IMG-20151015-WA0008‎MUI: Buku “Program Pelajar Jakarta Berkarakter” Tidak Ajarkan Atheisme

Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta menerima kehadiran Yayasan Al Kahfi Jakarta di ruang pertemuan, Senin (5/10).

Tujuan pertemuan ini untuk memaparkan hasil kajian MUI DKI Jakarta soal modul “Program Pelajar Jakarta Berkarakter” yang dituding mengajarkan atheisme, sesuai permintaan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan juga Yayasan Al Kahfi sendiri.

Silaturahmi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum DKI Jakarta KH A Syarifuddin Abdul Ghani yang juga dihadiri oleh sejumlah pengurus MUI DKI Jakarta yaitu ‎Ketua Komisi Litbang DR KH Ahmad Syafii Mufid, Ketua Komisi Dakwah KH Zarkasih Saiman, Sekretaris Komisi Fatwa DR KH Fuad Bahari, dan Sekretaris Komisi Litbang DR Robin Amir Nurhadi.

Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH A Syarifuddin Abdul Ghani ‎menyambut positif kehadiran Yayasan Al Kahfi dengan kuasa hukum Ramdan Alamsyah.

“Menyelesaikan persoalan DKI Jakarta, bukan hanya tugas MUI tapi semua kalangan yang kepentingan langsung,” kata KH Syarifuddin.

MUI DKI Jakarta, kata KH Syarifuddin, telah membentuk‎ tim untuk menganalisa modul ini dari Komisi Fatwa dan Komisi Litbang.

Ramdan sendiri dalam pertemuan itu mengakui jika memang bersurat secara resmi ke MUI DKI Jakarta mengenai modul Jakarta Berkarakter yang diterbitkan oleh kliennya Yayasan Al Kahfi Jakarta karena Ia merasa kliennya telah difitnah oleh sejumlah oknum.

“Buku ini hanya diambil sebagian saja. Hanya soal atheisme saja yang maksudnya tidak seperti itu difoto kemudian disebarkan ke media sosial dan menuding menyebarkan atheisme,” kata Ramdan.

Ia menerangkan jika hingga saat ini pihaknya telah melaporkan delapan akun yang diduga menjadi pihak pertama yang menyebarkan fitnah tersebut dan telah ditindaklanjuti oleh Polda Metro Jaya. Ada beberapa pemilik akun coba menghilangkan jejak, namun masih bisa terlacak.

“Bahkan ada telah meminta maaf. Tapi ini bukan soal itu, kami melihat Modul Jakarta Berkarakter jadi korban fitnah berjemaah,” kata Ramdan.

Kedatangannya ke MUI DKI Jakarta, ingin peroleh kepastian dari kajian MUI soal modul ii dengan isu utama, soal modul yang diterbitkan Yayasan Al Kahfi itu memang mengajarkan atheisme dan kesesatan seperti yang beredar di media sosial.

Ketua Komisi Litbang MUI DKI Jakarta DR KH Ahmad Syafii Mufid memaparkan, jika Ia menganalisa buku itu dengan Content Analysis yang hanya berpatokan pada modul dan buku.

“Saya tidak lakukan proses verifikasi dan wawancara serta tidak perhatikan perkembangan di media massa. Hanya berpatokan pada buku ini,” kata KH Syafii.

“MUI menyimpulkan jika modul dan buku ini tidak mengajarkan atheisme seperti yang ramai dibicarakan. Buku ini juga tidak mengandung kesesatan, saya mengukurnya dengan 10 indikator sesat yang dikeluarkan oleh MUI,” kata KH Syafii.

Namun, ada beberapa hal yang ditemukan oleh KH Syafii saat melakukan kajian mendalam pada modul itu, pertama penulisan ilmiah dan data-data yang dicantumkan tidak menyebutkan sumber dan rujukannya layaknya sebuah karya ilmiah.

“Sumber dan rujukan ini penting agar diketahui agar memenuhi standarisasi sebuah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya tidak temukan ini dari bab I hingga terakhir,” kata KH Syafii.

Pada Bab kedua soal pembuktian ilmiah yang dinilai agak mengkhawatirkan karena modul ini mencoba membandingkan antara Islam dan non Islam. Hal ini dinilai akan menimbulkan pedebatan.

KH Syafii juga menyinggung soal teori-teori yang dicantumkan dalam modul itu seperti teori kejadian bumi Big Bang dan teori yang diungkap oleh pakar psikoloanalisa Sigmund Freud. Teori saat ini telah terbantahkan oleh ilmuwan sendiri, seperti Stephen Hawkins.

“Sebaiknya menggunakan teori-teori baru seperti ‘Partikel Tuhan’,” kata Syafii.

KH Syafii pun menilai jika modul yang diterbitkan Yayasan Al Kahfi ini tidak bermasalah dan hanya persoalan teknis yang harus diperbaiki jika nantinya akan menerbitkan buku yang baru.

Sumber dan refensi harus jelas, informasi dan teori ilmiah yang dicantumkan harus di-update sesuai dengan kondisi kekinian dan harus terlihat eksklusif.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta KH Fuad Bahari berpendapat senada dengan KH Syafii jika modul itu tidak mengajarkan atheisme, kesesatan dan radikalisme seperti yang dituduhkan.

Namun, Ia menyarankan seperti yang diungkapkan KH Syafii, agar penjelasan soal teori-teori yang dimasukkan dalam modul tidak terpisah halaman. Sebaiknya teori yang digunakan dan penjelasannya ditempatkan di halaman yang sama.
“Ini untuk mencegah agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain dan hanya mengambil sebagian saja,” kata KH Fuad.