Tausiyah (Himbauan) MUI DKI Jakarta Tentang Shalat Gerhana Bulan

TAUSIYAH (HIMBAUAN)
MAJELIS ULAMA INDONESIA
PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
TENTANG
SHALAT GERHANA BULAN

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Atas dasar perhitungan astronomis bahwa pada hari Sabtu tanggal 15 Dzulqa’dah 1439 H/28 Juli 2018, untuk seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). Proses gerhana bulan total (GBT) melalui beberapa fase sebagai berikut: (1). Awal Gerhana Penumbra: 00:19:49 WIB; (2). Awal Gerhana Bulan Sebagian: 01:24:27 WIB; (3). Awal Gerhana Bulan Total (GBT): 02:30:15 WIB; (4). Pertengahan (Puncak) GBT: 03:21:43 WIB; (5). Akhir Gerhana Bulan Total (GBT): 04:13:12 WIB; (6). Akhir Gerhana Bulan Sebagian: 05:19:00 WIB, dan (7). Akhir Gerhana Bulan Penumbra: 06:28:37 WIB.

Terkait Gerhana Bulan tersebut, MUI Provinsi DKI Jakarta meyampaikan tausiyah (himbauan) kepada seluruh umat Islam di DKI Jakarta, sebagai berikut:

Pertama, umat Islam di DKI Jakarta agar melaksanakan shalat sunnah gerhana Bulan (shalat Khusuf) dan disunnahkan mandi terlebih dulu sebelum shalat. Para wanita yang tidak sedang berhalangan, dianjurkan untuk ikut shalat gerhana, karena Aisyah dan Asma’ ikut Shalat gerhana pada waktu Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana.

Kedua, shalat gerhana sunnah dilaksanakan berjama’ah di masjid atau mushalla, tanpa Adzan dan Iqomah sebelumnya, tetapi shalat berjama’ah diseru dengan, “al-Sholatu jaami‘ah”.

Ketiga, waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan dimulai saat terjadinya gerhana sampai gerhana berakhir. Apabila telah melaksanakan shalat dan khutbah gerhana, sementara gerhana masih berlangsung, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak dzikir dan meminta ampun (istighfar) kepada Allah SWT sampai berakhirnya gerhana.

Keempat, shalat Gerhana dilakukan dengan tuntunan sebagai berikut:

1. Berniat saat takbirat al-ihram. Misalnya, niat melakukan shalat gerhana Bulan (khusuf al-Qamar), menjadi imam atau ma’mum.
أُ صَلِّيْ سَُنَّةً لَخسوف اَلقمر مأْمُوْمًا / إماما هَّ لِلّ ت عال ى

2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir untuk pertama kali guna mengawali shalat dan dilanjutkan membaca do’a iftitah, membaca surat al-Fatihah, dan surat al-Qur’an.

3. Kemudian ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), setelah i’tidal kembali membaca surat al-Fatihah dan surat al-Qur’an, lalu ruku’ untuk yang kedua, kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal). Kemudian mengerjakan dua sujud sebagaimana shalat Fardlu.

4. Selanjutnya bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka’at ke dua. Raka’at ke dua dikerjakan seperti halnya raka’at pertama, namun durasi bacaan suratnya lebih pendek dari raka’at pertama.

5. Selesai mengerjakan raka’at ke dua dilanjutkan dengan duduk tasyahud dan Salam.

Kelima, hendaknya sholat Gerhana Bulan diikuti dengan baik dan setelah sholat Gerhana, jama’ah tetap duduk tenang untuk mendengarkan khutbah Gerhana sampai selesai.

Keenam, waktu Gerhana Bulan kali ini berakhir pada Pkl. 06:28:37 WIB. Jika ada yang melaksanakan sholat Gerhana bulan setelah sholat Subuh dan matahari belum terbit maka hukumnya sah. Karena ada sebab yang bersamaan (muqarin) dengan waktu terjadinya Gerhana bulan.

Demikian himbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, agar shalat Gerhana Bulan tahun 2018 ini dapat dilaksanakan umat Islam di DKI Jakarta dengan khidmat dan khusyu’, dan menjadi ibadah yang diridlai Allah SWT.

Jakarta, 26 Juli 2018 M.

13 Dzulqa’dah 1439 H.

DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Ketua Umum,
KH. A. Syarifuddin A. Gani, MA

Sekretaris Umum,
KH. Zulfa Mustofa MY

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top