Menengok Islam di Kota Siam Reap, Kamboja

Jika anda berkunjung ke Kamboja, sempatkanlah berkunjung ke Siam Reap. Di kota ini, anda akan menemukan saudara-saudari se-Muslim kita yang hidup berdampingan dengan warga Kamboja yang rata-rata menganut Budha.

Siam Reap memang kota yang kecil, namun di kota inilah –menurut para pelancong–gerbang awal untuk menyingkap sejarah purbakala kota Angkor zaman dahulu yang masyhur itu. Kota ini dikelilingi oleh kuil-kuil atau candi-candi terkenal di Kamboja; salah satu penanda bahwa  bahwa agama mayoritas masyarakat Siam Reap adalah Budha  (konon sebelum Budha, Hindu merupakan agama mayoritas penduduknya). Salah satu candi terbesar yang membuat nama Siam Reap semakin dikenal adalah Angkor Wat yang terletak 5,5 Km di Utara Siam Reap.

Seperti halnya perjalanan ke kota dengan penduduk minoritas Muslim, mencari makanan halal yang bisa kami konsumsi selama di perjalanan adalah hal yang juga kami khawatirkan.  Ketakutan tersebut terus membayangi kami selama menelusuri Siam Reap.  Pasar malam, misalnya, yang sempat kami lalui dipenuhi menu makanan– yang bahkan melihat namanya saja membuat perut kami mual. Setelah bertanya ke sana ke mari mulai dari penjual pakaian, petugas hotel dan pengendara Tuktuk akhirnya kami mendapati jejak Islam di sebuah blok jalan yang tak jauh dari hiruk pikuk wisata malam Siam Reap.

Masjid An-Naekmah di Siam Reap adalah masjid pertama yang kami jumpai. Sayang, kondisi masjid tampak tertutup untuk umum. Hal ini karena waktu kunjungan kami yang bukan di jam shalat. 100 meter dari masjid, kami mendapati restoran halal yang menyediakan menu khas Melayu. Yang menarik dari restoran ini dilengkapi musik Islami khas Indonesia.

“Kok bisa setel musik Islami dari Indonesia?” tanya kami, penasaran.

Jawaban pemilik restoran sungguh membuat kami semakin cinta Indonesia. Katanya, ia ingin sekali berkunjung ke Indonesia, sebab  Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Alhamdulillah, senang mendengarnya.

Selepas mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan. Berbekal jawaban dari penduduk An-Naekmah mengenai warga  Muslim di Siam Reap, kami sampai di salah satu sudut kota Siam Reap, yaitu di sekitar Danau Tonle Sap. Di sini terdapat Masjid Ar-Rafee’ah yang  letaknya sebagai pembatas dua desa terapung; di sebelah kiri ada desa dengan  penduduk beragama Budha, sedang  di sisi kanannya warga desa yang menganut Islam. Masjid Ar-Rafee’ah sendiri memiliki tiga kubah kecil  yang didominasi oleh warna merah dan kuning. Di wilayah ini kami bukan hanya menemukan masjid, tapi juga madrasah sebagai pusat studi keIslaman dan pemberdayaan Islam di Tonle Sap.

Perjalanan mencari Islam di negara minoritas semakin meyakinkan kami bahwa setiap Muslim adalah bersaudara. Kehangatan dan cerita yang tak akan tergantikan membuat kami begitu yakin bahwa Islam adalah agama yang dibawa dengan kedamaian. Islam Rahmatan lil ‘alamiin justru semakin kami temukan dalam perjalanan bertemu saudara seiman. (Nanda/edited: Az/foto: dok. pribadi Nanda)

Related posts

One Comment;

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top