Tiga Tamu Mulia

“Saudaraku, aku hanya pembawa pesan Baginda Nabi. Aku ada karenanya. Aku ada di dalam syafaatnya.  Aku bukan apa-apa tanpanya. Aku berharap kau sudi memperlakukanku sebagaimana Rasulullah berbaik-baik dan menjadi manusia terbaik bersamaku….”

Satu tamu mulia baru saja pamit dalam  hidup kita.  Masih sambur-limbur sosoknya di pelupuk kita. Dan kita mungkin merutuki diri kenapa tidak begitu bungah menjamunya dengan sebaik-baik hidangan, dengan sebaik-baik jamuan.  Kita diam-diam malu dan getun menyaksikannya pergi begitu saja. Kesibukan. Pekerjaan. Tugas-tugas duniawi membuat kita goflah untuk melayaninya. Ah, yang lungah (pergi) biarlah lungah. Sekarang ada tamu baru: Sya’ban. “Kali ini kami tidak boleh menyia-nyiakanya, harus menjamunya dengan  baik,” begitu  pikir kita.

Sebagaimana Rajab, tamu yang ini juga mulia;  atau bahkan lebih jelita ketimbang Rajab. Ia mengetuk pintu rumah kita dan tiba-tiba menyerahkan hadiah mushaf Alqur’an. “Saudaraku, aku hanya pembawa pesan Baginda Nabi. Aku ada karenanya. Aku ada di dalam syafaatnya.  Aku bukan apa-apa tanpanya. Aku berharap kau sudi memperlakukanku sebagaimana Rasulullah berbaik-baik dan menjadi manusia terbaik bersamaku,” barangkali begitu Sya’ban akan berujar saat kali pertama bertandang ke rumah kita.  Ah, sejatinya engkau, saya dan siapa pun yang mengaku umatnya mungkin tidak akan bertukar-tangkap untuk membantahnya. Kita barangkali hanya bisa sami’na wa atha’na. Apalagi, ia kemudian berkata: “Kisanak, ketahuilah Tuhan menciptakanku di tengah Rajab dan Ramadhan bukan tanpa sebab. Dia Sang Agung pernah berkata: ‘Aku menjadikanmu sebagai bulan untuk umat-Ku bertadarus.’ Sekarang, kau mafhum kenapa orang-orang saleh banyak bergairah dan berasyik-masyuk membaca Alqur’an di bulanku ini.”

Sebagian kita akhirnya bisa mengenang-ngenang kembali sosok Sya’ban dengan riwayat Anas ra bahwa bila Sya’ban datang, maka umat Islam tertunduk pada  mushaf Alquran. Mereka akan menyibukkan diri dengan tadarus. Mereka juga akan rajin bersedekah guna membantu mereka yang duafa,  yang miskin dalam menyongsong bulan Ramadhan. “Kisanak, tolong, kumohon padamu. Ingat baik-baik pesanku itu. Aku mau pergi lagi. Aku berharap kau tidak menyesal saat kuberpaling darimu. Bila kawanku yang mulia kemarin mengajakmu untuk menanam benih-benih kebaikan, maka aku memintamu kali ini menyiramnya dengan lantunan Quran dan sedekah…”

Dari pintu rumah kita yang sempit dan rapuh, kelak kita akan melihat punggung Sya’ban pelan-pelan menghilang.  Dan tiba-tiba tamu terakhir itu datang, tamu super istimewa, tamu yang membuatmu kelu. Cahayanya. Sosoknya. Wibawanya. Semua tentang figurnya yang pernah kau daras dari Alquran dan hadis dan  kitab-kitab yang dikarang ulama salafussaleh datang lagi. Semua ihwal dirinya yang pernah kita reguk dari kiai-kiai, dari orang-orang saleh yang kita ikuti, kini bertamu mengunjungi kita. Kita berharap kali ini tidak akan menyia-nyiakan kembali. Kita akan bersungguh-sungguh memperlakuknya dengan seelok-elok amal. Kita berharap tamu yang bernama Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup kita hingga akan mempelakukannya dengan sebaik-baik jamuan dan hidangan. Wallahu’alam bilshawab (Muaz/Foto: pixabay.com)

 

 

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top