sinansari-460x180

Oleh: Dr. H. S. Sinansari ecip

Ketua Komisi Infokom MUI Pusat

Tidak ada yang tahu dengan tepat berapa banyak pemeluk Islam di Indonesia atau di mana pun. Angka-angka dari catatan statistik hanyalah prediksi. Pernah suatu ketika pemeluk Islam di Indonesia disebut-sebut sebanyak 90% dari jumlah penduduknya. Angka tersebut makin lama menyusut. Kabar terakhir mencemaskan, angka itu turun menjadi 85%, bahkan bukan tidak mungkin tinggal 80%.

Penurunan bisa terjadi akibat kemajuan pihak lain dalam penyebaran agamanya. Orang muslim dengan mudah dibujuk dengan pengajian tertentu yang ternyata bukan pengajian Islami. Sementara, pemeluk Islam sejak dulu masih terus bangga akan kebesaran jumlah mereka. Jumlah besar tanpa diimbangi kualitas berarti bukan suatu kekuatan. Ibaratnya umat Islam menjadi kekuatan yang ompong. Seperti  dalam permainan sepak bola, pihak lain menyerang terus tapi kita hanya bertahan sekadarnya.

Kita perhatikan, perkembangan kota-kota Indonesia mencemaskan. Banyak perkampungan baru yang hanya dihuni oleh para elit kaya. Kebanyakan mereka mendirikan kota satelit mandiri. Mereka dengan berbagai rumpunnya di pinggir kota membangun hunian disertati pusat niaga, sekolah, dan rumah sakit. Pada akhirnya mereka mendirikan tempat ibadah agama mereka.

Kota-kota satelit mandiri akan tumbuh di mana-mana. Mereka akan menjadi penguasa baru. Secara ekonomis mereka akan menguasai kehidupan ekonomi dengan mini-mini marketnya. Dengan cara demikian, perekonomian tradisional tersingkirkan, tak berdaya, lalu mati. Sedihnya, motor ekonomi tradisional  bermodal kecil tersebut adalah kalangan muslim.

Dengan cara itu pula, kalangan muslim tingkat bawah akan memendam rasa tak suka yang mendalam. Jika itu dibiarkan, bukan tidak mungkin secara tak sengaja akan tertanam bom yang bisa meledak suatu ketika.

Umat muslim sering dituduh tidak toleran terhadap perkembangan agama yang lain. Tuduhan ini mengada-ada. Di banyak daerah yang penduduknya muslim banyak berdiri rumah ibadah agama lain, tanpa halangan yang berarti. Tapi di beberapa daerah yang penduduknya muslim tidak mayoritas, masjid sangat dilarang berdiri. Jadi, siapa yang tidak toleran?

Tercatat dalam sejarah, ketika M. Natsir (pimpinan partai Islam Masyumi) mendirikan kabinet, 40% menterinya bukanlah dari kalangan muslim. Jika kita berhitung secara proporsional, “hak non-muslim” untuk jadi menteri waktu itu hanyalah 10%.

Kabinet Jokowi-JK hanya menempatkan beberapa orang non-muslim sebagai menteri. Secara angka, itu proporsional. Tapi kekuatan lain di belakang Jokowi sangat besar, yang memandang dengan sebelah mata kepada kalangan muslim. Kita cermati perjuangan yang berkedok HAM, memaksakan kehendaknya. Perlu diingat, “perjuangan” HAM tidak boleh merugikan HAM orang lain. Sering syarat itu, oleh mereka tidak diindahkan.

Cara lain juga dilakukan untuk memancing kemarahan kalangan muslim. Pornografi tidak perlu diatur, sebab itu hak masing-masing orang.  Usia pernikahan (perempuan) dinaikkan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Contoh lain, minuman keras akan dilegalkan di Jakarta. Umat Islam marah atau tidak? Bisa jadi, jika suasana kemarahan sudah tinggi, ada tujuan-tujuan lain yang tersembunyi mereka perjuangkan diam-diam.

Untuk menghadapi hal-hal di atas, umat Islam tidak boleh cepat marah lagi. Berfikir dengan tenang perlu disampaikan. Jangan cepat naik darah. Belajar pandai perlu terus menerus dikemukakan. Kemarahan menunjukkan kebodohan sebab kita di bawah kendali emosi. Suasana yang emosional mudah terpancing. Jangan merasa besar dan kuat karena masa lalu yang besar dan kuat.

Kini umat Islam Indonesia masih besar tapi tidak kuat lagi. Perhatikan,  di beberapa daerah yang mayoritas penduduknya muslim, pemimpin formalnya malah tokoh beragama lain. Kekuatan Islam mudah dipecah dengan harga yang murah.

Bagaimana masa depan muslim Indonesia? Dewasa ini angkatan muda muslim Indonesia kurang memperhatikan perkembangan Islam di masa depan. Pada keadaan sekarang saja mereka acuh tak acuh. Pendidikan di pesantren yang masih menjadi benteng, jangan dicairkan menjadi pendidikan yang lebih umum seperti yang terjadi pada perguruan tinggi Islam.

Belum lagi kekuatan-kekuatan asing yang akan masuk melalui kerja sama ekonomi, politik, dan budaya. Jika kita tidak kuat, benteng akan rapuh. Bukan tidak mungkin sejarah nanti akan mencatat, penduduk Indonesia tinggal pepuingan kebesaran Islam seperti di Eropa. [Sumber foto feature :  www vectorstock com]

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of