislamannya akan tetap tumbuh kuat bersamaan dengan semakin terpisahnya diri mereka dari cara bermasyarakat dan berbudaya masyarakat Eropa. Padahal, bila dipandang secara jujur, kedua repon tersebut sesungguhnya masih menyisakan berbagai persoalan yang tidak ringan.

Salah satu pokok persoalan yang paling krusial adalah gagalnya umat Islam pendatang dalam membantu masyarakat muslim Eropa untuk merekonstruksi identitas keislaman mereka sendiri. Selama ini, Islam yang muncul di Eropa adalah Islam yang identik seperti di mana pendakwah itu berasal. Pendakwah yang berasal dari Maroko, Turki atau Afrika, biasanya akan begitu saja menghadirkan Islam yang identitas budayanya tidak jauh berbeda dari identitas keislaman sebagaimana yang berkembang di negara mereka. Demikian pula pendakwah yang berasal dari Asia seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia, mereka juga selalu membawa identitas Islam sebagaimana mereka miliki di Asia. Termasuk di dalam kecenderungan tersebut juga diikuti oleh para Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Eropa dan mungkin juga PCINU di benua-benua lain.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak Muktamar NU ke-30 Lirboyo memberi rekomendasi diperbolehkannya pendirian PCINU di luar negeri, NU telah memasuki babak baru dalam sejarahnya. Dalam Kongres I PCINU se-Dunia di Beirut, 7-9 Juli, 2012, tercatat lebih dari 20 PCINU yang telah berdiri dan aktif. NU kini bukan lagi organisasi tingkat nasional, namun juga telah bergerak menjadi organisasi internasional.

Melihat perkembangan yang menggembirakan tersebut, PCINU sudah sepantasnya dipandang sebagai angin segar bagi pengembangan Islam yang sejuk ke seluruh dunia. Dalam konteks ini, PCINU hendaknya tidak dipandang sebagai sekadar “ajang reuni” bagi mereka yang sejak lahir sudah NU, akan tetapi mesti digerakkan untuk membawa misi menjadi inisiator utama, menjadi pemberi solusi dari sekian persoalan yang penulis kemukakan di muka, yakni menjadi gerakan pribumisasi Islam di mana PCINU itu berada.

Untuk kasus Eropa, harus diakui bahwa PCINU belum sampai pada maqam dakwah “pribumisasi NU” kepada penduduk pribumi Eropa. Sebuah maqam dakwah yang berijtihad menjadikan budaya lokal Eropa sebagai “strategi dakwah” persis seperti ketika Walisongo menempatkan entitas-entitas budaya lokal sebagai alat strategis untuk berdakwah       melalui  pembaharuan  dan  pembuangan  entitas  budaya  seperlunya. Walisongo melakukan apa yang selama ini menjadi adagium NU: “Memelihara tradisi lama yang baik, menyerap tradisi baru yang baik; Al-muhafadha-tu ‘ala al-qadimisshalih wa al-akhdzu bil-jadidi al-aslah”.

PCINU secara transformatif dan emansipatif belum berdiri di atas maqam meletakkan Islam yang berkembang di Eropa sebagai Islam khas Eropa dan cenderung mendiamkan berkembangnya Islam khas Timur Tengah di Eropa yang justru itu tampak berhadapan dengan akar kebudayaan bangsa Eropa itu sendiri.

Sebagaimana respon kedua di atas, pendirian PCINU sebatas untuk memperjelas dan memperkuat identitas ke-NU-an anggotanya di tengah kepungan identitas-identitas lain yang barangkali berseberangan di Eropa. Sehingga kemudian tidak aneh bila kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan umumnya adalah sebagaimana pernah dilakukan ketika di Indonesia dan sebagian besar hanya dihadiri dan diikuti oleh mereka yang sejak awal sudah NU di Indonesia.

PCINU akhirnya tak ada bedanya dengan komunitas-komunitas para pendatang lainnya, yang duduk terpisah dari lokalitas Eropa. Bila sudah begini, maka kemungkinan keberlanjutaannya ada dua macam: semakin menguat menjadi komunitas independen dan betul-betul tak terkait dengan faktas lokalitas budaya di Eropa, atau malah semakin melemah karena tergerus oleh gempuran identitas-identitas lokal, yang memang sudah mapan, dan boleh jadi di kemudian hari akan mati.

Memang ada tujuan-tujuan kelembangaan yang juga perlu dipenuhi, misalnya, menjalin silaturrahim sesama warga Nahdliyin di luar negeri, memperkuat jaringan internasional NU, dan menyebarkan amaliyah-amaliyah Nahdliyyah. Tetapi gerakan semacam itu bila hanya diperuntukkan kepada warga NU sendiri, yang sebagian be-sar berasal dari Indonesia dan bukan warga pribumi Eropa, maka hanya akan menambah lebarnya batas keterpisahan identitas Islam pendatang dengan identitas lokal Eropa.

Oleh karena itu, “pribumisai Islam Eropa” semestinya mulai dipikirkan ulang agar dalam setiap semangat dakwah ke-NU-an di luar negeri selalu sejalur dengan apa yang dahulu dirintis oleh As-Salafuna As-Shalih; tidak mengenyampingkan aspek-aspek budaya lokal, akan tetapi justru menjunjung tinggi budaya lokal yang positif, membuang budaya lokal yang destruktif, lalu kemudian mengambil spritit Islam NU Indonesia menjadi Islam NU yang betul-betul bercitarasa Eropa tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar ke-NU-an dan nilai-nilai dasar budaya Eropa.

Problem Pribumisasi

Pertanyaan yang perlu segera diajukan selanjutnya adalah: apa yang membuat proses pribumisasi Islam di Eropa itu sulit dilakukan? Proses pribumisasi Islam Eropa tidak mudah dilakukan karena setidaknya ada dua faktor: faktor internal dan eksternal. Secara internal, identitas bangsa-bangsa di Eropa tidaklah tunggal. Eropa adalah gugusan “bangsa-bangsa yang berdaulat” sehingga mendefiniskan “apa itu identitas Eropa” merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah.

Di sisi lain, masyarakat Eropa memiliki sejarah panjang yang kurang simpatik terhadap agama. Sebelum Abad Pertengahan beralih ke Abad Pencerahan, posisi agama sangatlah dominan dan mengatur segala aspek kehidupan masyarakat Eropa. Namun begitu Abad Pencerahan lahir bersama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, posisi agama nyaris terbenam oleh derasnya arus modernisasi di segala bidang. Tak sedikit dari masyarakat Eropa kemudian menjadi agnostik dan tak lagi percaya kepada segala hal yang bersifat imaterial apalagi agama.

Adanya faktor traumatik terhadap agama itulah yang kemudian menyulitkan Islam berkembang, merangkul berbagai lini paling mendasar dalam masyarakat Eropa. Meski sebagian besar paham politiknya adalah sosialis, namun hampir dalam setiap hal, orang Eropa berpikir sangat rasional atau bahkan individual. Berbeda dengan masyarakat kita yang setiap memutuskan sesuatu terkadang berbasis pertimbangan religius, orang Eropa tampaknya mengalami kesulitan mendasarkan keputusannya pada hal-hal yang bersifat religius karena memang tradisi semacam itu, akibat traumatik religi masa lalu, kini nyaris sulit ditemukan.

Sedangkan  secara  eksternal,  proses  pribumisasi  sukar  dikembangkan  ketika melihat kencenderungan Islam yang dikembangkan oleh para muslim pendatang selalu ditempatkan secara “berjarak” dengan kehidupan masyarakat Eropa. Sedikit sekali komunitas muslim di Eropa yang berusaha menggerakkan Islam bersandingan dengan identitas budaya lokal Eropa. Umumnya, komunitas-komunitas tersebut selalu berdiri sendiri dan terpisah dari identitas lokal Eropa.

Di sisi lain, ada pula kecenderungan publik Eropa yang masih memandang Islam sebagai fobia. Sebuah contoh yang tak dapat dikesampingkan, ada puluhan remaja Eropa yang berhasil dipengaruhi pikirannya sehingga mau ikut berperang ke negara-negara konflik di Timur Tengah dan kemudian pulang ke Eropa menjadi militan garis keras yang setiap saat siap digerakkan untuk menteror penduduk Eropa dengan aksi-aksi anarkisnya.

Fakta-fakta inilah yang membuat proses pribumisasi sulit berjalan dan karena itulah, seperti penulis kemukakan di atas, PCINU Eropa memiliki peran strategis untuk trut serta meredam dan memutarbalikkan fakta tersebut dengan menampilkan sisi-sisi positif, humanis dan demokratis dari Islam kepada warga pribumi Eropa. Gagasan bahwa “universalisme Islam bukanlah Arabisme Islam” yang telah ‘selesai’ di NU, perlu dipropagandakan kembali di Eropa.

Untuk memutarbalikkan propaganda Islam anarkis yang mengancam itu, PCINU perlu berijtihad untuk melakukan redefinisi dan reaktualisasi konsep “pribumisasi Islam” supaya relevan dan cocok dengan kondisi masyarakat Eropa. Pribumisasi Islam dapat diletakkan sebagai alternatif dari problem ketegangan sejarah yang terus berulang antara budaya (‘adah) dan norma (shari’ah). Agama dan budaya memiliki independensinya sendiri, sebagaimana filsafat dan sains, kendati-pun dalam sejarah keduanya selalu saling mengandaikan dan tak jarang terjadi tumpang tindih. Dalam konteks pengembangan Islam di Eropa, bila kedua hal tersebut minus dialektika, maka akhirnya hanya akan menghilangkan manfaat keduanya dalam memperkaya peradaban Islam itu sendiri dan hanya akan semakin memperlebar jar-ak di antara keduanya.

Dengan demikian, pribumisasi Islam berguna untuk membentuk identitas Islam lokal Eropa agar Islam yang berkembang di Eropa tidak melulu identik dengan Islam Timur Tengah atau Islam di luar keduanya. Pribumisasi juga berguna untuk menghindari gerakan purifikasi dan formalisme Islam, serta meletakkan Islam duduk bersanding dengan budaya lokal secara dialektis. Pribumisasi adalah suatu kebutuhan mendesak untuk menyandingkan agama dan budaya secara simultan dan bukan untuk tujuan polarisasi sebab polarisasi memang tak terhindarkan. Ia berproses dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan budaya di mana Islam itu berkembang.

Dengan upaya redefinisi pribumisasi Islam tersebut, maka PCINU tidak dalam posisi berhadapan atau bertentangan dengan lokalitas Eropa, melainkan justru NU akan tampak sebagai komunitas muslim Eropa yang menempatkan Islam Eropa sebagai entitas religius dan budaya yang bersifat kontekstual, progresif, dan liberatif—tiga semangat yang tampaknya cocok dengan watak masyarakat Eropa saat ini.

Kesimpulan

Persoalan utama yang dihadapi oleh umat Islam khususnya di Eropa adalah meningkatnya gejala Islamophobia. Terutama di tingkat kesadaran popular, terjadi eksplosi Islamophobia karena bercampur dengan perasaan xenophobia. Hal ini didukung oleh media yang memang cenderung memecah belah masyarakat dan memojokkan Islam. Pengaburan makna jihad dan Islam bersifat sistematis yang tercermin dalam penyebutan “jihadis” dan “Islamis” untuk merujuk pada radikalisme Islam. Hal ini bukan hanya di media massa, namun juga dalam literatur ilmiah. Hal ini menimbulkan suatu asosiasi bahwa Islam mendorong penganutnya melakukan jihad yang dikaburkan artinya sebagai aksi kekerasan.

Di pihak lain, persoalan utama yang tak kalah gentingnya adalah kalangan generasi muda Muslim sendiri yang sangat rentan dengan radikalisasi keagamaan. Hal ini karena mayoritas pendidikan Islam yang ada di Eropa sangat elementer. Belum banyak lembaga Islam di Eropa yang menawarkan pendidikan agama pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini diperburuk oleh lemahnya institusi keulamaan di kalangan komunitas Muslim di Eropa sehingga tidak ada otoritas keagamaan yang benar-benar bisa menjadi rujukan. Akibatnya, Islam mudah dipolitisasi termasuk untuk mendukung ideologi kekerasan.Persoalan lain yang secara khusus dihadapi diaspora Muslim Indonesia di Eropa adalah kesenjangan antargenerasi dalam sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai keagamaan. Meski masih banyak kelemahan, transisi dari generasi pertama ke generasi kedua saat ini telah berlangsung dengan ciri Islam Nusantara yang masih cukup menonjol. Namun transisi dari generasi kedua ke generasi ketiga dihadapkan pada hambatan besar: masalah komunikasi. Anak-anak dan remaja banyak yang sudah tidak bisa berbahasa Indonesia lagi, sementara para pendidik dan Ustadz/Ustadzah banyak yang masih kesulitan berbahasa Belanda secara lancar.

Eksistensi diaspora Muslim Indonesia di Eropa masih kurang terdengar. Selain karena faktor sedikitnya jumlah kelompok ini dibanding diaspora Muslim dari negeri lain, hal ini juga akibat kurangnya eksposure ke luar dan partisipasi pada perdebatan-perdebatan publik. Di samping itu, kerjasama komunitas Muslim Indonesia dengan komunitas Muslim yang lain juga belum terlembaga.Komunitas Muslim di Suriname yang merupakan keturunan diaspora Jawa menghadapi persoalan kecenderungan terus merosotnya jumlah pemeluk Islam di kalangan kelompok ini. Hal ini merupakan akibat dari gerakan purifikasi yang kelewat eksesif terhadap kelompok “wong ngadep ngulon” sehingga banyak di antara mereka ini memutuskan untuk beralih agama.

5 Rekomendasi Penulis

  1. Mewujudkan Islam yang penuh rahmat agar persepsi “Islam yang ditakuti” berubah menjadi “Islam yang dicintai”.
  2. Menyegarkan pemahaman mengenai Aswaja agar dapat dipromosikan dan direaktualisasikan oleh para diaspora Muslim Indonesia dalam rangka melibatkan diri pada penyelesaian masalah-masalah global. Mengembangkan dan menguatkan institusi keulamaan yang mumpuni di kalangan diaspora Muslim Indonesia agar bisa merespon persoalan-persoalan aktual di Eropa dan menjamin proses sosialisasi dan internalisasi pendidikan Islam yang mulus di antara generasi ketiga.
  3. Mengembangkan metode dan inovasi baru dalam penyampaian dakwah Islam di Eropa, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital.
  4. Mengembangan kerjasama regional di kawasan Eropa dan Mediterania, termasuk utamanya melalui optimalisasi jaringan PCI NU yang ada di kawasan tersebut.
  5. Memperkuat kemampuan lobi politik diaspora Muslim Indonesia di masing-masing negara Eropa.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.