sumber foto www wikimedia org

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 4 Jumadil Ula 1422 H, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 2001 M, yang membahas tentang HukumShalat Jum’at pada Hari Raya[1], setelah :

                                                Menimbang:

  1. Bahwa berdasarkan peredaran matahari dan bulan, terkadang Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha terjadi pada hari Jum’at, di mana pada hari itu, kaum pria yang beragama Islam diwajibkan melaksanakan shalat Jum’at.

 

  1. Bahwa pelaksanaan shalat Jum’at pada Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha, terkadang menimbulkan kesulitan (masyaqqah) bagi sebagian umat Islam, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dari tempat pelaksanaan shalat Jum’at.

 

  1. Bahwa untuk memberikan pemahaman yang benar tentang wajib atau tidaknya pelaksanaan ibadah shalat Jum’at Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Hukum Shalat Jum’at pada Hari Raya.

                                                Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

                                                Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 4 Jumadil Ula 1422 H, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 2001 M, yang membahas tentang Hukum Shalat Jum’at pada Hari Raya.

                                                Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya, shalat Jum’at wajib dilaksanakan oleh setiap kaum pria yang beragama Islam, sehat, mukmin dan tidak mempunyai ‘udzur untuk Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Jumu’ah, ayat 9:

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jualbeli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. [QS. Al-Jumu’ah (62):9]

 

Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Thariq ibn Syihab:[2] “Shalat Jum’at adalah suatu kewajiban atas setiap orang Islam yang harus dilaksanakan secara berjama’ah, kecuali atas empat orang; hamba sahaya, wanita, anak kecil dan orang yang sedang sakit”.

 

 

  1. Jika Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Jumat, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat Idul Fitri atau Idul Adha diberikan rukhshah untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at dan hanya berkewajiban melaksanakan shalat Dzuhur. Rukshah ini diberikan kepada orang-orang yang merasa payah untuk kembali ke masjid guna melaksanakan shalat Jum’at karena jauh atau sulitnya jarak tempuh antara tempat tinggalnya dengan masjid. Tetapi, bagi orang-orang yang tidak merasa payah untuk kembali ke masjid, tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at. Hal ini didasarkan pada penjelasan Imam asy-Sya’rani dalam kitabnya “Mizan al-Kubra”, sebagai berikut:[3]

إذا اتفق يوم عيد يوم جمعة فالأصح عند الشافعي أن الجمعة لا تسقط عن اهل البلد بصلاة العيد. و أما من حضر من أهل القرى فالراجح عند سقوطها عنهم. فأذا صلوا العيد جاز لهم أن ينصرفوا و يتركوا الجمعة. و قال أبو حنيفة يوجب الجمعة على أهل القرى ولا على أهل البلد بل يسقط فرض الجمعة بصلاة العيد و يصلون الظهر. و قال عطاء الجمعة و الظهر معا فى ذلك اليوم فلا صلاة بعد العيد إلا العصر

 

“Jika Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at, maka pendapat yang paling shahih (valid) menurut Imam Syafi’i adalah, bahwa shalat ‘Id tidak menggugurkan kewajiban shalat Jum’at atas penduduk kota. Adapun orang-orang yang datang dari pedesaan, tidak berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at. Oleh karena itu, sesudah shalat ‘Id mereka diperbolehkan pulang ke desanya masing-masing tanpa dibebani kewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at. Menurut Imam Abu Hanifah, orang-orang kota tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at. Menurut Imam Ahmad ,Shalat ‘Id dapat menggugurkan shalat Jum’at, bagi penduduk kota maupun desa. Oleh karena itu mereka tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at, tetapi cukup shalat Dzuhur.Sementara itu Imam Atha’ berpendapat, bahwa shalat ‘Id dapat menggugurkan kewajiban shalat Jum’at dan shalat Dzuhur sekaligus.Oleh karena itu, sesudah melaksanakan shalat ‘Id mereka tidak wajib menjalankan shalat apapun kecuali shalat ‘Ashar”.

Jakarta, 4 Jumadil Ula 1422H.

25Juli 2001M.

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

[1]Fatwa ini merupakan penyempurnaan atas Penjelasan MUI DKI Jakarta tanggal 27 Ramadhan 1407 H bertepatan dengan tanggal 25 Mei 1987 M yang ditandatangani oleh KH. Muchtar Luthfi Elanshary dan Drs. H. Abdul Wahid, penjelasannya terlampir.

[2]AbiDawudSulaiman, SunanAbiDawud, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), juz ke-1, hal. 280, no. 1067.

[3]As-Sya’rani, Al-Mizan al-Kubra, lihatjuga, Muhammad al-Khatibasy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, (tt:Dar al Fikr, tth.), juz ke-1, hal. 316.

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of