Respon Alquran terhadap Miras dan 10 Ekses Destruktifnya

on

Respon Alquran terhadap Miras dan 10 Ekses Destruktifnya

Apapun dalihnya, konsumsi miras tidak akan membawa situasi yang kondusif bagi tatanan umat manusia. Bagaimana Alquran merespon soal miras ini?

Oleh: KH. Fuad Thohari

Isu Minuman Keras (Miras) belakangan ini cukup menyita publik Tanah Air. Pasalnya, Presiden Joko Widodo bakal melegalkan usaha barang haram ini dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Tentu saja, Perpres ini akhirnya menimbulkan banyak tantangan dan gugatan dari pelbagai pihak. Terutama sekali, dari organisasi-organisasi Islam besar, seperti NU, Muhammadiyah dan mayoritas umat Islam. Bahkan, terkait Perpres itu sempat tersiar pesan berantai akan terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut pembatalan kebijakan non-populis ini. Alhamdulillah, akhirnya, Presiden Jokowi pada 2 Maret 2021 resmi mencabut dan membatalkannya.

Memang, penolakan sebagian besar masyarakat  cukup beralasan. Sebab lembaran sejarah –klasik dan modern–mencatat bagaimana seteguk minuman keras telah memicu segala jenis kejahatan.

Jika kita melacak akar sejarah, di kalangan masyarakat Jahiliyah, kebiasaan menenggak botol minuman keras dan mabuk-mabukan dianggap simbol kenikmatan tertinggi. Miras di mata mereka merupakan hadiah berharga. Bahkan mayoritas lelaki Jahiliyah adalah pemabuk berat kecuali 3 orang; Rasulullah Muhammad saw., sahabat Abu Bakar r.a. dan Ustman bin Affan r.a.  Wajar jika mabuk dan teler dianggap kebanggaan sejati; prestise tersendiri, jika seseorang mampu menggelimangi dirinya dengan minuman keras karena hal itu dipandang sebagai bukti kedermawanan (karamah). Tidak itu saja, komoditas unggulan dari Hijaz yang diperebutkan para pedagang  di pasar International di zaman Nabi  Muhammad saw sebagaimana disinggung dalam surat Quraisy (QS. 196) adalah susu, madu, dan khamar. Penelitian terhadap syair Arab pra-Islam menunjukkan bahwa mabuk-mabukan sudah menjadi sindrom.    Di tengah situasi  kurang kondusif  semacam inilah respons  Alquran terhadap miras harus ditelaah.

Landasan Teologis 

Miras dalam Alquran disebut khamar, diambil dari bahasa Arab yang berarti arak atau tuak (pengertian dalam bahasa Indonesia), bersifat memabukkan karena mengandung alkohol. Dinamakan khamar karena: 1)  bisa menghilangkan akal, 2) proses pembuatannya selalu ditutupi agar tidak tertimpa sesuatu yang bisa merusaknya, di samping untuk menjaga kualitas, dan  3) bisa merusak kapabilitas (fungsi) akal.

Dalam perspektif fiqh, khamar adalah setiap minuman yang memabukkan, baik sedikit atau pun banyak. Hal ini merujuk pada teks hadis Nabi yang diriwayatkan Ibn Umar yang artinya, “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram”.

Pada periode Makkah, Alquran menyebut miras sebagai salah satu rahmat Allah Swt bersama susu dan madu  (Alquran, Al-Nahl/16:67).

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(67)

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan…

Respons Alquan ini tetap dipertahankan selama periode Mekah. Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, dikabarkan  bahwa di sana terdapat sekelompok umat Islam, di antaranya Umar bin Khattab r.a. dan Muaz bin Jabal r.a yang menginginkan agar Allah Swt melakukan pelarangan konsumsi miras. Fenomena semacam ini, terekam dalam Alquran, surat Al-Baqarah, 2:21 yang berbunyi:

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

 

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.

 

Selang beberapa waktu, diselenggarakan pesta meriah di rumah salah seorang kalangan Anshar bernama Abdurrahman bin ‘Auf. Terjadilah pesta mencekik botol miras hingga mereka teler. Ketika salah seorang dari mereka menjadi imam untuk shalat malam, bacaannya keliru karena mabuk. Ketika peristiwa itu dilaporkan kepada Nabi Muhammad Saw, maka turunlah ayat Alquran surat             An-Nisa’/4:43 yang berbunyi:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

 

Tetapi ayat ini belum memberikan solusi yang tegas mengenai miras selain membatasi pengkonsumsiannya. Sementara kebiasaan mabuk-mabukan pun masih tetap berjalan di kalangan sahabat Nabi. Dikisahkan setelah beberapa waktu kemudian, diadakan pesta lain di taman salah seorang sahabat, yang bernama Atban bin Malik dan mengundang kaum muslimin, salah satunya Sa’ad bin Abi Waqas. Dalam pesta meriah ini, miras kembali dihidangkan dan dalam tempo tidak terlalu lama mereka mabuk, sehingga terjadi pertikaian antara golongan Muhajirin dan Anshar. Bahkan menurut satu riwayat, sahabat Sa’ad bin Abi Waqas mengalami cidera yang cukup serius di kepalanya karena dipukul tulang geraham unta. Seketika itu  Sa’ad bin Abi Waqas menemui Nabi dan melaporkan perlakuan kaum Anshar terhadap dirinya,  sampai akhirnya turun surat     Al Maidah/5:90:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(90)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam kasus miras ini, respons Alquran masih mentoleransi pengkonsumsian minuman keras, bahkan dianggap sebagai salah satu anugerah Tuhan. Nampaknya ketika itu pengkonsumsian miras belum menimbulkan ekses yang serius bagi kaum muslimin.

Ketika umat Islam hijrah ke Madinah, mereka tidak saja berubah menjadi suatu masyarakat global, tapi juga menjadi semacam negara Islam. Pengkonsumsian  miras menjadi suatu problema serius.   Di sinilah  Alquran mulai memberi respons yang jelas. Pertama-tama, dengan menyatakan bahwa di dalamnya terdapat kejahatan besar dan juga unsur manfaat, tetapi kejahatannya lebih dominan dibandingkan manfaatnya. Kedua, diadakan penegasan yang lebih ketat dengan melarang melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk. Yang terakhir, ketika pengkonsumsian miras telah mengancam integritas sosial, maka larangan pengkonsumsian miras secara eksplisit turun. Pelarangan ini menurut jumhur ulama terjadi pada tahun III hijriyah setelah perang Uhud, walaupun          Al Khatib berpendapat, larangan itu terjadi pada tahun II hijriyah.

Larangan pengkonsumsian miras memiliki landasan kuat, karena eksesnya yang negatif dan cenderung destruktif baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Abu Laits ada sepuluh hal yang akan menggiring kepada kahinaan dan posisi yang tercela akibat minuman keras, yaitu: 1) pelakunya seperti orang gila, 2) melenyapkan kesadaran dan pemborosan,  3) menimbulkan pertikaian dan merusak integritas,  4) menghalangi untuk mengingat Allah dan mengerjakan shalat, 5) menggiring perbuatan zina,      6) membuka peluang untuk mentalak istri tanpa disadari, 7) sumber malapetaka dan kejahatan,   8) mencemarkan kredibilitas keluarga sebab peminum arak dengan sendirinya menjadi fasiq, 9) tertutupnya pintu berkah bagi dirinya, karena kebaikan dan do’anya tidak diterima selama 40 hari, dan     10) Dikhawatirkan mati dalam keadaan kafir.

Demikianlah respons Alquran terhadap miras, periodisasi pengharaman, dan ekses destruktifnya. Apapun dalihnya, pengkonsumsian miras tidak akan membawa sistuasi yang kondusif bagi tatanan umat manusia. Untuk itu, usaha pemerintah dalam membatasi dan memberi sanksi tegas   terhadap pelanggaran miras   –kalau perlu melarang– pengkonsumsian miras, sebagaimana dulu dinyatakan dalam RUU Minuman Beralkohol   labih 5 tahun yang lalu (2015),  tentu sangat diharapkan. Wallahu A’lam.

 

 

Catatan:

Penulis adalah Pengurus LDNU-PBNU, Sekbid Komisi Fatwa MUI,  dan Dosen Tetap  di UIN Syahid Jakarta. Tulisan ini pernah dimuat di Mimbar Ulama No. 218/Jumad Tsani 1417 H/Oktober 1996 dengan penyuntingan seperlunya.

Firman Qusnul Yakinhttps://www.muidkijakarta.or.id
Salah satu anggota bidang Infokom MUI DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Firman Qusnul Yakinhttps://www.muidkijakarta.or.id
Salah satu anggota bidang Infokom MUI DKI Jakarta
554FansLike
2,176FollowersFollow
408SubscribersSubscribe

Must Read