“Syekh Dr. Usamah Sayyid Al Azhari adalah salah satu ulama muda yang ilmunya melampaui umurnya”–Habib Ali Al-Jufri

 

Mungkin, kita bisa sepakat dengan ucapan Habib Ali tersebut. Bahwa Syekh Usamah ini bukan sekadar muda, tapi juga sangat mumpuni ilmunya. Tak aneh, bila laman www.themuslim500.com menempaktkannya sebagai salah satu tokoh muslim paling berpengaruh sejagat pada urutan 43.

Siapa sejatinya ulama muda yang menyukai kucing ini? Ia lahir di kota Alexandria, Mesir, pada 16 Juli 1976 (18 Rajab 1936 H) dengan nama lengkap Usamah Sayyid Mahmud Muhammad al-Azhari.

Menurut laman kmnu.or.id, sejak cilik, Syekh Usamah sudah diboyong   keluarga besarnya ke Suhaj, kampung halaman ayahnya, satu wilayah yang masyhur memiliki kebudayaan khas, yang melahirkan banyak penghafal al-Qur’an, daerah yang subur dengan majelis-majelis ilmunya. Lingkungan Suhaj yang kondusif  inilah yang memengaruhi Syekh Usamah untuk mencintai al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman sejak dini.  Di daerah itulah beliau dibesarkan oleh orang tuanya. Kepedulian orangtuanya akan pendidikan agama sangat membentuk Syekh Usamah. Menghafal al-Quran, mendaras kitab-kitab, mengkaji sejarah ulama-ulama, dan menelaah buku-buku dari pelbagai majelis ilmu, dari aneka macam guru adalah proses yang dilalui Syekh Usamah sejak kecil. Lebih-lebih, orangtuanya kerap mencegahnya banyak bermain dan bercanda.

Wajar, bila usianya beranjak remaja, Syekh Usamah terikat terus dengan dunia ilmu. Pada tahun 1999, ia mendapat gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah di Universitas Al-Azhar dengan predikat istimewa, dan pada tahun 2005, pada fakultas yang sama, ia meraih gelar MA-nya untuk konsentrasi Ilmu Hadits. Begitu pula gelar doktoralnya pada riset yang sama: seputar hadits dan ilmu-ilmu hadits.  Di luar  pendidikan formal, Syekh Usamah pun seringkali berpergian ke pelbagai daerah dan negara guna menuntut ilmu dan memperoleh ijazah sanad hadits. Ia, misalnya, rela menempuh jarak yang jauh demi menghadiri majelis Syekh Said Ramadhan al-Bouti di Damaskus, hingga Syekh al-Bouti terkagum-kagum padanya dan mendoakannya agar ia kelak menjadi figur yang mengembalikan kegemilangan Islam di Mesir.

 

Berkat keilmuanya, Mufti Besar Mesir, Syekh Ali Jomaah, memilihnya untuk mengisi khutbah Jumat di Masjid Sultan Hassan sejak 2005 hingga 2009. Selain rutin mengajar di almamaternya, Universitas Al-Azhar, Syekh Usamah juga biasa mengajar di Masjid Riwaq al-Atrak dan menjadi Senior Fellow pada lembaga Kalam Research & Media.

Salah satu karya Syekh Usamah yang bagus dan mendapat sambutan luas pembaca  adalah kitab berjudul Al-Haqqul Mubīn fī Raddi ‘alā man Talā’aba bid-Dīn (berisi kritikan Syekh Usamah sebagai seorang alumnus al-Azhar terhadab Sayyid Qutb).

Ilmu yang luas. Usia yang muda. Dan peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan membuat Syekh Usamah sering diundang ke forum-forum ilmiah internasional. Bebeapa waktu lalu, ia pernah diundang ke Indonesia. Kini, pada forum Konferensi Islam Internasional Jakarta, ia akan kembali ke Indonesia sebagai pembicara. (mz/pelbagai sumber)

 

Redaksi: Untuk update info-info event MUI DKI Jakarta, terutama seputar Konferensi Islam Internasional Jakarta (JAIIC), silakan Like halaman Fanspage Facebook kami: MUI DKI Jakarta Events. Atau follow kami di Instagram: muidki, dan Twitter: @muidkievents.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.