Oleh: Faried F. Saenong, Ph.D, Koresponden muidkijakarta.or.id dan Peneliti di Victoria University of Wellington dan Council for International Development, Wellington-New Zealand

Pelaku teror adalah ektrim kanan, pengikut White Supremacy, yang gerah melihat kehadiran Muslim di negara-negara mereka. Mereka anti Imigran Muslim. Dalam pernyataannya: ini untuk membalas aksi teror Muslim sebelumnya di berbagai tempat di Eropa. Ini yang menjadi alasan Keamanan New ZealandĀ  sangat merekomendasikan agar masjid tidak melakukan aktivitas dulu hingga ada himbauan lagi. Ini menghindari kejadian yang sama jika terlihat banyak Muslim sedang berkumpul. Video livestreaming, salah satunya, dimaksudkan untuk mengundang aksi yang sama dari kelompok serupa. Yang tidak kita inginkan, adanya pembalasan dari kelompok Muslim yang tidak terkontrol.

Kasus ini mengagetkan banyak pihak, termasuk orang New Zealand. Ini sama sekali bukan New Zealand. New Zealand dan orangnya itu sangat damai. Hampir semua pihak di New Zealand mengutuk aksi terorisme ini. Banyak gereja Sabtu pagi ini mengorganisir doa utk korban dan Muslim, khususnya di New Zealand. “… and right now, we are all Muslim New Zealanders”, itu kata Josie, Direktur Council for International Development (CDI) di Wellington. Itu ekspresi dukungan mereka terhadap Muslim di New Zealand saat ini.

Bagi kami, Muslim di New Zeeland, kejadian ini sangat mengejutkan. Karena kehidupan kami sebagai minoritas di sini, selama ini, sudah aman dan nyaman. Kehidupan damai minoritas di sini, bahkan dijamin oleh negara. Islam adalah agama yang paling pesat pertumbuhan penganutnya di sini. Kami hanya sekitar 55 ribu jiwa, 1% dari total penduduk 4,5 juta jiwa.

Muslim di sini bahkan difaslitasi. Tak seperti di negara Commonwealth lain, Inggris, Australia atau Kanada, di New Zealand, untuk membangun masjid tak butuh izin yang rumit. Kalau ada geraja yang sudah lama ditinggalkan jemaatnya, kalau komunitas Muslim di sini banyak uang, kami bisa langsung miliki. Islam di sini sama dengan penganut agama lain. Kami belum tahu, apa agama pelaku penembakan. Karena di sini banyak juga atheis, yang tidak beragama.

Sensus 2006, 55,6 persen populasi NZ mengaku sebagai orang Kristen. Denominasi Kristen terbesar adalah Anglikan, Katolik Roma, Presbiterian, dan Metodisme.
Sebanyak 34,7% mengaku tak-beragama (meningkat dari 29,6 p% pada tahun 2001) dan kira-kira 4 % menganut agama lain. Kami hanya yang 1 %. Dari sekitar 55 ribu Muslim, itu warga Indonesia sekitar 1.000-an. Yang dari Makassar, atau Sulawesi hanya sekitar 100 orang.

Jadi, sesungguhnya, tak ada latar belakang emosional yang jadi pemicu insiden ini. Kalau Perdana Menteri menyebut si pelaku adalah teroris itupun dia bukan dari New Zealand. Memang dua pekan lalu, ada kontroversi Islam ekstremis. Awal Maret lalu, ada Muallaf dari Auckland. Mark Taylor, tertangkap kamera jadi jaringan ISIS di Syiria. Pemerintah akan menerimanya dengan berbagai hak dan kewajibannya yang melekat sebagai warga Negara New Zealand. Si Mark sudah dinyatalan bersalah. Tapi kasus ini sangat jauh kalau mau dikaitkan langsung dengan insiden ini.Sebagai salah satu Imam Masjid Kilbirnie, Wellington, saya sering berkomunikasi dengan komunitas Muslim di Christchurch.

Mereka ini tergabung dalam Federasi Muslim New Zealand di 16 kota besar disini.
Selama tiga tahun lebih menetap di Wellington, kota terbesar ketiga setelah Auckland (ibu kota NZ) dan Christchurch, kehidupan kami sama dengan saudara Muslim yang lain.
Bagi penduduk asli dan kulit putih disini, Muslim yang mereka kenal adalah Muslim Asia. Kebanyakan umat Muslim di sini dari Pakistan, India, Bangladesh, dan Asia Tenggara.
Penganut Islam ini sini juga moderat. Permanent residentnya bekerja di semua sektor, Anak-anaknya juga sekolah bersama mereka.

Kami yang dari Makassar, misalnya sering berkumpul bersama. Yang membuat kami kaget setelah kejadian ini adalah, pemerintah Selandia Baru, menganjurkan bahwa semua masjid atau Musllm Community Center untuk tidak menggelar aktivitas. Masjid harus tutup sementara waktu ini. Kami terpaksa salat jamaah di rumah dulu. Pemerintah di sini memilih langkah preventif, jangan sampai ada ekstremes kanan yang lain yang memanfaatkan momentum ini.

Kami bersyukur hidup di sekitar orang New Zealand yang mencintai kami. Berbagai dukungan dalam berbagai bentuk datang dan mengalir. Mereka selalu berkata, kejadian ini bukan tipikal New Zealand sama sekali. Semoga kita semua bisa belajar dari arti persaudaraan dan kebersamaan ini. ***