“Kita ini unggul secara kuantitatif. Bukan kualitatif.” Demikian tegas KH. Muhyiddin Junaedi MA, Ketua Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia, saat menyinggung seputar Sikap Umat Islam Menyongsong Pasar Bebas ASEAN 2016 dalam Konferensi Pendidikan Islam Internasional Jakarta-Istanbul pada 22-24 Desember 2015 lalu di Jakarta.

muhyidin-junaediMenurut pembicara yang saat ini juga menjabat Ketua MUI Pusat Bidang Kerjasama Internasional Hubungan Luar Negeri, Muslim Indonesia itu sekitar 220 juta dari 253 juta penduduk Indonesia. Untuk angka sebesar itu, dalam bidang agama, insya Allah, tidak diragukan keterlibatan dan peran umat Islam. Apalagi, Muslim Indonesia dikenal paling toleran sedunia. Sayang, jumlah tersebut belum sebanding dengan perannya di sektor ekonomi. Hal ini bisa dilihat dalam rilis orang terkaya Indonesia di Majalah Forbes 2014 yang menyebutkan hanya satu saja yang Muslim. Hal ini diperparah dengan data kepemilikan kekayaan nasional yang hanya dimiliki 20% oleh umat Islam. Pasalnya, lanjut Kyai berperawakan kecil ini, 80% sisanya dimiliki oleh kelompok minoritas yang akhirnya menentukan kebijakan nasional Indonesia, dan ujung-ujungnya perekonomian Indonesia pun akhirnya ada di lingkaran mereka. Mengetahui fakta tersebut, terlebih pada era MEA yang 2016 ini resmi berlaku, maka umat Islam mesti berubah dan melakukan terobosan besar.

Umat Islam Indonesia tidak bisa sekadar unggul secara kuantitatif, tapi juga harus secara kualitatif. Sumber Daya Manusia yang dimiliki Indonesia harus dimaksimalkan perannya sebagus dan semaksimal mungkin. Hal ini sangat menentukan sukses tidaknya bangsa Indonesia bersaing dengan saudara se-ASEAN yang akan meramaikan pasar bebas ASEAN tahun 2016.

“Pasar bebas ASEAN menciptakan kesempatan dan sekaligus tantangan. Jumlah penduduk Indonesia dan umat Islam yang besar harus menjadi modal untuk menggalang persatuan dan solidaritas keagamaan. Sumber Daya Alam [SDA] dan Sumber Daya Manusia [SDM] umat Islam adalah aset untuk meningkatkan bargaining position. Hal ini tentu saja dengan syarat SDM yang berkualitas,” imbuhnya, menggebu-gebu.

Kiranya, apa yang disampaikan Kyai Muhyiddin tidak berlebihan dan menjadi PR terbesar buat umat Islam Indonesia semua. Ia kemudian mencontohkan bahwa Indonesia punya keunggulan di sektor makanan halal, busana Muslim, pariwisata, farmasi, kosmetik, herbal, industri keuangan syariah, dan industri kreatif yang sedang marak. Terlebih, hal tersebut didukung dengan suasana kondusif Indonesia yang masyhur sebagai negeri Muslim moderat dan menjunjung tinggi local wisdom.

Untuk itulah, sarannya, umat Islam Indonesia mesti mengaktifkan kembali Regional Islamic Da’wah [Dakwah Islam Regional] pada level ASEAN. Ia juga mengusulkan agar ormas-ormas Islam, perguruan tinggi Islam, lembaga keuangan, pesantren, dan pengusaha Muslim sudah selayaknya meningkatkan jejalin kerjasama. “Penguasaan bahasa asing [internasional] pun menjadi  sebuah keharusan untuk memanfaatkan potensi kawasan…” ujarnya.

Bila hal tersebut tidak dilakukan, ia khawatir tantangan umat Islam kian besar, beresiko, dan kian terperosok. “Akan masuk budaya permisif dari negara-negara ASEAN sebagai akibat penerapan pasar bebas ini. Juga akan ada pergesaran nilai budaya dimana pihak yang kuat akan memainkan peran utamanya. Indonesia bisa jadi semata konsumen, bukan produsen. Lebih-lebih, penyakit-penyakit sosial lainya seperti perjudian, prostitusi, Narkoba yang akan semakin terbuka luas,” jelasnya. Belum lagi, lanjut Kyai yang juga menjabat Ketua Wordl Islamic Call Society For Indonesia ini,  umat Islam Indonesia mesti bersaing dengan negara-negara ASEAN yang sudah lebih dulu maju dengan tingkat kesejahteraan tinggi seperti Singapura, Malaysia dan Brunei. Semua itu menjadi tantangan besar buat umat Islam Indonesia. Karenanya, sudahkah umat Islam mempersiapkannya? [Muaz]

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of