Bagaimana dakwah di era globalisasi? Apa strategi dakwah di masyarakat perkotaan? Bagaimana ulama dan dai menghadapi masyarakat urban yang melek teknologi? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang agaknya ingin dijawab dalam sarasehan bertajuk “Laboratorium Dakwah dan Format Baru Dakwah di Era Globalisasi” yang diadakan Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia [MUI] Provinsi DKI Jakarta pada 15 Oktober 2014 lalu.

Bahwa berdakwah di tengah masyarakat kota yang cenderung hedonis, pragmatis, kritis, dan rasional sejatinya perlu strategi jitu. Terlebih, karakter penduduk urban yang tidak ingin didikte dan mafhum teknologi.  Melalui Internet, dengan sekali klik di telpon seluler misalnya, mereka sudah bisa mengakses informasi seputar keislaman yang diinginkan; terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut, entah informasi itu berasal dari rujukan terpercaya atau tidak. Hasilnya: banyak umat yang keliru dan “tersesatkan” dalam mengunyah ilmu dan informasi. Untuk itulah, ulama dan dai berkompeten diharapkan mampu menguasai format dan strategi baru dalam menyebarkan ilmu dan gagasan. Pasalnya, dakwah yang ada sekarang ini– sebagaimana disampaikan KH. Zuhri Ya’qub, salah seorang Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta dalam seminar ini—masih kurang kreatif dan inovatif sehingga tidak menyentuh masyarakat perkotaan.

“Metode dakwah kita masih tradisional. Belum bertransformasi menjadi metode dakwah yang modern. Dengan demikian, susah melihat pengaruh dakwah dan implikasinya,” imbuhnya.

Untuk itulah, lanjut KH. Zuhri, kita harus berani reinterpretasi dalam berdakwah agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang ini. Tidak cukup, misalnya, dengan dakwah seputar justifikasi hukum halal-haram saja. Harus bisa berdakwah yang berusaha mencari jalan keluar terbaik dengan metode yang kreatif.

Hal senada diungkapkan DR. Nasrullah, seorang akademisi yang menulis banyak tema dakwah, dalam sarasehan yang berlangsung di Hotel Grend Alia Prapatan, Jakarta Pusat ini. Menurutnya, penyebab ulama-ulama mumpuni kurang diapresiasi lantaran masyarakat kota yang lebih melirik elektronik dalam mencari “ilmu” ketimbang ulamanya. Mereka lebih mengandalkan Prof. Google via Internet. Sementara mayoritas ulama yang ada belum melek teknologi digital untuk berdakwah. Bagi Nasrullah, para ulama—terutama sekali yang ada di MUI—semestinya mulai belajar memahami dan memaanfaatkan apa yang dibutuhkan di kalangan urban. “Terlebih,” tambah Nasrullah, “dakwah di perkotaan belum optimal. Lembaga-lembaga keagamaan dan dai-dainya cenderung berjalan sendiri-sendiri dalam berdakwah. Tidak terpola. Asal jalan. Tidak sistematis, sehingga tidak banyak memberi pengaruh signifikan.”

Oleh karena itulah, saran Nasrullah, selain kecapakan berdakwah dengan metode kekinian, seyogyanya ada laboratorium dakwah tersendiri guna mengkaji dan menganalisis persoalan-persoalan dakwah kontemporer. Banyak hal bisa dilakukan bila ada laboratorium dakwah; mulai dari mengumpulkan data dan fakta seputar masyarakat muslim perkotaan, meneliti dan mengkajinya, kemudian mencari solusi bagaimana sebaiknya berdakwah, apakah dengan model dakwah billisan [penyuluhan], dakwah bilhal [aksi pengembangan] dakwah bittadbir [manajemen] atau lain-lainnya.

Poin-poin penting serupa itu juga yang disampaikan KH. Abdurrahman As’ad Al-Habsyi dalam acara yang dihadiri peserta dari perwakilan MUI 5 wilayah Jakarta serta mahasiswa dan mahasiswi PDU [Pendidikan Dasar Ulama] dari lima wilayah DKI Jakarta. Bagi KH. Abdurahman, proses dakwah memang tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. “Dengan begitu dakwah menjadi elegan, dan sejatinya mengikuti prinsip dakwah ala Rasulullah pada zaman dulu yang menggunakan personal approach dan collective approach. Tentunya, dengan model dan kreasi dakwah tersendiri sesuai zaman sekarang,” tegasnya.

Begitulah, semoga perhelatan Komisi Dakwah MUI Pemprov DKI Jakarta kali ini bisa menjadi otokritik dan masukan konstruktif, bukan hanya untuk pengurus dan anggota MUI se-DKI Jakarta, tapi juga ulama-ulama dan para dai lainnya. Semoga. [Teks dan foto: Muaz]