Ia lelaki shaleh, yatim dan tidak berpunya. Sungguh, bukan kombinasi aduhai bagi manusia zaman  ini. Tapi, tunggu dulu. Ia bukan sembarang lanang. Bukan sembarang orang. Ia lelaki kemaruk ilmu dengan memori serupa kaset. Begitu tajam dan melekat. Satu anugerah yang dilimpahkan Allah dan kemudian diperkuat karamah Rasulullah saw.

Suatu hari, lelaki itu  bertanya: “Ya Rasulullah, aku telah mendengar hadits yang banyak dari engkau, tetapi aku takut lupa.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah menjawab: “Bentangkan selendangmu.” Ia pun membentangkan selendangnya. Kemudian, sang Nabi memercikkan air ke dalam selendangnya dan berkata, “Pakailah ia”. Ia lalu memakainya. Setelah itu, ia tidak pernah lupa sedikit pun.  Dan sejarah mencatatnya: ia sudah menghafal hadits Rasulullah sebanyak 5374.

Ya, dialah Abu Hurairah. Sebuah nama yang barangkali demikian akrab di telinga Anda. Terutama sekali bagi Anda yang suka copy-paste alias  kutap-kutip hadits sebagai status di dinding Facebook atau kicauan di Twitter.

Sahabat yang gemar memelihara kucing ini memang layak mendapatkan keberkahan dari Nabi.  Pasalnya, selepas masuk Islam, dialah yang senantiasa mengawani Nabi ketimbang sahabat Anshar dan Muhajirin. Ia berkhidmah kepada Nabi dengan tulus. Saat sahabat lain sibuk, ia setia di samping Nabi. Saat sahabat lain tak hadir, ia ada bersama sang manusia pilihan Allah.

Lalu, apakah kesibukan bersama Nabi membuat dirinya alpa berbakti kepada orangtua? Buang jauh-jauh pertanyaan itu. Sebab, syahdan, lelaki bernama asli Abdurrahman bin Shakhr al-Azdi ini mencontohkan dengan indah  bagaimana memuliakan orangtua.

Syahdan dikisahkan, Abu Hurairah senantiasa menyapa dan mendoakan ibunya setiap kali hendak keluar rumah. Sebelum kakinya melangkah ke luar pintu, ia akan berdiam sejenak di depan pintu seraya berkata:

Assalamu’alaiki [salam sejahatera untukmu], wahai Ibundaku yang dikasihi dan diberkahi Allah?”

“Wa’alaikassalam [salam sejahtera juga untukmu], Ananda tercintaku yang diberkahi dan disayangi Allah swt,” jawab sang ibu.

“Allah menyayangi Ibunda serupa Ibunda mendidik Ananda semasa belia…”

“Allah juga menyayangi Ananda serupa Ananda  menjaga Bunda semasa senja…”

Sapaan mesra itu rupanya tidak hanya dibiasakan Abu Hurairah saat hendak pergi saja, tapi juga saat ia pulang ke rumah.  Bahkan, dalam riwayat lain,  Abi Umamah mengisahkan betapa berbaktinya Abu Hurairah kepada ibunya yang buta. Ia, misalnya,   tidak pernah jemu menemani ibunya saat berhajat di toilet.

Di zaman sekarang, agaknya, langka menemukan dialog sederhana dan mesra  seperti yang dilakukan Abu Hurairah dengan ibunya. Paling banter: cium tangan, ucap salam dan langsug ngacir. Parahnya, ada sebagian kita  yang memperlakukan orangtuanya seperti tubuh tanpa jiwa; datang dan pergi seenaknya saja.

Ah, zaman. Ah, manusia. Waktu telah menggerus kita menjadi manusia yang kurang berkhidmah pada orangtua. Semoga kita semua bukan bagian di dalamnya. Wallahu’alam. [Muaz/Sumber rujukan: Mansur Abdul Hakim, 150 Qishah Birrul walidain Wa ‘Uququhuma Wa Shilatul Arham, (Mesir: Darel Kitab, 2010) dan Arif Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam, (Bandung: Mizan, 2010).]