Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 7 Rajab 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 2000 M yang membahas tentang Hukum Memelihara Anjing Kesayangan, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing, setelah;

Menimbang:
1. Bahwa sebagian umat Isalm Indonesia, khususnya yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan memiliki hobi (kesenangan) untuk memelihara anjing, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing.

2. Bahwa hal tersebut menimbulkan pertanyaan sebagian umat Islam, tentang boleh atau tidaknya memelihara anjing, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing menurut hukum Islam.

3. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hukum memelihara anjing, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing, maka MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Hukum Masalah yang dimaksud;

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal tanggal 7 Rajab 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 2000 M yang membahas tentang Hukum Memelihara Anjing Kesayangan, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:
1. Memelihara anjing untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan; atau melacak seseorang atau barang terlarang, hukumnya adalah mubah (diperbolehkan). Sungguh pun demikian, sedapat mungkin anjing tersebut tidak masuk ke dalam rumah. Karena di samping najis mughalladzah (najis yang sangat berat) anjing yang berada di rumah akan menghalang-halangi masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah tersebut. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari sebagai berikut :
عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ وَعَدَ النَّبِيَّ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ جِبْرِيْلُ فَرَاثَ عَلَيْهِ حَتَّى اشْتَدَّ عَلَى النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَلَقِيَهُ فَشَكَا إِلَيْهِ مَا وَجَدَ فَقَالَ لَهُ إِنَّا لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ وَ لَا كَلْبٌ

“Dari sahabat Abdullah bin Umar RA, beliau berkata: “Suatu ketika Malaikat Jibril berjanji akan datang ke rumah Rasulallah SAW. Akan tetapi, pada waktu yang telah dijanjikan Malaikat Jibril tidak datang ke rumah Rasul hingga beliau gelisah. Maka beliau keluar rumah, ternyata Malaikat Jibril ada di luar umah. Sesudah bertemu, beliau bertanya: ‘Kenapa Malaikat Jibril tidak masuk ke dalam rumah?’Maka Malaikat Jibril menjawab ; ‘Sesungguhnya kami tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar (patung)”

2. Memelihara anjing kesayangan, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, melainkan semata-mata karena hobi atau sayang pada anjing hukumnya adalah haram. Karena hal itu akan menghilangkan atau mengurangi pahala amal kebajikan pelakunya. Sebagaimana telah disabdakan Rasulallah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut :
و فى رواية أبي هريرة من اقتنى كلبا ليس بكلب صيد و لا ماشية و لا أرض فإنه ينقض من أجره قيرطان كل يوم

“Dari sahabat Abdullah bin Umar RA, beliau berkata : “Saya mendengar Rasulallah SAW bersabda ; “Barang siapa memelihara anjing selain untuk berburu atau memelihara binatang, maka setiap hari pahalanya berkurang dua gunung”. (Riyadlus-Sholihin, halaman 568)

Di samping itu, memelihara anjing semata-mata karena hobi atau sayang, bukan untuk berburu atau memelihara kebun, ternak, rumah atau lingkungan, merupakan pemborosan (tabzir) yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Bukankah biaya memelihara anjing kesayangan sangat mahal, bahkan terkadang lebih mahal dari biaya hidup manusia? Bukankah uang yang dialokasikan untuk biaya memelihara anjing kesayangan lebih bermanfaat jika disumbangkan untuk biaya pendidikan atau meningkatkan kualitas SDM anak-anak yatim yang kurang mampu? Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT telah berfirman dalam surat al-Isra’, ayat 26-27 :

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (26). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (27)”. QS. Al-Isra’ (17): (26-27)

Jakarta, 7 Rajab 1421 H.
5 Oktober 2000 M

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                                       Sekretaris,

ttd                                                                                ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA       KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                              Sekretaris Umum,

ttd                                                                              ttd

KH. Achmad Mursyidi                      Drs. H. Moh. Zainuddin

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of