Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya yang berlangsung pada tanggal 26 Syawal 1433 H, bertepatan dengan tanggal 13 September 2012 yang membahas Hukum Waris Anak Zina, setelah:

Menimbang:

1. Bahwa salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh era informasi dan globalisasi adalah semakin tergerusnya nilai-nilai agama dan susila. Sebagai konsekwensinya banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran agama Islam dan kesusilaan.
2. Bahwa di antara bentuk penyimpangan terhadap ajaran agama Islam dan norma susila yang dilakukan masyarakat modem adalah free sex yang semakin meningkat dan dilakukan secara terbuka.
3. Bahwa akibat dari kehidupan free sex yang semakin meningkat, banyak terjadi kehamilan di luar nikah dan banyak anak-anak zina yang terlahir dan berimplikasi hukum, baik hukum negara maupun hukum agama, misalnya hak-hak anak zina terkait harta yang ditinggalkan orang tuanya (harta waris).
4. Bahwa melihat realitas tersebut, maka untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang ada atau tidaknya harta waris bagi anak hasil zina, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Hukum Waris bagi Anak Zina.
5. Firman Allah SWT dalam surat al-Nisa’ ayat 11:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأنْثَيَيْنِ

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan”. (QS. An-Nisa’ (4):11)
6. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari:

صحيح البخارى (13/200)
قَالَ شِهَابٍ قَالَتْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَ لِلْغَاهِرِ الحَجَرُ
“Ibn Syihab berkata. A-isyah berkata, Rasulullah saw bersabda: anak itu bagi pemilik selimut dan bagi pelaku zina akan dirajam.”


Mengingat:

1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta tahun 2010 -2015
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 26 Syawwal M 1433 H, bertepatan dengan tanggal l3 September 2012 M yang membahas tentang Hukum Waris bagi Anak Zina.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha- Nya memfatwakan sebagai berikut:

1. Waris merupakan harta yang ditinggalkan si mayit kepada ahli waris yang ketentuan dan kadar pembagiannya (al-furud muqaddarah) sudah ditentukan oleh nash.
2. Anak yang sah adalah anak yang memenuhi ketentuan sebagai berikut (1) anak tersebut diakui (diikrarkan) sebagai anak oleh bapaknya, (2) si ibu dari anak tersebut telah dinikahi oleh si bapak tadi, (3) anak tersebut dilahirkan, setelah masa bulan kehamilan yang dihitung sejak terjadinya kumpul (jima’) pertama antara bapak dan ibu.
3. Anak zina adalah anak yang dilahirkan dengan tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas.
4. Anak zina tidak mendapatkan harta waris kecuali dari harta ibunya.
5. Anak zina tidak mendapat hak perwalian dari bapak tiri atau bapak angkatnya.
6. Harta suami selamanya tetap menjadi harta suami (meskipun di atasnamakan kepada isteri), kecuali suami telah menghibahkan harta tersebut kepada isterinya. Harta suami yang sudah diihibahkan kepada isterinya, harta tersebut menjadi hak milik isteri secara mutlak.
7. Apabila isteri memiliki anak, baik anak dari si suami atau dari lelaki yang lain, maka suaminya mendapat ¼ harta yang ditinggalkan isteri. Kalau isteri tidak memiliki anak, maka suami mendapatkan ½ harta yang ditinggalkan isteri.

Jakarta, 26 Syawal 1433 H.
13 September 2012 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                                     Sekretaris,

ttd                                                                           ttd

KH. Syarifudin A. Ghani, MA           Dr. H. Fuad Thohari, MA
Mengetahui,

Ketua Umum,                                        Sekretaris Umum,

ttd                                                                      ttd

KH. Mundzir Tamam, MA               Dr. H. Syamsul Ma’arif, MA