Bismillahirrahmanirrahim

 

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta dalam rapatnya pada tanggal 6 Rajab 1421 H bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 2000 M yang membahas tentang pornografi, maka setelah:

Menimbang :

 

  1. Bahwa salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebudayaan industri, era informasi dan globalisasi, adalah semakin mencairnya nilai-nilai agama, kaidah-kaidah sosial dan susila. Sebagai konsekwensi logis dari pergeseran tata nilai yang dianut oleh masyarakat industri dari tatanan kehidupan yang serba komunalistik dan bertumpu pada nilai-nilai spiritual pada pola hidup materialistik, hedonistik dan bahkan sekuler, maka semakin sering dijumpai terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran-ajaran agama Islam.
  2. Bahwa di antara bentuk peyimpangan terhadap ajaran-ajaran agama Islam yang dilakukan oleh masyarakat modern adalah semakin maraknya pornografi dengan memamerkan aurat laki-laki, dan terutama aurat perempuan atau memamerkan aktivitas seksual, melalui media cetak maupun elektronik, terutama film, televisi, vcd, internet, reklame, komik, majalah, tabloid, kalender, bahkan buku tulis murid-murid Sekolah Dasar.
  3. Bahwa akibat dari maraknya pornografi, maka semakin meningkat pula kehidupan free sex (perzinaan) yang mengakibatkan terjadinya kehamilan di luar nikah dan aborsi (pengguguran kandungan) yang dilakukan oleh para gadis remaja, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang.
  4. Bahwa melihat realitas tersebut, maka untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang masalah pornografi dalam pandangan Islam, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Pornografi.

 

Mengingat :

 

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

 

Memperhatikan :

 

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 6 Rajab 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 2000 M yang membahas tentang Pornografi.

 

Memutuskan :

 

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Bahwa pornografi yang berarti memamerkan aurat laki-laki, dan terutama aurat perempuan atau memamerkan aktivitas seksual melalui media cetak maupun elektronik, terutama film, televisi, vcd, internet, reklamu, komik, majalah, tabloid, kalender bahkan buku tulis murid-murid Sekolah Dasar adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT serta Rasul-Nya, baik bagi orang yang melakukan, melihat atau yang memfasilitasinya. Karena hal itu merupakah perbuatan keji (al-fahsya’) yang dapat mendorong terjadinya perbuatan zina yang sangat dimurkai Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam QS. An-Nur/24 ayat 30-31 : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.. “ Demikian juga firman-Nya dalam QS. al-Isra’ /17 ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

 

  1. Pornografi yang mendorong terjadinya perzinaan, merupakan penyebab utama turunnya murka dan kutukan Allah SWT kepada sesuatu bangsa, sebagaimana dapat dibuktikan dalam sejarah berbagai bangsa sejak zaman purbakala hingga abad modern sekarang ini. Oleh karena itu, MUI Provinsi DKI Jakarta sangat mengkhawatirkan pesatnya perkembangan pornografi dewasa ini akan menimbulkan murka Allah SWT yang menyebabkan turunnya marabahaya dan malapetaka yang mengancam keselamatan bangsa dan negara Indonesia.

Sehubungan dengan semakin maraknya pornografi yang semakin meningkatkan kehidupan free sex (perzinaan) dan mengakibatkan terjadinya kehamilah di luar nikah dan aborsi oleh para gadis remaja terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang, maka MUI Provinsi DKI Jakarta menghimbau hal-hal sebagai berikut :

 

  1. Para orang tua hendaknya meningkatkan kualitas iman anak-anaknya melalui pendidikan dan pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, hendaknya para orang tua memberikan wawasan tentang masalah-masalah seks yang bermoral serta melakukan pengawasan kepada anak-anak, terutama yang sedang memasuki usia remaja.
  2. Masyarakat dan khususnya para pendidik hendaknya memiliki kepedulian untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dengan menciptakan suasanya yang kondusif untuk menegakkan moralitas dan nilai-nilai agama serta menghindarkan hal-hal yang dapat menjerumuskan generasi muda pada kehidupan free sex.
  3. Pemerintah melalui aparat keamanan, hendaknya bersungguh-sungguh dalam usaha menanggulangi masalah pornografi, baik dengan cara preventif maupun repressif sesuai dengan batas-batas kewenangan yang dimiliki.

 

Jakarta, 6 Rajab 1421 H

5 Agustus 2000 M

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

                Ketua                                                                                                Sekretaris

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA                                                          KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

 

Mengetahui,

DEWAN PIMPINAN MUI DKI JAKARTA

 

Ketua Umum,                                                                              Sekretaris

KH. Achmad Mursyidi                                                    Drs. H. Moh. Zainuddin

 

Keterangan: Fatwa ini redaksi nukil dari buku Kumpulan Fatwa MUI DKI 1975-2012 yang disusun oleh KH. Syarifuddin Abdul Ghani MA dan KH. Fuad Thohari.  Sumber foto ilustrasi: www addictinginfo org