ilustrasi foto: Muaz

Pengantar Redaksi

Kanal ini berisi seputar fatwa-fatwa MUI DKI JAKARTA, baik fatwa yang sudah lawas maupun yang terbaru. Kami berharap setiap informasi fatwa yang kami muat dapat memberikan pencerahan kepada pembaca sekalian. Berikut ini kami turunkan fatwa MUI DKI Jakarta ihwal Hak Cipta dan Hak Paten Perlengkapan Ibadah yang dikeluarkan pada tahun 2000 dan kami nukil dari buku Kumpulan Fatwa MUI DKI 1975-2012. Salam.

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1421 H, bertepatan dengan tanggal 24 Juli 2000 M yang membahas tentang Pandangan Islam Terhadap Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan, yang diajukan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perwalian Umat Buddha Indonesia Provinsi DKI Jakarta, maka setelah;

Menimbang:
1. Bahwa setiap agama mewajibkan para pemeluknya untuk melaksanakan ibadah shalat/kebaktian/sembahyang sesuai dengan tata cara yang telah diatur dan diajarkan oleh masing-masing agama sebagai pengabdian manusia kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan berbagai macam kenikmatan dan menyelamatkannya dari berbagai mara bahaya.

2. Bahwa dalam melaksanakan peribadatan, setiap agama memerlukan alat-alat pendukung shalat/kebaktian/sembahyang yang menjadi ciri khas masing-masing agama, baik yang berlaku  pada tingkat local, nasional, regional, maupun internasional.

3. Bahwa sehubungan dengan adanya alat-alat pendukung shalat/kebaktian/sembahyang yang menjadi simbol, media atau ciri khas dan diperlukan olehmasing-masing agama, maka menimbulkan pertanyaan sebagian pemeluk agama kepada MUI Provinsi DKI Jakarta, tentang ada atau tidaknya Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan menurut agama Islam.

4. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada para pemeluk tentang ada atau tidaknya Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan menurut agama Islam, maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera memberikan fatwa tentang Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan.

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
1. Permohonan masukan dan pandangan tentang Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan yang diajukan oleh  DewanPimpinan Daerah (DPD) PerwalianUmat Buddha Indonesia kepada MUI Provinsi DKI Jakarta.

2. Saran dan pendapat para  ulama peserta rapat Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1421 H, bertepatan dengan tanggal 24 Juli 2000 M yang membahas tentang Pandangan Islam Terhadap Hak Paten/Hak Cipta Alat-Alat Pendukung Sembahyang/Kebaktian/Peribadatan, yang diajukan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perwalian Umat Buddha Indonesia Privinsi DKI Jakarta.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:

1. Menurut ajaran agama Islam, ibadah adalah suatu pengabdian kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menghindari larangan-larangan-Nya secara ikhlas untuk memperoleh ridha-Nya.

2. Secara garis besar, agama Islam membagi ibadah dalam 2 bentuk; Pertama, Ibadah Mahdhah seperti shalat, puasa dan haji yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW seperti termaktub di dalam Kitab Suci al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam hal ini, umat Islam tidak boleh melakukannya berdasarkan hasil kreasinya ; Kedua, ibadah Ghairu Mahdhah seperti berbuat baik kepada sesama manusia, memelihara ciptaan-Nya dan melaksanakan pembangunan di segala bidang yang tata cara pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada hasil cipta, karsa dan karya manusia sesuai dengan tingkat perkembangan kebudayaan dan peradabannya serta adat istiadat. Dalam hal ini, agama Islam hanya memberikan pedoman dasar yang bersifat umum.

3. Sungguh pun tata cara pelaksanaan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa dan haji sudah ditentukan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW seperti termaktub di dalam Kitab Suci al-Qur’an dan al-Hadits, alat-alat pendukungnya seperti kain, sarung, baju, peci, sorban, mukena, sajadah, tasbih dan sebagainya diserahkan sepenuhnya kepada hasil kreasi umatnya. Dalam hal ini, agama Islam hanya memberikan pedoman secara umum, yaitu bahwa orang yang shalat dan haji harus menutup aurat (anggota badan yang harus ditutup).

4. Berdasarkan point 3 di atas, maka MUI DKI Jakarta berpendapat bahwa alat-alat pendukung shalat dan ibadah lainnya seperti kain, sarung, baju, peci, sorban, mukena, sajadah, tasbih dan sebagainya yang dibuat oleh seseorang atau produksi oleh suatu perusahaan berhak mendapat HakCipta/Hak Paten di samping Merek Dagang. Karena hal itu merupakan hasil kreasi manusia.

Jakarta, 22 Rabi’ulAkhir 1421 H.
24 Juli 2000 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

           Ketua,                                                                     Sekretaris,

           ttd                                                                                   ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA           KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA
Mengetahui,

Ketua Umum,                                                        Sekretaris Umum,

ttd                                                                             ttd

KH. Achmad Mursyidi                                   Drs. H. Moh. Zainuddin