Satu Doa Ketika Khilaf

“Beramal buruk. Berbuat cela. Berlaku khilaf. Bersalah-salah lagi. Tapi, ingin kembali ke dalam pelukan Ilahi…”

 

Sejarah manusia adalah sejarah khilaf, sejarah  kekeliruan dan kesalahannya. Begitulah leluhur kita, Nabi Adam dan Hawa, pernah berjelaga  pada zaman dulu yang kisahnya barangkali begitu lekat di benak. Lalu kita–keturunannya–meniru dan mengulanginya dalam bentuk  beraneka rupa, dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Hingga kini, kita mesti meniti jalan tersebut. Beramal buruk. Berbuat cela. Berlaku khilaf. Bersalah-salah lagi. Tapi, ingin kembali ke dalam pelukan Ilahi. Lalu, sadar. Lalu,  terjerembab lagi. Begitu seterusnya. Jatuh bangun berlarat-larat di dalamnya. Hidup di dunia antara:  sudah merasa menghapus titik-titik hitam di kalbu namun kemudian membubuhi kembali titik-titik itu di hati; merasa sudah game over dengan amal-amal buruk di masa lalu, namun start over kembali laku lampah serupa  di masa kini. Tak aneh, dalam sebuah ayat, Allah berfirman: “Dan apabila manusia disentuh mudarat (keburukan atau bahaya), dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan mudarat (itu) darinya, dia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami menyangkut bahaya yang telah menimpanya. Begitulah, dijadikan indah (oleh setan) bagi orang-orang yang melampaui batas, (atas) apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 12)

Ya, memang,  manusiawi bila hal itu terjadi.  Sebab, iman manusia bisa bertambah dan berkurang setiap momen. Pun khilafnya. Pun elingnya. Tapi, kita juga jenuh dengan kondisi begini; kita ingin konsisten dan persisten untuk berhijrah. Kita tidak ingin mengelabui Tuhan terus-menerus dengan permintaan ampun dari-Nya. Kita tidak mau senantiasa dikibuli bisikan setan kembali.

Lebih-lebih, bila kita mengingat ihwal kualitas amal ibadah kita. Benarkah ia diterima sebagai penghapus dosa? Betulkah ia makbul di sisi-Nya? Terutama sekali di zaman digital seperti sekarang ini, dimana kita tergoda sekali mengunggah aktivitas ibadah kita sehari-hari? “Alhamdulillah..masih bisa Tahajud”,  “Alhamdulillah…bisa puasa kembali”, “Alhamulillah..hari ini Dhuha di Masjid Akbar” dan lain-lainnya  yang biasa kita lihat (atau kita lakukan sendiri) di media sosial.

Lalu, apakah ada doa yang bisa kita rapal-rapal jika kondisinya demikian? Ada. Dan ini biasa dibaca istri junjungan kita, Nabi Muhammad saw: Siti Aisyah. Konon, dalam riwayat Farwah bin Naufal Al-Asyja’i, dia berkata: “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw saat memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab:  “Sesungguhnya Rasulullah saw pernah berdoa sebagai berikut: “Allahumma inni a’uudzu bika min syarri maa ‘amiltu wa min syarri maa lam a’mal” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan).” (HR. Muslim)

Bayangkanlah bila sekelas Nabi, yang maksum, yang mendapat garansi surga dari Ilahi, yang merupakan manusia mulia dan pilihan masih menyadari ihwal amalnya yang bisa jadi buruk di mata Allah, dan bisa jadi akan buruk pada amal-amal berikutnya.

Bayangkanlah bila perempuan mulia, Siti Aisyah, istri Rasulullah,  yang pastinya meneguk langsung pengetahuan dan teladan dari Nabi masih merapal-rapal doa demikian.

Karena itulah, sungguh, suatu keniscayaan bila semestinya kita mengikuti jejak keduanya, berdoa sebagaimana Nabi dan Siti Aisyah berdoa. Hadis yang penulis singgung di atas sendiri merupakan salah satu  doa yang Rasulullah saw ajarkan kepada umatnya; kita semua yang mengaku muslim dan  mukmin. Kelak, dengan bermunajat seperti ini, kita berazam bahwa amal perbuatan kita selama ini mendapati ampunan dan perlindungan dari-Nya.

Dan azab-Nya yang pedih dan perih itu tidak menyapa kita selagi di dunia, tidak juga di Hari Akhir kelak. (Muaz)

 

 

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top