Bismillahirrahmanirrahiim

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta dalam Rapat Plenonya tanggal 29 Januari 1983, setelah :

Memperhatikan : 

Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan kepada Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta tentang Pelaksanaan Adzan melalui kaset (pita rekaman), baik pada adzan qabliyah Jum’at, maupun untuk adzan shalat lima waktu.

Memperhatikan Pula :

Kecenderungan yang baik dari umat Islam memanfaatkan hasil-hasil penemuan ilmiah yang akan berkembang terus dalam segala bidang kehiduapan, termasuk dalam bidang pelaksanaan ibadah seperti menggunakan pesawat televisi di masjid-masjid yang bertingkat atau menampung jamaah yang sangat banyak di waktu shalat Jum’at dan shalat Tarawih untuk meningkatkan perhatian serta melihat lebih sempurna akan suara dan gerak khotib/imam/penceramah.

Mengingat :

 

  1. Bahwa adzan itu adalah suatu ibadah yang bertujuan memberitahukan telah masuknya waktu shalat dengan cara-cara dan bacaan yang telah disunnahkan oleh Rasulullah SAW.
  1. Tiap-tiap pekerjaan yang bersifat ibadah haruslah dimulai dengan niat yang ikhlas karena untuk Allah SWT semat-mata.
  1. Hadits Rasulullah sebagai berikut :
  • “Apabila waktu shalat telah masuk, hendaklah adzan salah seorang di antaramu, hendaklah pula yang tertua di antara kamu yang menjadi imam”.
  • “Imam itu penanggung jawab dan muadzin itu dipercaya”. [HR. Abu Daud dan Tirmidzi]
  • Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah muadzin yang memanggil orang terbaik di antara kamu dan hendaklah yang mengimbangi kamu qurro yang terbaik di antara kamu”.
  • “Sesungguhnya muadzin itu adalah orang-orang yang panjang lehernya pada hari Kiamat”.
  • Riwayat dari Ziyad bin Harits As-Shuda’i Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Shuda, adzanlah! Maka saya adzan: dan saat itu fajar mulai menyingsing. Tatkala Rasulullah SAW selesai berwudhu dia bangun, hendak sembahyang, kemudian bilal hendak iqamat, maka Nabi bersabda : “Wahai Shuda! Qamatlah karena siapa yang adzan dialah yang qamat”.
  • Riwayat dari Abi Juhaifah: “Saya menemui Rasulullah SAW di Mekkah, lantas dia berwudhu dan Bilal beradzan, saya menuruti mulutnya ke kanan dan ke kiri waktu mengucapkan ‘Hayya ‘alash-sholah dan hayya ‘alal falah’.” Dan menurut Abu Daud, saya melihat Bilal keluar lantas dia adzan tatkala sampai pada ‘Hayya ‘alash-sholah dan hayya ‘alal falah’ dia memutarkan lehernya ke kanan. Dan dalam satu riwayat menyebutkan: Bahwa semua ujung jari-jarinya ditutupkannya di kedua telinganya.
  • “Tidak boleh adzan kecuali orang yang berwudhu”.
  1. Pendapat Para Ulama :
  • “Adzan itu adalah pemberitahuan akan masuknya waktu shalat yang diucapkan dengan lafadz-lafadz tertentu dan juga merupakan panggilan untuk shalat berjama’ah dan menciptakan syi’ar Islam. “ [Kitab Fiqh as-Sunnah I, hal 94]
  • “Menurut pendapat ulama-ulama: Boleh muadzin atau yang lainnya qamat tapi yang lebih baik ialah muadzin sendiri yang qamat. Menurut Imam Syafi’i : saya senang apabila yang qamat itu muadzin. Imam Tirmidzi: Dan beginilah kebanyakan ahli ilmu beramal, bahwa siapa yang adzan dialah yang qamat”.

 

  1. Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta

 

Mendengar  :

Pendapat-pendapat atau saran-saran yang dikemukakan oleh para anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta yang disampaikan dalam pleno tersebut di atas. Dengan bertawakkal kepada Allah SWT Dan mengharapkan keridhaan-Nya :

Memutuskan :

  1. Adzan itu dilakukan oleh seorang Muslim yang hadir di tempat (masjid atau mushalla) dimana shalat akan dilakukan.
  2. Adzan yang dilakukan seperti di televisi atau radio-radio sebagai petunjuk waktu shalat (seperti kebiasaan memukul bedug) boleh saja : tetapi tidak sah untuk shalat lima waktu atau shalat Jum’at.

 

Jakarta,  02 Jumadil Ula 1403 H

15 Februari 1983 M

 MAJELIS ULAMA INDONESIA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

  Ketua Umum                                      Sekretaris Umum                         KH. ABDULLAH SYAFI’I                   H. GAZALI SYAHLAN

Catatan:

Fatwa ini dinukil dari Buku Kumpulan Fatwa MUI DKI 1975-2012 yang disusun oleh: KH. Syarifuddin Abdul Ghani MA dan KH. Fuad Thohari. Sumber foto: muhandisun.wordpress.com