Untuk Muslimah yang Hendak (Sudah) Menikah

Untuk anda, para wanita, yang sebentar lagi akan menikah, ada baiknya berguru kepada putri Baginda.

Selepas dipinang Khalifah Ali bin Abi Thalib, suatu hari, Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan junjungan kita, Nabi Muhammad saw, berkata: “Wahai Rasulullah, gadis-gadis terbiasa meminta uang sebagai mahar. Aku berbeda dengan mereka. Aku meminta dengan hormat kepadamu agar mengembalikan [mahar] dan berdoa kepada Allah swt agar menjadikan maharku adalah hak memberi syafaat kepada mereka yang berdosa di kalangan kaum muslim [pada hari Kebangkitan].” Dan saat itu juga, malaikat Jibril turun membawa secarik kertas yang diantaranya tertulis begini: “Allah menetapkan mahar Fatimah Az-Zahra adalah syafaat bagi mereka yang berdosa di kalangan muslimin.”

Dan kita tahu, sejarah kemudian mencatat, betapa Fatimah benar-benar menjalani prinsipnya itu setelah biduk rumah tangganya berjalan. Sejumlah kisahnya begitu memiriskan hati; ia yang putri Nabi dan istri seorang khalifah begitu sabar dan hebatnya dalam hidup serba kekurangan.

Dalam buku bertajuk Fathimah karya Muhammad Amin disebutkan: “Suatu kali Fatimah mengadu kepada Rasulullah tentang keadaan keluarganya, “Wahai ayah, demi Allah, pagi hari ini tiada sebutir gandum pun di rumah Ali. Selama lima hari ini, tiada makanan yang masuk ke dalam mulut kami. Tiada sekerat daging kambing atau unta atau makanan lain, bahkan air minum.”

Ada kisah lainnya. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dituturkan: “Suatu hari Bilal, muazin Rasulullah, yang kulitnya konon legam itu berkata: “Saya melewati Fatimah yang sedang menggiling [gandum], sementara anaknya sedang menangis. Saya berkata kepadanya: ‘jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu.’ Fatimah berkata, ‘Aku lebih dapat mengasihi anakku daripada engkau.’ [Dinukil dari Kado Pernikahan untuk Istriku, Muhammad Fauzil Adhim.]

Tak aneh, bila Ali, dalam sebuah kesempatan bersama para sahabat lainnya, pernah berkisah: “Fatimah tinggal bersamaku. Dialah anggota keluarga yang paling dicintai Rasulullah. Dia mengambil air dengan girbah [tempat air] hingga menimbulkan bekas di dadanya. Dia menggiling gandum hingga tangannya bengkak. Dia bersihkan rumah hingga pakaianya kotor. Dia menyalakan api di periuk. Dia berupaya keras untuk mengerjakan itu semua.”

Bayangkan: seorang istri yang derajatnya dimuliakan Nabi itu melakoni hidup yang menderita. Ia rela menjalani hidup demikian. Berani lapar. Berani hidup miskin. Berani mengerjakan semua hal urusan rumah tangga. Berani menahan gejolak nafsu. Tentu saja, sikapnya demikian, karena suaminya seorang khalifah yang juga berani hidup menderita demi rakyatnya dan agamanya. Fatimah menerima begitu pasrah dengan iman yang tak ada tandinganya.

Untuk anda, para wanita, yang sebentar lagi akan menikah; sedang di samping anda sudah ada lelaki saleh dan baik yang siap berumah tangga, ada baiknya berguru kepada kisah Fatimah.

Untuk anda, perempuan yang mengaku muslimah dan hendak bercita-cita mejadi istri yang baik, reguklah pelajaran dari Fatimah. Buang jauh-jauh faktor material dalam daftar kriteria calon suami anda bila keseriusan menikah itu sudah ada. Niatkanlah ibadah, niatkanlah bahwa anda benar-benar mencari ridha-Nya.

Tanamkanlah di dalam kalbu bahwa anda siap menjadi ‘Fatimah’ modern, penerus prinsip-prinsip hidupnya dalam mengarungi rumah tangga.   Sebab, kehidupan pasca pernikahan akan berbeda dibandingkan sebelum pernikahan. Di dalamnya tidak hanya cinta dan rindu, tapi juga pelbagai pengorbanan. Dan selama pengorbanan itu diintensikan karena ibadah, maka sebuah hubungan akan bertahan dalam lingkaran yang menentramkan hati.   Ia akan menjadi pengakuan identitas spiritual.

Joseph Campbell berkata: “When you make the sacrifice in marriage, you’re sacrificing not to each other but to unity in a relationship.  Marriage is a recognition of a spiritual identity.

Fatimah zaman dulu itu adalah figur yang sudah menjalani pernikahan sebagai identitas spiritual. Tentu saja, faktor Ali, sang suami,  juga penyebabnya. Mereka berdua sangat layak dirujuk sebagai model pasangan yang telah menjadikan pernikahan sebagai sebuah identitas spiritual.  Namun, di zaman ini, sungguh sulit menemukan pasutri seperti mereka. Semoga saja saya, anda dan pasangan anda adalah yang berikutnya! Wallahu’alam bilshawab. [Teks: A. Muaz/Foto: pixabay.com]

 

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top