Jalin Ukhuwah, Raih Mardhatillah !
The news is by your side.

Kita dan Usia yang Tersisa

0

“Perbaikilah usia  yang  masih tersisa  maka  Allah  akan mengampuni kesalahan anda di masa  lalu dan yang tersisa….”

Oleh : A. Muaz

Usia tidak bisa mendefinisikan kematangan dan kedewasaan seseorang.  Kita bisa mengidentifikasi ihwal ini dari sikap dan caranya memperlakukan manusia lainnya. Dalam bahasa agama, mungkin itulah yang terkandung dalam adab dan akhlak.

Karena itulah, usia tidak bisa menjamin seseorang bisa menjaga lidahnya dengan apik. Usia tidak bisa menggaransi laku-lampah seseorang itu mahmudah  (terpuji). Usia tidak dapat menggaransi hati yang jembar dan lapang menerima yang berbeda dan asing di dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian kita –terutama yang sudah berumur dan “makan” bangku sekolah agama bertahun-tahun lamanya– malah cenderung sebaliknya. Semakin mencari pembenaran-pembenaran (justifikasi) agama atas tindak tanduknya  yang selama ini tidak arif dan matang. Ia serupa pohon yang tidak berbuah. Hanya tumbuh dengan batang, dedaun, dan dahah-dahan. Tentu, kita semua tidak ingin menua seperi pohon yang tak berbuah hingga ajal menjemput bukan?

Syahdan, dalam kitab Hilyatul Aulia, Imam Fudhail bin Iyadh pernah bertanya  kepada  seseorang: “Berapa  usia Anda?”

“Enam  puluh  tahun,” jawabnya, yakin.

“Kalau  begitu, sejak enam puluh tahun anda  sedang  berjalan  menuju  Rabb anda  dan mungkin  hampir  sampai,” komentar Imam Fudhail.

Orang  itu  terkesiap dan tersentak. Ia langsung mengucap: “Inna lillahi wa  inna ilaihi raji’un!”

Imam Fudhail bertanya lagi:

“Tahukah  kau makna  ucapan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ itu? Katakanlah: saya adalah hamba Allah dan saya akan kembali kepada-Nya. Barangsiapa  memahami  bahwa  semua manusia adalah hamba Allah dan  kepada-Nya akan kembali, maka hendaklah ia  menyadari  bahwa  ia tengah tertahan. Dan barangsiapa menyadari bahwa ia tertahan, hendaknya ia menyadari bahwa ia akan  dimintai  pertanggungjawaban.  Jika ia menyadari  akan  dimintai  tanggungjawab, hendaklah ia mempersiapkan  jawaban  atas  semua  pertanyaan.”

Kemudian, orang itu bertanya,  “Terus, bagaimana caranya?”

“Mudah,” jawab sang Imam.

“Bagaimana?” tanya orang tersebut, tambah penasaran.

Imam Fudhail pun menjawab: “Perbaikilah usia  yang  masih tersisa  maka  Allah  akan mengampuni kesalahan anda di masa  lalu dan yang tersisa. Tetapi  jika  anda tetap melakukan  keburukan  dalam  usia  yang  tersisa  maka  berarti anda mencabut  kebaikan masa  lalu dan  juga  kebaikan  di  usia  yang  masih  tersisa.”

Demikianlah nasehat Imam Fudhail soal usia yang tersisa. Bayangkan, bila di usia kepala 4, atau kepala 5, atau kepala 6, ternyata kita masih berada dalam situasi yang tidak menyadari kesalahan dan khilaf dan ketidakmatangan dalam berelasi dengan manusia lainnya, maka kebaikan yang pernah kita perbuat di masa muda akan tercabut.

Saya jadi teringat firman Allah dalam QS. Fathir, ayat 37 : “Dan mereka berteriak di dalamnya: “Tuhan Pemelihara kami, keluarkanlah kami (dari azab ini), niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh, berbeda dengan yang telah kami kerjakan.” Dan (dikatakan kepada mereka): “Apakah Kami tidak memanjangkan umur kamu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (bukankah) telah datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami)! Maka tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.”

Sebagian besar mufasir berpendapat bahwa firman Allah tersebut ditujukan untuk mereka yang sudah memasuki usia 40-an ke atas, tetapi masih saja melakukan perbuatan-perbuatan durhaka. Tuhan mengecam dan mengancam mereka bila itu terjadi (dan bukankah memang terjadi dan kerap kita jumpai) dalam kehidupan sehari-hari.  Na’udzubillah. Semoga kita semua tidak termasuk di dalamnya. (Foto:  pixabay.com)

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.