“Da’wah is not about preaching hard, but reaching heart…”

 

Ia menjadi satu-satunya pembicara perempuan pada perhelatan Jakarta International Islamic Conference yang digelar MUI DKI Jakarta pada 29 November-1 Desember 2016 lalu. Berasal dari negeri jiran, Malaysia, DR. Isfadiah berbicara seputar dakwah dari lini yang paling kecil dan paling signifikan: keluarga. Sebelum menjelaskan poin ini, ia membeberkan tiga pilar dalam dakwah: da’i (orang yang berdakwah), da’wah (pesan dakwah) dan mad’u (orang yang didakwahi).

 

Bagi ustadzah yang saat ini menjadi Direktur Fitrah Guidance & Conslutancy ini, problem paling penting dalam dakwah adalah dainya. Kenapa? Sebab, dai adalah pilar terpenting yang membuat orang yang didakwahi merasa terpanggil untuk mengikuti ajakannya. Karena itulah, bila ingin sebuah dakwah dibilang sukses dan menggerakan orang banyak, sang dai seyogyanya memeriksa dan mengkoreksi dulu dirinya. Ia mesti menelisik dulu apakah niatnya untuk berdakwah, bagaimana ia berakhlak, bagaimana ia berkata, bagaimana ia menunjukkan diri sebagai pribadi yang luhur dan berilmu. Hal ini, imbuh Dr. Isfadiah, sangat urgent menimbang dai akan menjadi role model untuk orang banyak. Ia akan menjadi contoh hidup atas apa yang didakwahinya.

 

Relasi Dakwah dan Keluarga

 

Menurut Dr. Isfadiah, keluarga adalah wadah pencetak dai-dai berbakat. Dari lingkungan rumahlah, dai-dai berbakat dan potensial bisa tercipta. Pasalnya, keluarga adalah tempat dimana nilai-nilai keislaman yang luhur itu bertumbuh dan bersemi.

 

Bukankah sejarah mencatat, para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang kita kenal sekarang ghalibnya memang lahir dari hasil pendidikan informal di keluarganya terlebih dahulu? Semua berawal dari rumah. Artinya rumah adalah pusat dakwah. Orangtua, saudara kandung, famili dan lingkungan rumah menjadi senarai faktor yang mencetak lahirnya dai-dai potensial. Tentu saja, faktor pendidikan formal juga signifikan. Namun, bila mengkalkulasi secara prosentase, 80% faktor informal (keluarga/rumah)-lah yang paling menentukan tercetaknya dai-dai besar, ulama-ulama besar. Sedang, 20% sisanya berasal dari pendidikan formal. Lebih-lebih, dalam al-Qur’an, Allah pernah berfirman: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka..” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat tersebut menunjukkan betapa ajakan kepada kepada kebaikan (dakwah) bermula dari diri dan keluarga terlebih dahulu.

 

Sejatinya, rumah dan keluarga sebagai pusat dakwah merupakan perkara yang selama ini diajarkan dan dicontohkan Rasulullah saw. DR. Isfadiah menyimpulkan lima cara berikut yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw:

 

Pertama: rumah adalah tempat ibadah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Aisyah ra bahwa Nabi Muhammad saw biasa membangunkan dirinya untuk shalat malam dan pada waktu witir, beliau membangunkanya untuk shalat witir. (HR. Muslim)

 

Kedua: Mengatur urusan rumahtangga dengan respek, jujur dan baik. Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap anggota sebuah keluarga, maka Dia tunjukkan kebaikan di tengah-tengah keluarga tersebut.” (HR. Ahmad)

 

Ketiga: Nabi Muhammad saw biasa menjadi pengajar bagi anggota keluarganya dan bahkan pembantunya. Imam Thabari berkata: “Kita mesti mendidik anak-anak dan istri kita tentang agama dan kebaikan…”

 

Keempat: menunjukkan akhlak terbaik. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Suami yang shaleh selayaknya tidak boleh membenci istrinya yang shalehah, sebab jika ia membenci sifat tertentu dari karakter istrinya, ia mestinya tidak melupakan kebaikan lainya yang ada pada karakter istrinya”(HR. Muslim)

 

Kelima: Saling bermusyawarah dalam memutuskan sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam QS. As-Syura, ayat 38 yang berbunyi: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

 

Demikianlah yang diungkap Dr. Isfadiah dalam ceramahnya. Ia percaya dakwah yang dimulai dari keluarga kelak akan melahirkan generasi dai yang berbobot, dai-dai yang dakwahnya bukan marah-marah dan keras, melainkan dakwah yang menyentuh hati orang-orang yang didakwahi agar mudah sadar dan terinspirasi. “Da’wah is not about preaching hard, but reaching heart…”, tegasnya dalam bahasa Inggris yang fasih. (Muaz)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.