Oleh: H. Risman Muchtar, S.Sos.I, M.Si

Ketua MUI DKI Jakarta (Membidangi Komisi Ukhuwah)

Sebuah jurnal yang ditulis oleh Dewa Gede Sudika Mangku (Jurnal: Media Komunikasi FIS Vol 12, No 2 hal 69 Agustus 2013) menyimpulkan bahwa bentuk kekerasan apapun yang ditujukan kepada etnis Rohingya yang dilakukan oleh Pemerintahan Myanmar tidak dapat dibenarkan apalagi hal tersebut masih dalam lingkup kawasan Asia Tenggara. Sebagai suatu negara anggota ASEAN, sudah saatnya Myanmar tunduk terhadap Piagam ASEAN yang telah disepakati secara bersama oleh sepuluh negara angota ASEAN yang lainnya serta terbentuknya Badan HAM ASEAN digunakan sebagai suatu lecutan untuk meminimalkan pelanggaran pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Asia Tenggara.

Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Suhaidi, mengatakan bahwa  pembantaian besar-besaran secara sitematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkannya (Genosida) merupakan pelanggaran HAM berat sebagaimana yang terjadi  pada umat muslim Rohingya, di Myanmar. (http://beritasore.com/2016/11/22/ genosida-muslim-rohingya-pelanggaran-ham-berat/)

Pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh penguasa dan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya Muslim semestinya tidak perlu berlangsung lama dan menimbulkan korban ribuan manusia yang dibantai dan diusir dari daerah yang telah mereka diami secara turun temurun sejak ratusan tahun, jika lembaga-lembaga internasional yang berkompeten dalam urusan HAM seperti PBB bertindak lebih cepat dan tidak membiarkan pemusnahan etnis itu berlangsung seolah-olah lembaga dunia tersebut tutup mata. Karena tidak ada sebuah dalil pun yang dapat membenarkan genosida tersebut terjadi. Siapapun manusia yang lahir di permukaan bumi, apapun agama dan etnisnya, mereka memiliki hak untuk bertempat tinggal di bumi yang diciptakan Allah ini, dan juga hak untuk hidup dan hak untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya seperti kesempatan berusaha dan lapangan kerja.

Pluralitas, dalam pengertian realitas kemajemukan. adalah sebuah keniscayaan dan merupakan sunnatullah dalam kehidupan yang bersifat pemberian (given). Termasuk dalam kemajemukan suku bangsa, perbedaan warna kulit dan bahasa, semua itu adalah pemberian Allah SWT di mana manusia itu tidak ada pilihan lain kecuali menerima ketentuan Allah dari suku bangsa apa dan di mana mereka akan terlahir. Menentang, menolak dan tidak menerima realitas dari kemajemukan itu adalah sebuah pengingkaran terhadap Allah Pencipta alam semesta. Pandangan Islam terhadap pluralitas ini sangat jelas dan tegas, sebagaimana firman Allah SWT: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling tinggi tingkat ketaqwaannya kepada Allah” (Al Hujurat ayat 13). Dalam konteks ini, Rasulullah SAW besabda bahwa tidak ada kelebihan orang Arab dibanding non Arab, begitu juga tidak ada kelebihan non Arab dibanding orang Arab (HR. Thabrani).

Terlepas dari berbagai latar belakang yang memicu kekerasan terhadap etnis Rohingya Muslim, sebagai bangsa dan negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia berkewajiban proaktif untuk melakukan perdamaian di dunia karena apapun bentuk penjajahan dan penindasan harus dihilangkan dari permukaan bumi karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, dan ini adalah amanah Pembukaan UUD 1945. Paling tidak ada tiga hal yang harus dilakukan oleh umat Islam dan pemerintah Indonesia, yaitu: Pertama, Melakukan tekanan-tekanan politik baik yang dilakukan di dalam negeri seperti lebih dari sejuta umat Islam yang berdemo menyampaikan aspirasi politik di Kedubes Myanmar, maupun lobi-lobi politik  di kawasan ASEAN  dan internasional termasuk dengan Negara-negara Islam di seluruh dunia agar bersatu melakukan tekanan sampai kepada sanksi politik kepada Myanmar; kedua, Selain itu juga umat dan bangsa kita serta seluruh masyarakat Muslim dunia harus memberikan bantuan berupa makanan dan obat-obatan, karena dengan hanya berdemo tanpa memberikan bantuan logistik yang diperlukan, sama saja artinya kita membiarkan Muslim Rohingya mati kelaparan dan ketiadaan obat-obatan; dan ketiga, sebagai umat Islam yang beriman dan meyakini Allah memiliki sifat Maha Kuasa, maka berdoa adalah sebuah kekuatan yang luar biasa, dan Allah telah berjanji bahwa Dia akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang berjuang menegakkan agama Allah, dan ketika Allah telah memberikan pertolonganNya, tidak ada satupun yang dapat mengalahkannya (baca: QS Muhammad ayat 7 dan QS Ali Imran 160).

Terakhir sebagai umat yang beragama dan beradab, umat Islam tidak perlu membalas kebrutalan dan kejahatan yang dilakukan sekelompok umat budha di Myanmar terhadap umat Islam di Rohingya dengan melakukan kejahatan dan kebrutalan yang sama di Indonesia.  Selama ini umat Islam di Indonesia  telah membuktikan dan terbukti umat yang paling toleran di dunia, karena belum pernah terjadi politik genosida terhadap umat non muslim oleh kelompok Muslim manapun. Sekalipun mereka sering dituduh radikal dan intoleran. Paling-paling mereka membubarkan tempat-tempat maksiat ketika memang aparat dan petugas yang semestinya bertanggungjawab menertibkannya tidak melakukannya sebagaimana mestinya dan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat.

Akhir kalam, mari kita jaga ukhuwah Islamiyah sebagai sesama Muslim dan kita tunjukkan empati kita kepada saudara-saudara kita sesama Muslim yang dizalimi di mana saja mereka berada. Sebagai sesama bangsa yang sangat pluralistis, kita jaga dan kita pelihara terus kerukunan umat inter dan antar umat beragama. Jika umat dan bangsa kita ini berpecah belah, maka pihak asing yang ingin mencari keuntungan di negeri ini dengan mudah menguasai, mengacak-acak, mengeruk dan merampok kekayaan alam yang ada di bumi dan di dalam perut bumi kita yang tercinta ini, dan yang akan menderita adalah anak cucu kita di belakang hari, termasuk anak cucu mereka yang kebetulan pemegang kekuasaan hari ini. ***