Jalin Ukhuwah, Raih Mardhatillah !
The news is by your side.

Yang Tersisa dari Rabi’ul Awwal

0

Bila lisan dan laku kita mulai terasa bertelekan amarah dan benci dan api, ingat baik-baik namanya: Nabiyur-rahmat.

Oleh A. Muaz

Masih. Masih ada sisa hari di bulan agung ini, Rabi’ul Awal, untuk menuntaskan rindu serindu-rindunya kepada Sang Mustafa.  Masih. Masih ada sisa tanggal di bulan yang mulia ini untuk mengenang milad Beliau yang bercahaya, yang pengasih, yang pecinta, yang pemaaf, yang lembut, yang santun, yang sederhana, yang setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap gerak, setiap langkahnya adalah jejak aduhai seaduhai-aduhainya insan.

“Aku Muhammad. Aku Ahmad. Aku Nabi pembawa kasih (Nabiyyur-rahmat). Aku Nabi penganjur taubat (Nabiyyut-taubat)…”

Mari kita rekam baik-baik dakuan Baginda Nabi tersebut yang termaktub dalam Syamail Muhammadiyyah Imam Tirmidzi di kalbu kita yang sebentar-sebentar kalut, sebentar-sebentar kalang kabut ini. Bila lisan dan laku kita mulai terasa bertelekan amarah dan benci dan api, ingat baik-baik namanya: Nabiyur-rahmat. Bila setiap langkah dan jalan yang kita tempuh terasa berjelaga dan suram dan kelam, zikir-zikirlah namanya: Nabiyut-taubah. Kita menirunya, kita bertafaul dengan namanya; meniru jejaknya, meneladani kedua namanya itu.

Sang menantu kinasihnya, Ali bin Abi Thalib kw, suatu hari, melukiskan pribadinya dengan larik-larik yang indah.  Begini ujarnya:

“Beliaulah orang yang paling terbuka tangannya untuk memberi, yang paling berani hatinya menghadapi bahaya, yang paling benar dalam ucapannya, yang paling setia memenuhi janjinya, paling lemah lembut budinya, paling baik pergaulannya. Siapa yang melihat sepintas, dia merasakan wibawanya dan siapa yang telah bergaul lama denganya, dia akan mencintainya.”

Nabi mendaku nama-namanya.  Ali pun bersaksi mengakuinya dalam kehidupan sehari-harinya. Juga sahabat-sahabatnya yang lain. Juga manusia-manusia pilihan Ilahi lainnya dalam sejumlah manuskrip dan teks klasik yang mungkin pernah kita baca dan pelajari. Dan kita? Kita bisa menirunya dalam bersikap dan beramal, meski hanya secuil, meski hanya setitik. Kita bisa mempelajari ihwal dirinya kembali.

Kita, misalnya,  bisa membaca lagi kitab Syamail Muhammadiyyah yang dikarang Imam Tirmidzi untuk menghidupkan kembali hati kita yang rapuh dan rungsing dan keruh dengan hadis-hadis mengenai junjungan kita, Nabi Muhammad saw, dari hal-hal yang sangat sederhana dan intim. Tentang ciri fisik dan sifatnya, tentang bagaimana ia makan dan minum, tentang bagaimana ia berpakaian, tentang bagaimana ia bercanda, tentang bagaimana ia berujar, tentang bagaimana ia hidup dan akhirnya wafat dengan warisan sebilah pedang, seekor keledai dan sepetak kebun untuk disedekahkan.

Kita, misalnya, bisa mempelajari, menyerap dan menyesap kitab-kitab Sirah Nabi di akhir titimangsa Rabi’ul Awal yang basah, hening dan sunyi, pada malam-malam yang makbul sebelum matahari merekah, seraya bershalawat sebanyak-banyaknya untuknya, seraya beristighfar sehabis-habis istighfar untuk diri kita sendiri.

Mungkin, mungkin sekali, tulisan sederhana ini menyapa anda ketika bulan milad Nabiyur-rahmah telah berlalu. Kalender Rabi’ul Awal sudah tanggal. Dan kita  merasa semuanya begitu lekas; begitu ringkas dimakan waktu. Tapi, Nabi Muhammad adalah kasih, adalah cinta. Dan cinta, seturut kodratnya, meringkus waktu. Kapan pun, kita masih bisa memuji dan mengikuti jejaknya. Dan kasih, seturut adatnya, melipat ruang. Di mana pun kita berada, kita semestinya bisa berasyik masyuk mengenang namanya, bershalawat dengan namanya, bergerak atas nama kasih dan cinta sepertinya. Allahumma shali ‘ala Sayyidina Muhammad…

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.