sumber foto www hdfreewallpapers net

Sungguh, suatu yang ganjil dan memprihatinkan bila seorang muslim yang mengaku lazim bershalawat– baik saat beribadah maupun saat berdoa [berzikir]– tidak mengetahui makna ‘shalawat’ itu sendiri.  Karena itulah, ada baiknya, kita singgung pengertian shalawat terlebih dahulu.

Mengacu definisi bahasa [Arab], sebagaimana termaktub dalam Ensiklopedi Hukum Islam dan ditulis KH. Syarief Muhammad Al-Aydarus,  shalawat adalah doa, rahmat Allah, berkah dan ibadah. Sedangkan seorang pakar tafsir Tanah Air yang namanya tak asing lagi di telinga kita, M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an tentang Zikir dan Doa, menyebutkan begini: ‘Shalawat’ adalah bentuk jamak [plural] dari kata ‘shalat’ yang dari segi bahasa memiliki pelbagai makna. Jika ‘shalat’ dilakukan oleh seseorang  yang lebih rendah derajatnya kepada yang lebih tinggi atau dari manusia kepada Tuhan, maka  ia berarti permohonan; jika dilakukan oleh malaikat maka maknanya adalah permohonan maghfirah [ampunan]; sedang bila ‘shalat’ dilakukan oleh Allah swt, maka maknanya adalah curahan rahmat.

Sementara secara istilah, shalawat adalah menyampaikan permohonan doa keselamatan dan keberkahan kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw dan yang membacanya akan mendapatkan pahala.  [lihat KH. Syarief Muhammad Al-Aydarus dalam 135 Sahalawat Nabi: Pustaka Hidayah, 2010].

Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa shalawat Allah kepada hamba-Nya dibagi kepada dua macam: shalawat khusus dan shalawat umum. Menurut sebagian ulama, sebagaimana disebutkan Quraish Shihab, shalawat Allah yang bersifat umum itu yang dicurahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, termasuk juga di sini shalawat yang dipanjatkan Nabi Muhammad  kepada sebagian sahabat beliau. Sedangkan shalawat yang bersifat khusus adalah yang ditujukan kepada para nabi dan rasul, utamanya kepada Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad saw.

  1. Syarief menambahkan, shalawat Allah kepada Nabi Muhammad artinya memuji Nabi Muhammad, menampakkan keutamaan, dan kemuliaan-Nya serta memuliakan dan mendekatkan Muhammad kepada diri-Nya. Sedang pengertian kita sebagai hamba-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah mengakui kerasulannya, memohon kepada Allah agar menganugerahkan keutamaan dan kemulianya-Nya demi kebaikan kita juga sebagai umat Muhammad saw.

Berdasarkan uraian definisi di atas, nampak jelas, saat seorang muslim bershalawat berarti ia bukan sekadar tengah menyenandungkan madah kepada junjungan Nabi akhir zaman, tapi juga sedang bermunajat kepada Allah swt, Sang Penguasa Alam. Artinya, ada segenap harapan yang dimaksudkan, dan itu butuh perantara sosok kinasih-Nya, Rasulullah saw, untuk diperkenankan.

Alasan  Bershalawat

Anjuran bershalawat tentu saja bukan datang begitu saja. Bukan sesuatu yang “dibid’ah-bid’ahkan” [dibaru-barukan] tanpa alasan syar’i.  Mari kita tengok firman Allah berikut ini: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan sampaikanlah salam penghormatan kepadanya. “ [QS. Al-Ahzab: 56]

Bayangkan, penegasan shalawat dalam ayat tersebut: Allah sendiri yang menciptakan Nabi Muhammad saw ikut mencurahkan shalawat untuk Nabi-Nya; para malaikat yang masyhur selalu taat beribadah tak luput melantunkan shalawat kepada Rasulullah saw.  Tidakkah itu suatu hal yang sungguh sangat istimewa?  Pertanyaannya: apakah ada alasan untuk seorang muslim tidak bershalawat kepada Nabinya bila Sang Khalik sendiri mengirimkan shalawat untuk Nabi-Nya?

Terkait tafsir ayat tersebut, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa ayat itu seolah ingin menegaskan: “Sesungguhnya Allah [Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa, bahkan Yang Menghimpun segala sifat terpuji], dan [demikian juga] para malaikat yang sangat hormat dan kagum kepada Nabi Muhammad saw; karena itu mereka, yakni Allah dan para malaikat terus menerus bershalawat untuk Nabi [yakni Allah melimpahkan rahmat dan aneka anugerah, sedang malaikat memohon kiranya dipertinggi lagi derajat dan dicurahkan ampunan atas Nabi Muhammad saw yang merupakan makhluk Allah yang termulia dan paling banyak jasanya kepada umat manusia dalam memperkenalkan Allah dan jalan lurus menuju kebahagiaan. Karena itu, hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu [semua] untuknya, yakni mohonlah kepada Allah kiranya rahmat-Nya pun lebih dicurahkan lagi kepada beliau; dan di samping itu, hai orang-orang beriman, hindarkanlah dari beliau segala aib dan kekurangan serta sebut-sebut dan ingat-ingatlah keistimewaan dan jasa beliau dan bersalamlah, yakni ucapkanlah salam penghormatan kepada beliau salam yang sempurna lagi penuh tuntunan beliau.”

Keistimewaan perintah shalawat dalam ayat tersebut kian jelas mengemuka manakala didapati bahwa itulah satu-satunya perintah dimana Allah sendiri terlibat intens di dalamnya. Pasalnya, dalam beberapa ayat lainnya –sebagaimana dikatakan KH. Habib Syarief Muhammad Alaydarus—Allah memerintahkan shalat, tetapi Dia sendiri tidak shalat, Allah memerintahkan zakat, tetapi Dia sendiri tidak berzakat, Allah memerintahkan haji, tetapi Dia sendiri tidak berhaji. Namun, untuk perintah membaca shalawat, Allah sendiri bersama para malaikat-Nya membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Bukankah, yang demikian, betapa mulia pengagungan Rabb kita kepada Rasulullah saw? Karena itulah, sudah semestinya, kita yang mengaku atau menyandang predikat muslim senantiasa bershalawat kepada beliau.

 Dari al-Qur’an sudah gamblang alasan perintah bershalawat, lalu bagaimana dengan rujukan hadits-hadits? Tentu saja banyak sekali. Begitu beragam riwayat sahabat yang pernah menyinggungnya.  Antara lain sebagaimana disinggung Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dan dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan tersungkur hidung seseorang yang tidak membaca shalawat kepadaku ketika disebutkan namaku di hadapannya.’” [HR. Tirmidzi. Imam Tirmidzi menerangkan bahwa hadits ini adalah hadits [kategori] hasan]

Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang mendengar namaku disebutkan, hendaklah dia membaca shalawat kepadaku, apabila dia membaca shalawat satu kali maka Allah Azza wa Jalla akan memberikannya sepuluh kali lipat.” [HR. Ibnu Sinni]

Sementara hadits lain disebutkan, diriwayatkan dari Ali ra dan dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Orang yang bakhil [pelit] adalah orang yang tidak mau membaca shalawat kepadaku ketika namaku disebutkan..’” [HR. Tirmidzi. Menurut Imam Tirmidzi hadits ini adalah hadits yang derajatnya shahih. Dan Imam Nasa’i pun meriwayatkan hadits ini.]

Imam Muslim sendiri, sebagai salah satu perawi yang namanya erat dengan hadits shahih, meriwayatkan hadits soal shalawat. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah menurunkan sepuluh rahmat kepadanya.” [HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra.]

Lalu Imam Abu Hurairah menuturkan bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda, “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai persidangan Hari Raya. Bershalawatlah kepadaku, karena shalawat kalian sampai kepadaku dimana saja kalian berada.” [HR. Nasa’i]

Nabi Muhammad saw juga bersabda, “Setiap kali seseorang mengucapkan salam kepadaku, maka Allah mengembalikan ruhku sehingga aku bisa menjawab salamnya.” [HR. Abu Daud]

Dalam hadits lain juga disebutkan, “Setiap mukmin yang bershalawat satu kali kepada Nabi, niscaya malaikat Jibril memohonkan rahmat untuknya sepuluh kali.” [HR. Ibnu Majah]

Bila sejumlah hadits di atas tidak memuaskan Anda, simak juga hadits berikut, sebagaimana ditulis Abdullah Hajjaj dalam buku Agar Doa Terkabul. Dari Abdullah ra, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang ditugasi khusus di muka bumi untuk menyampaikan salam yang diucapkan umatku kepadaku.” [HR. Nasa’i]

Nabi Muhammad saw juga bersabda dalam hadits lain yang tidak kalah pentingnya untuk kita cermati. Beliau bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling utama di sisiku kelak di Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” [HR. Tirmidzi]

Demikianlah sejumlah dalil naqli [Qur’an dan hadits] untuk memotivasi kita mendawamkan berzikir dan berdoa dengan shalawat. Sejumlah redaksi di atas menyiratkan betapa shalawat bukan hanya sebuah perintah yang mendatangkan pahala dari Allah, tetapi juga menggairahkan seseorang agar senantiasa mencintai Rasul-Nya.

Berdasarkan dalil di atas pula, tak aneh, bila shalawat kepada Nabi menjadi salah satu poin penting dalam ibadah shalat. Bacaan tasyahud awal dan akhir saat shalat, misalnya, tidak akan sah tanpa membaca shalawat Nabi. Sebab ia merupakan salah satu rukun shalat yang tidak bisa ditinggalkan.

Dan bisa dimaklumi pula, sebagai doa, zikir dan wirid, shalawat sangat diperhitungkan dalam kehidupan seorang muslim. Tengok saja pelbagai ritual spiritual dan kultural yang banyak menggunakan shalawat sebagai wasilah untuk bermunajat. Bila meminjam bahasa Kang Jalal, “Berbahagialah orang-orang yang menandai peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan—lahir, menikah, mendapat rezeki, lulus ujian dan sebagainya—dengan shalawat. Lebih berbahagia lagi, orang-orang yang selalu menggetarkan shalawat dimana pun ia berada.”

Kenapa Kita Membaca Shalawat [Mendoakan] Nabi?

Kita semua mafhum dan bersepakat bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad saw, adalah manusia pilihan. Ia kekasih Allah, sang Nabi yang jauh sebelum Nabi Adam lahir ke dunia, nurnya sudah diciptakan Allah. Dan syahdan, mahar kakek moyang kita, Nabi Adam, kepada istrinya, Siti Hawa, adalah dengan membaca shalawat sebanyak 10 kali. Bukankah sangat istimewa Nabi kita itu? Namanya sudah disebut-sebut dalam perjanjian sakral antara Adam dan Hawa dalam lembaga suci bernama: pernikahan.

Maka, wajar, bila predikat yang melekat pada diri Muhammad adalah sosok ma’shum, terpelihara dari dosa, dan tentu saja garansi surga tak terelakkan untuknya.  Lalu, pertanyaanya, dengan posisi yang super istimewa itu: kenapa Rasulullah mesti kita kirimi shalawat [doa]-kan?  Bukankah sebaliknya, kita yang dosanya begitu banyak  yang selayaknya didoakan?

Secara logika, tentu saja, tanda tanya itu seringkali menyelinap di sebagian benak kita.  Jawaban untuk soal ini, pertama; bershalawat sejatinya ekspresi kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Bukankah salah satu bukti rasa cinta ialah kenikmatan menyebut nama orang yang kita cintai. Dan kalau orang yang kita cintai itu tahu betapa besar cinta kita kepadanya, maka secara otomatis semakin membuka besarnya peluang kita juga dicintainya, semakin besar kesempatan Rasulullah melimpahkan syafaatnya untuk kita, semakin besar pula kesediaan Allah mencintai kita, sebagai konsekuensi logis kita mencintai manusia terkasih-Nya.

Kedua, untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya, kita tengok penjelasan mufassir Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab.  Sebuah kesimpulan yang tidak bisa dinafikan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia pendidik dan perantara utama bagi pengetahuan dan keimanan orang-orang beriman. Dialah manusia yang paling besar jasanya dibanding manusia-manusia lainnya; orang tua,  guru, kyai, dan lain-lainnya. Sekalipun, jasa mereka—katakanlah—besar menuntun secara spiritual, tetapi apa yang mereka ajarkan itu tidak dapat mereka lakukan tanpa kehadiaran Nabi Muhammad saw ke muka bumi. Lebih-lebih apa yang Rasulullah ajarkan itu tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan duniawi, tapi berfaedah bagi kehidupan akhirat berupa limpahan pahala, surga dan keridhaan Allah swt.

Dari sinilah, lanjut Quraish, sangat dipahami firman Allah: “Katakanlah [Nabi Muhammad saw]: ‘Jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, kaum keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” [QS. At-Taubah (9): 24] Juga bisa dimengerti hadits Nabi yang berbunyi. “Tidaklah [sempurna] iman seseorang hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya dan anaknya, bahkan manusia seluruhnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits lain juga disebutkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa sahabat Nabi, Abdullah bin Hisyam ra berkata: “Kami pernah bersama Nabi saw. Ketika itu beliau tengah memegang tangan Umar bin Khaththab ra. Lalu Umar berkata kepada Nabi: ‘Wahai Rasul, sungguh aku mencintaimu melebihi cintaku kepada segala seuatu, kecuali jiwaku yang berada dalam diriku.’ Nabi saw bersabda: ‘Tidak! Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya [tidak sempurna imanmu] sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.’ Umar kemudian berkata [setelah sekian waktu]: ‘Sekarang, demi Allah, Engkau lebih kucintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi saw pun bersabda: ‘Sekarang, wahai Umar [engkau meraih iman sempurna].”

Lebih dari itu, Imam Fakhrurazi dalam tafsirnya berkata: “JIka ada yang bertanya, ‘Apabila Allah dan malaikat-Nya telah bershalawat kepada Rasulullah saw, lalu apa yang beliau butuhkan dari shalawat kita? Jawabannya adalah shalawat yang kita bacakan itu bukan lantaran Rasulullah saw membutuhkannya. Sebab, kalau demikian, tentu Rasulullah saw juga tidak memerlukan shalawat para malaikat, karena Allah swt telah bershalawat kepadanya. Maksud dari shalawat yang kita baca adalah untuk menampakkan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw sebagaimana Allah swt mewajibkan kita untuk berzikir kepada-Nya, padahal Dia tidak membutuhkan zikir tersebut.  Hal itu, tiada lain, untuk menampakkan keagungan Allah dari kita sebagai ungkapan kasih sayang Allah untuk memberikan pahala kepada kita.

Ya, dialah Nabi Muhammad saw,  suluh pertama hingga kita mengerti mana yang baik dan buruk. Dialah pijar iman pertama yang meniti kita ke jalan-Nya yang lurus. Berkat beliaulah, keindahan iman yang syahdu dan damai mengisi kehidupan batin kita. Dan, karena itulah, kita wajib mensyukurinya. Kita wajib berterima kasih kepadanya atas jasa tak terpermanainya itu. Dan bershalawat adalah bentuk balas budi kita kepadanya. Dari sinilah dapat dipahami kenapa akhirnya kita diperintahkan bershalawat oleh Allah swt sebagaimana tertulis dalam ayat 56, surat al-Ahzab di atas; sebuah perintah yang tidak datang atas inisiatif pribadi Nabi saw sendiri, melainkan bersumber dari Allah Azza wa Jalla.

Unik dan hebatnya lagi, perintah bershalawat itu akhirnya mendatangkan maslahat bagi diri kita sendiri, jauh sebelum Hari Hisab umat manusia berlangsung.  Bukankah kisah-kisah keajaiban orang-orang yang berdoa dan berzikir dengan shalawat itu sudah banyak sekali? [Muaz/berbagai sumber]