NEGERI DARURAT MIRAS

on

NEGERI DARURAT MIRAS

Dr. KH. Fuad Thohari, MA

(SEKBID Komisi Fatwa MUI)

 

قال الله تعالى في كتابه الكريم : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

 

Negeri ini sempat heboh dengan munculnya penolakan dari berbagai kalangan masyarakat terkait Perpres Nomor 10 Tahun 2021 -yang alhamdulillah akhirnya telah dinyatakan dicabut- dimana Pemerintah Pusat menetapkan bidang usaha industri miras mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt, terbuka untuk penanaman modal baru di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat.

Keputusan tersebut spontan memantik reaksi keras dari berbagai kalangan, khususnya para tokoh agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI), NU, dan Muhammadiyah tegas menolak keputusan pemerintah tersebut. Penolakan itu membuktikan kepedulian nyata para tokoh agama terhadap generasi penerus bangsa yang sehat dan bebas narkoba. Apalagi lembaran sejarah mencatat, bagaimana seteguk miras memicu segala macam kejahatan, sejak jaman dahulu hingga abad modern sekarang ini

 

Miras sebagai simbol kenikmatan

Dilihat secara historis, dahulu di masyarakat jahiliyah, kebiasaan menenggak minuman keras dan mabuk-mabukan dianggap sebagai simbol kenikmatan tertinggi. Miras merupakan hadiah berharga yang selalu menjadi menu utama di setiap pesta. Apabila miras tidak tersaji, ada anggapan bahwa ‘shohibul hajat‘ pelit atau tak mampu.

Mayoritas lelaki jahiliyah adalah pemabuk berat. Mabuk dan teler dianggap sebagai kebanggaan lelaki sejati. Jika seorang laki-laki mampu menggelimangi dirinya dengan minuman keras, hal itu dipandang sebagai bukti kedermawanan (karomah). Konon, hanya  ada 3 orang yang tidak pernah meminum khamr, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, sahabat Abu Bakar, dan Ustman bin Affan

Sebegitu berharganya miras terlihat juga pada komoditas unggulan dari Hijaz yang diperebutkan di pasar internasional di masa Nabi sebagaimana disinggung dalam Quran adalah susu, madu, dan khamr. Penelitian terhadap syi’ir Arab pra Islam menunjukkan bahwa mabuk-mabukan sudah menjadi sindrom. Di tengah situasi yang kurang kondusif semacam inilah, respons Quran terhadap miras perlu  dikaji.

Miras dalam Quran disebut khamr, diambil dari bahasa Arab yang berarti arak atau tuak, bersifat memabukkan karena mengandung alkohol. Dinamakan khamr karena: (1) bisa menghilangkan akal, (2) dalam proses pembuatannya selalu ditutupi agar tidak tertimpa sesuatu yang bisa merusaknya, di samping untuk menjaga kualitas, dan (3) bisa merusak fungsi akal.

Dalam perspektif fikih, khamr adalah setiap minuman yang memabukkan, sedikit atau banyak. Definisi ini merujuk pada hadis Nabi yang diriwayatkan Ibn Umar:

 

كل مسكر خمر وكل خمر حرام

Artinya: “Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

 

Pada periode Makkah, Quran dalam surat An-Nahl ayat 67 menyebut miras sebagai salah satu rahmat Allah SWT bersama-sama susu dan madu.

 

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (67)

Artinya: Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

 

Respons Quran semacam ini tetap dipertahankan selama periode Makkah, hingga akhirnya kaum muslimin berhijrah.

 

Sebab Pelarangan Konsumsi Miras

Ketika umat Islam berhijrah ke Madinah, mereka tidak saja berubah menjadi suatu masyarakat global, juga menjadi semacam bagian umat dari negara Islam. Tentu saja, bagi sebagian sahabat, konsumsi miras menjadi problem serius. Dikabarkan, terdapat sekelompok umat Islam di antaranya Umar bin Khattab dan Mu’adz bin Jabal yang menginginkan agar Allah SWT melakukan pelarangan konsumsi miras. Fenomena ini terekam dalam surat Al-Baqarah ayat 21:

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا (21)

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.

 

Disinilah Quran memberi respons jelas, dengan menyatakan bahwa di dalamnya terdapat kejahatan besar dan juga unsur manfaat, tetapi unsur kejahatannya lebih dominan dibandingkan manfaatnya.

Alkisah, pernah diselenggarakan pesta meriah di kediaman salah seorang dari kalangan Anshar, bernama Abdurrahman bin ‘Auf, dan terjadilah pesta miras hingga mereka teler. Dalam salah satu riwayat asbabunnuzul, sahabat Ali RA didaulat menjadi imam shalat Isya, namun karena mabuk, ia keliru saat membaca surat al-Kaafirun. Huruf nafi Pada ‘laa’ a’budu maa ta’buduun tidak terbaca, sehingga menjadi a’budu maa ta’budun. Jama’ah shalat akhirnya kacau dan bubar.

Peristiwa tersebut kemudian sampai kepada Nabi Muhammad SAW, lalu turunlah surat An-Nisa’ ayat 43:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ (43)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.

 

Diturunkannya ayat ke-43 surat An-Nisa’ ini belum memberikan solusi tegas mengenai larangan miras secara total selain membatasi konsumsinya, yakni larangan minum khamr di waktu menjelang shalat. Sementara kebiasaan mabuk-mabukan masih berjalan di kalangan sahabat Nabi SAW.

Beberapa waktu kemudian, diadakan pesta lain di taman salah seorang sahabat bernama Atban bin Malik dan mengundang kaum muslimin, salah satunya Sa’ad bin Abi Waqas. Dalam pesta itu, miras kembali dihidangkan dan dalam tempo tidak terlalu lama mereka mabuk dan terjadi pertikaian antara golongan Muhajirin dan Anshar. Bahkan menurut satu riwayat, sahabat Sa’ad bin Abi Waqas mengalami cedera serius di kepalanya akibat dipukul tulang geraham unta. Seketika itu  Sa’ad bin Abi Waqas menemui Nabi dan melaporkan perlakuan kaum Anshar, sampai akhirnya turun surat Al-Maidah ayat 90:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keberuntungan.

 

Dalam kasus pertikaian akibat miras yang dianggap mengancam soliditas sosial dan menimbulkan ekses serius bagi keutuhan dan persatuan umat Islam, Quran merespons tegas dengan ayat ke-90 surat Al-Maidah. Dengan ayat tersebut, secara tegas, konsumsi miras dinyatakan haram selama-lamanya.

 

Islam Melarang Tegas Konsumsi Miras

Islam akhirnya secara tegas mengharamkan konsumsi miras. Pengharaman miras ini menurut jumhur ulama terjadi pada tahun ke-3 Hijriah setelah perang Uhud, walaupun Al Khatib berpendapat, keputusan itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriah.

Setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah (telah) mengharamkan khamr, barangsiapa sampai kepadanya ayat ke-90 surat Al-Ma’idah ini, padahal masih mempunyai sedikit khamr, tidak boleh meminum dan menjualnya”.

Abu Sa’id mengisahkan, lalu orang-orang pergi ke jalan-jalan di Madinah sambil membawa sisa khamr yang dimiliki dan menuangkannya di jalanan. Sampai sepanjang jalan di Madinah bau anyir akibat banyaknya khamr yang dibuang di jalanan.

Tidak itu saja, Nabi Muhammad SAW tegas menghukum pemabuk sebanyak 40 kali cambukan. Apabila tidak jera dan mabuk lagi, sanksi cambukannya dilipatkan menjadi 80 kali cambukan, sebagaimana terjadi di era khalifah Umar bin Khattab RA. Larangan konsumsi miras memiliki landasan kuat, karena ekses negatif dan destruktif, baik di dunia maupun akhirat. Menurut Abu Laits, kita wajib menjaga kesehatan akal dengan tidak mengkonsumsi narkoba, termasuk miras.

Ada sepuluh hal yang menggiring kepada kehinaan akibat minuman keras, yaitu: (1) pelakunya seperti orang gila, (2) melenyapkan kesadaran dan pemborosan, (3) menimbulkan pertikaian dan merusak integritas, (4) menghalangi untuk mengingat Allah dan mengerjakan shalat, (5) menggiring pada perbuatan zina, (6) membuka peluang untuk mentalak istri tanpa disadari, (7) sumber malapetaka dan kejahatan, (8) mencemarkan kredibilitas keluarga sebab peminum arak dengan sendirinya menjadi fasiq, (9) tertutupnya pintu berkah bagi dirinya, karena kebaikan dan do’anya tidak diterima selama 40 hari, dan     (10) dikhawatirkan mati dalam keadaan kafir.

 

Melihat berbagai ekses negatif yang mungkin terjadi sebab konsumsi miras, penulis mengingatkan dan mendorong kepada eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPR) untuk tegas membatasi, melarang, dan memberikan sanksi berat terhadap pelanggaran miras dari hulu sampai hilir. Hal ini harus dilakukan demi menjaga kesehatan rakyat Indonesia agar menjadi bangsa yang sehat, kuat, adil, makmur, dan sejahtera lahir-batin dalam naungan rida Allah SWT yang dalam Quran disebut, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Amiin.

 

إن الله يأمر بالعدل والإحسان, وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكروالبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. اذكروا الله العظيم يذكركم, واسئلوه من فضله يعطكم, ولذكر الله أكبر.

 

Penulis : Dr. Fuad Thohari (Sekbid Fatwa MUI DKI
Editor : Raihan

Firman Qusnul Yakinhttps://www.muidkijakarta.or.id
Salah satu anggota bidang Infokom MUI DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Firman Qusnul Yakinhttps://www.muidkijakarta.or.id
Salah satu anggota bidang Infokom MUI DKI Jakarta
554FansLike
2,178FollowersFollow
408SubscribersSubscribe

Must Read