Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 5 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 11 Pebruari 2000 M yang membahas tentang Hukum Bisnis Multi Level Marketing (MLM), maka setelah ;

Menimbang:
1. Bahwa akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul sistem perdagangan baru yang dikenal dengan istilah Multi Level Marketing yang disingkat MLM ;

2. Bahwa sistem perdagangan tersebut dipraktekkan oleh berbagai perusahaan, baik yang berskala lokal, nasional, regional maupun internasional. Diantaranya adalah Amway, Uni Beauty Shop International (UBSI) dan DNX Indonesia.

3. Bahwa sistem perdagangan tersebut sangat menggiurkan sebagian anggota masyarakat karena menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

4. Bahwa dengan perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara menjaring nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member dari perusahaan yang melakukan praktek MLM.

5. Bahwa secara rinci, sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.

b. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.

c. Sesudah menjadi member, maka tugas berikutnya adalah mencari calon member-member baru dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.

d. Para member baru bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara diatas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.

e. Jika member mampu menjaring member-member baru yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang akan didapatkan, karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.

f. Dengan adanya member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama (member awal/pelopor), kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.

6. Bahwa diantara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang berusaha menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan.
Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal tanggal5 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan11 Pebruari 2000 M yang membahas tentang Hukum Bisnis Multi Level Marketing (MLM).

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:

1. Bahwa sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) diperbolehkan oleh syari’at Islam dengan syarat-syarat sebagai berikut :

a. Transaksi (akad) antara pihak penjual dan pembeli dilakukan atas dasar suka sama suka, dan tidak ada paksaan ;

b. Barang yang diperjualbelikan suci, bermanfaat dan transparan sehingga tidak ada unsur kesamaran atau penipuan ;

c. Barang-barang tersebut diperjualbelikan dengan harga yang wajar.

Hal ini didasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 275 : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa ayat 29 :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”.

2. Jika sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara pemaksaan ; atau barang yang diperjualbelikan tidak jelas karena dalam bentuk paket yang terbungkus dan sebelum transaksi tidak dapat dilihat oleh pembeli, maka hukumnya haram karena mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar). Hal ini didasarkan pada Sabda Rasulallah SAW dalam hadits shahih yang diriwiyatkan Imam Muslim, sebagai berikut :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ لله عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَ عَنْ بَيْعِ الغَرَرِ

“Rasulullah SAW melarang transaksi jual-beli yang mengandung gharar”

3. Jika harga barang-barang yang diperjualbelikan dalam sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) jauh lebih tinggi dari harga yang wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan telah menambahkan harga barang yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagai sharing modal dalam akad syirkah mengingat pihak pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan, yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapatkan keuntungan secara estafet. Dengan demikian, praktek perdagangan Multi Level Marketing (MLM) tersebut mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar) karena terjadi kekaburan antara akad jual beli (al-bai’), syirkah, sekaligus mudharabah karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai ‘amil (pelaksana/petugas) yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli (member) baru.

4. Jika perusahaan Multi Level Marketing (MLM) melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan tertentu dalam setiap bulannya, maka kegiatan tersebut adalah haram karena melakukan praktek riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT. Apalagi dalam kenyataannya tidak semua perusahaan mampu memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan. Sebagaimana telah difirmankan Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 279 :

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.

Berhubung diantara sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) ada yang diharamkan oleh syari’at Islam, maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI menyampaikan himbauan sebagai berikut :
1) Umat Islam agar berhati-hati dalam melakukan kegiatan perdagangan dengan sistem Multi Level Marketing (MLM) yang benar-benar diperbolehkan oleh syari’at Islam karena memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan di atas.

2) Umat Islam yang telah terlanjur melakukan praktek perdagangan dengan system Multi Level Marketing (MLM) yang haram, hendaknya segera menghentikan dan bertaubat, memohon ampun kepada Allah SWT.

3) Pihak berwajib hendaknya segera menutup/mencabut izin bisnis MLM dan segala bisnis yang berkedok penggandaan uang. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran Islam; menumbuhkan sikap thul al-amal dan malas bekerja secara wajar karena selalu berangan-angan menunggu keuntungan dari MLM ; dan menimbulkan keresahan masyarakat serta kerawanan social.

Jakarta, 5 Dzulqa’dah 1420 H.
11 Pebruari 2000 M

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

                    Ketua,                                     Sekretaris

Prof. KH. Irfan Zidny, MA      KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA
Mengetahui,

                Ketua Umum,                            Sekretaris Umum,

 

KH. Achmad Mursyidi     Drs. H. Moh. Zainuddin

sumber foto: www.foreverliving.com

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of