Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 12 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 18 Pebruari 2000 M yang membahas tentang Hukum Jual Beli Disertai Hadiah, maka setelah;

Menimbang:
1. Bahwa salah satu strategi pemasaran terhadap barang-barang dagangan yang dijual oleh para pedagang agar menarik para calon konsumen untuk membeli produk-produk yang dipasarkan, adalah dengan memberikan iming-iming hadiah kepada para calon konsumen. Hadiah tersebut ada yang diberikan secara langsung kepada setiap konsumen yang membeli produk dalam jumlah tertentu, ada pula yang diberikan dengan cara diundi, sehingga hanya konsumen yang memenangkan undianlah yang berhak mendapatkan hadiah.

2. Bahwa pemberian hadiah kepada para konsumen yang telah membeli produk-produk yang dipasarkan oleh para pedagang, menimbulkan pertanyaan sebagian umat Islam kepada MUI Provinsi DKI Jakarta, tentang boleh atau tidaknya pemberian hadiah tersebut menurut ajaran Islam.

3. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada Umat Islam tentang boleh atau tidaknya memberikan iming-iming hadiah kepada para calon konsumen agar mereka tertarik untuk membeli produk-produk yang dipasarkan oleh perusahaan, maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera memberikan fatwa tentang Hukum Jual Beli dengan Disertai Hadiah.

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal tanggal 12 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 18 Pebruari 2000 M yang membahas tentang Hukum Jual Beli Disertai Hadiah.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:
1. Para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa perdagangan (perniagaan / jual beli) adalah suatu kegiatan perekonomian yang dihalalkan (diperbolehkan) oleh syari’at Islam. (Lihat kitab Al-Mabsuth XII/108 ; al-Muhadzab I/257). Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 275 :
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah (2):275)

Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa ayat 29 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ
مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (QS. An-Nisa (4):29)

2. Suatu transaksi perdagangan dinilai sah dan halal jika memenuhi rukun-rukun (unsur-unsur) dan syarat-syarat jual-beli sebagai berikut :

a. Rukun jual beli ada 4, yaitu adanya pihak penjual (al-bai’),  pihak pembeli (al-musytari), barang yang diperjualbelikan (al-mubi’u), dan transaksi (akad).

b. Transaksi (akad) antara pihak penjual dan pembeli harus dilakukan atas dasar suka sama suka, dan tidak ada paksaan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulallah SAW yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi danIbnu Majah dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri RA dan dinilai shahih IbnuHibban, sebagai berikut :
عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحٍ المـَدِيْنِيِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيْدٍ الخُدْرِيَّ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْه ِوَسَلَّمَ إِنَّمَا البَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

“Jual beli itu harus dilakukan atas dasar suka sama suka”

c. Barang yang diperjualbelikan harus suci dan mempunyai nilai manfaat ;

d. Barang-barang tersebut diperjualbelikan dengan harga yang wajar.

e. Barang yang diperjualbelikan harus transaparan sehingga tidak ada unsur kesamaran (gharar), atau penipuan (al-gasya), atau pengkhianatan (al-khiyanah). Hal ini didasarkan pada sabda Rasulallah SAW dalam hadits shahih yang diriwiyatkan Imam Muslim, sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَ عَنْ بَيْعِ الغَرَرِ

“Rasulallah SAW melarang transaksi jual-beli yang mengandung gharar

3. Jual beli suatu benda yang disertai hadiah, baik secara langsung maupun dengan cara diundi dengan tujuan agar para konsumen tertarik untuk membeli produk-produk yang dipasarkan adalah sah dan halal dengan syarat-syarat berikut :
a. Hadiah yang diberikan harus halal dan sesuai dengan yang dijanjikan. Jika hadiah berupa benda yang haram seperti minuman keras dan barang yang najis, maka tidak sah. Demikian juga jika hadiah yang diberikan tidak sesuai dengan yang dijanjikan, maka hal itu dinilai sebagai penipuan sehingga mengandung unsur dosa.

b. Hadiah tidak mengandung unsur judi. Dalam arti, hadiah tersebut benar-benar merupakan pemberian yang bersifat cuma-cuma sebagai bagian dari promosi penjualan (sales promotion). Dengan demikian, seandainya para konsumen tidak beruntung mendapatkan hadiah, maka mereka tidak dirugikan.

c. Kualitas barang yang diperjualbelikan harus sesuai dengan standar dan harganya tidak lebih tinggi dari harga pasaran.
4. Jika transaksi jual beli yang disertai hadiah secara diundi, dilakukan terhadap suatu benda yang kualitasnya di bawah standar dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran, maka transaksi jual-beli tersebut tidak sah dan tidak halal karena mengandung unsur judi. Karena dengan demikian, kupon hadiah yang akan diundi untuk mendapatkan hadiah bukan merupakan pemberian cuma-cuma, melainkan secara tidak langsung dijual kepada pembeli barang dengan uang (harga) yang sudah ditambahkan kedalam harga penjualan barang. Dengan demikian, secara tidak langsung kupon undian tersebut diperjualbelikan kepada pembeli barang, yang jika dia tidak mendapat hadiah maka akan rugi, sedangkan pihak penjual akan beruntung. Inilah yang disebut judi, karena definisi judi sebagaimana dijelaskan Prof. Mohammad Ali ash-Shabuni dalam kitabnya, Tafsir Rawai’ al-Bayan, Juz I halaman 278 adalah :
كل لعب يكون فيه ريح لفريق و خسارة لآخر هو من المسير المحرم

“Setiap permainan yang menimbulkan keuntungan bagi sebagian orang dan kerugian bagi sebagian yang lain, maka itulah yang disebut perjudian yang diharamkan (oleh Allah SWT)”

Jakarta, 12 Dzulqa’dah 1420 H.
18Pebruari 2000 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                                                             Sekretaris,

ttd                                                                                                         ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA                               KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                                               Sekretaris Umum,

ttd                                                                                               ttd

KH. Achmad Mursyidi                                             Drs. H. Moh. Zainuddin