sumber foto:http://freeislamiccalligraphy.com/

Bila Nabi saja menangis tersedu-sedu dan para sahabat pilihanya bersedih saking takutnya neraka Jahanam; bagaimana dengan kita, umatnya, yang hidup dengan gelimang dosa di zaman ini?

 Ia seorang yang ma’shum; terjaga dari dosa, terpelihara dari segala yang buruk-buruk. Itu garansi Allah kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. Tapi, tahukah Anda, dalam beberapa literatur hadits dan sejarah, barangkali, hanya junjungan kita itulah yang paling merasa sering berdosa dan menumpahkan air mata? Ya, air mata karena rasa takut-Nya kepada Allah azza wa jalla dan segala siksa-Nya kelak.

Betapa tidak, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, misalnya, ia pernah berkata: “Demi Allah, aku meminta ampunan Allah [istighfar] dan aku bertaubat itu paling sedikit 70 kali dalam sehari”.

Bisa saja bukan, karena posisinya yang ma’shum, Nabi kemudian berleha-leha dalam ibadah? Tapi, Nabi tidak demikian. Dalam hadits lain beliau, syahdan, ketika ditanya salah seorag sahabat kenapa ibadah beliau begitu giat dan susah payah, Nabi bersabda bahwa laku ibadahnya itu; zikir dan istighfarnya itu adalah lambang rasa syukurnya kepada Allah. Subhanallah!

Lalu, bagaimana dengan kita, umatnya,  yang senantiasa bergelimang dosa, yang masih suka kufur atas segala nikmat dan anugerah-Nya; mampukah kita mengikuti jejaknya yang demikian? Untuk itu, kebetulan bulan ini masih bulan Rabi’ul Awal, bulan ketika Rasulullah hadir menyinari bumi dan membawa cahaya di dunia, marilah sekali-kali kita rayakan bukan dengan haflah yang gegap gempita. Melainkan, kita mulai dengan mengikuti jejaknya: mendawamkan istighfar. Sebab, toh, kita tidak tahu mana amal perbuatan kita yang suci dan kotor, mana ibadah kita yang diterima Allah dan yang bukan.  Tumpahkanlah air mata saat Anda menghiba pertaubatan dan ampunan kepada Allah. Ikutilah jejak Rasul pilihan-Nya.

Untuk menguatkan, mari saya kutipkan sebuah kisah air mata Rasulullah dalam Kitab Usfuriah [versi terjemahan Musthafa Helmy].  Anas bin Malik berkisah bahwa ketika turun ayat al-Qur’an: “Sesungguhnya Jahanam tempat mereka kesemuanya,” menangislah Nabi dan itu membuat para sahabat ikut menangis. Semua tidak tahu apa yang membuat Nabi menangis begitu sangat: mereka tidak tahu Jibril telah datang kepada Nabi.  Para sahabat tak berani bertanya.

Hanya Abdur Rahman bin ‘Auf (sebagian riwayat menyebut Umar bin Khattab) datang menemui Fatimah. Seperti diketahui, Nabi sangat bahagia jika bertemu Fatimah.

Assalamu’alaik, wahai putri Rasulullah,” sapa Abdur Rahman.

“Wa’alaikassalam,” jawab Fatimah. “Siapa Anda?”

“Abdur Rahman bin ‘Auf.”

“Ada apa?”

“Nabi tiba-tiba menangis, sangat sedih. Saya tak mengerti apa yang dibawa Jibril kepada beliau.”

“Baiklah,” jawab Fatimah. “Perkenankan aku mengenakan baju. Siapa tahu Nabi akan memberitahuku hal yang disedihkan itu.”

Fatimah mengenakan selimut yang telah rusak, bertambal dengan 12 buah sulaman, dari kulit kayu korma dan semacamnya.

Waktu Fatimah keluar, Umar melihatnya. Begitu kaget Umar melihat Fatimah dengan bajunya yang compang-camping. Betapa sedihnya. Sungguh sedih, bagi putri seorang Nabi. Putri-putri kaisar mengenakan baju sutera harir dan sundus, sedang putri Nabi kita hanya mengenakan selimut dengan 12 tambalan!”.

Ketika Fatimah masuk ke hadirat Nabi, ia berkata: “Sudah mendengarkah Nabi apa yang  dikatakan Umar? Ia sangat heran dengan baju yang saya kenakan. Demikian Allah yang telah mengutusmu, sungguh tak ada lagi untukku dan Ali bahkan selembar kasur, selain kulit domba yang siang harinya kami pakai untuk menggembala dan malam harinya kami pakai untuk tempat tidur dengan bantal dari kulit pohon korma.”

Nabi memandang Umar. “Biarkan anakku, Umar. Mungkin ia sedang dalam bayang-bayang masa lalunya.”

Lalu Fatimah bertanya kepada Nabi: “Apakah yang telah membuat Tuan berduka?

“Bagaimana aku tidak menangis, jawab Nabi kemudian. “Telah  turun ayat: Sesungguhnya neraka Jahanam tempat mereka kesemuanya.”

Tanya Fatimah: “Wahai Rasulullah, seperti apa pintu-pintu Jahanam itu?”

Nabi menjawab: “Pintu paling ringan 70.000 gunung neraka, masing-masing gunung memiliki 1000 lembah api, di tiap lembah terdapat 70 juta neraka kecil, dan di tiap neraka kecil terdapat sejuta kota yang masing-masing memiliki 70 juta ruang api yang masing-masing menyimpan 70 juta macam siksa yang berbeda-beda.”

Fatimah menjatuhkan wajahnya. “Sungguh malang orang yang masuk neraka.”

Umar mendengar itu dan berkata:  “Betapa enaknya seandainya aku hanya seekor kambing yang disembelih, dimakan dagingnya dan dipisah-pisahkan tulang-belulangnya, sehingga tak mendengar kisah tentang Jahanam.”

Abu Bakar menghadap, dan bicara: “Seandainya aku seekor burung, memakan buah, meminum air kali, berteduh di ranting pohon, tentunya aku tidak  mengenal hisab azab dan tidak mendengar tentang Jahanam.”

Ali bicara: “Seandainya ibuku tak melahirkanku, lalu datang binatang buas mencabik-cabik dagingku, aku tak mendengar kisah tentang Jahanam.”

Salman al-Farisi keluar, dan menuju kuburan Baqi’. Ia berteriak lantang sambil meletakkan kedua tangannya di kepala: “Wahai perjalanan yang jauh! Wahai bekal yang sedikit, untuk menempuh hari Kiamat…”

Ia bertemu dengan Bilal. “Apa yang membuatmu sedih, Abu Abdillah?” tanya Bilal.

“Celaka buat kita, Bilal. Yang kita pakai selama ini pakaian kapas, tapi setelah ini kita mengenakan pakaian dari perca-perca neraka. Celaka buat kita, Bilal. Kita kini meluk istri kita, sedang esok berkumpul dengan setan dalam neraka. Celaka kita, Bilal, jika kita harus meminum air mendidihnya dan memakan pohon-pohon api!”

Demikianlah. Bila Nabi saja menangis tersedu-sedu dan para sahabat pilihanya bersedih saking takutnya neraka Jahanam; bagaimana dengan kita, umatnya, yang hidup dengan gelimang dosa di zaman ini?  [muaz]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.