Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 27 Syawwal 1421 H, bertepatan dengan tanggal 22 Januari 2001 M yang membahas tentang Hukum Taruhan dalam Olahraga, maka setelah;

Menimbang:
1. Bahwa untuk memacu prestasi para olahragawan, meningkatkan keterampilan serta memberikan motivasi yang kuat kepada para olahragawan agar mereka dapat bermain lebih baik dan meraih kemenangan dalam berkompetisi, maka para pemain atau pihak lain melakukan taruhan dengan uang atau barang. Hal ini terjadi hampir di setiap event kompetisi atau pertarungan berbagai macam cabang olahraga dalam berbagai level, baik lokal, daerah, nasional, regional maupun internasional.

2. Bahwa dengan semakin maraknya praktek taruhan uang atau barang, khususnya dalam pertandingan olahraga, maka sebagian umat Islam mengajukan pertanyaan kepada MUI Provinsi DKI Jakarta tentang boleh atau tidaknya taruhan dengan uang atau barang dalam pertandingan olahraga.

3. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang boleh atau tidaknya melakukan taruhan dengan uang atau barang dalam pertandingan olahraga, maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera memberikan fatwa tentang Hukum Taruhan dalam Pertandingan Olahraga.

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal tanggal 27 Syawwal 1421 H, bertepatan dengan tanggal 22 Januari 2001 M yang membahas tentang Hukum Taruhan dalam Olahraga.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:

1. Taruhan dengan uang atau barang dalam kompetisi atau pertarungan berbagai cabang olahraga dalam berbagai level, baik lokal, daerah, nasional, regional maupun internasional adalah termasuk dalam kategori judi yang diharamkan oleh Allah SWT. Baik taruhan tersebut dilakukan oleh para pemain  olahraga atau pihak lain. Karena sungguh pun taruhan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan serta memberikan motivasi agar para pemain dapat bermain lebih baik dan dapat memenangkan pertarungan ;kemudian dalam permainan tersebut tidak ada kecurangan dan tida kada pula yang sakit hati, tetapi taruhan tersebut tetap menguntungkan sebagian pelaku taruhan dan merugikan sebagian yang lain. Hal ini didasarkan pada definisi judi (perjudian) yang telah dirumuskan oleh para  ulama sebagai berikut :

a. Dalam bahasa Arab, judi disebut al-maisir dari akar kata al-yusra yang berarti mudah, atau al-yasar yang berarti kaya. Hal ini disebabkan karena perjudian dapat menjadi sarana untuk memperoleh kekayaan dengan cara yang mudah.

b. Menurut Mohammad Ali ash-Shabuni dalam kitabnya Tafsir Rawai’ al-Bayan Juz I halaman 278, pengertian judi adalah :

كل لعب يكون فيه ريح لفريق و خسارة لآخر هو من الميسر المحرم
“Setiap permainan yang menimbulkan keuntungan bagi sebagian orang dan kerugian bagi sebagian yang lain, maka itulah yang disebut perjudian yang diharamkan (oleh Allah SWT)”

c. Yusuf al-Qardlawi dalam kitabnya Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam halaman 13 mendefinisikan judi sebagai berikut: Judi adalah segala permainan yang mengandung untung atau rugi bagi pelakunya. Itulah yang dinamakan al-maisir yang di dalam al-Qur’an disebutkan bersama-sama dengan khamr, anshab, dan azlam

d. Al-Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat halaman 179 mendefinisikan judi sebagai berikut : “Judi (pada masa kini) adalah seluruh permainan yang didalamnya disyaratkan adanya suatu pemberian materi bagi pihak yang menang, yang diperoleh dari pihak yang kalah”.

2. Judi atau taruhan dengan uang atau barang, diharamkan oleh Allah SWT karena berpotensi terhadap timbulnya permusuhan dan kebencian diantara para pelakunya, disamping berpotensi dalam menjauhkan diri dari Allah SWT dan melalaikan shalat. Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam suart al-Maidah , ayat 90-91 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٩٠) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (٩١

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90). Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (91)”. (QS. Al-Maidah (5):90-91)

3. Pada masa kini, jenis permainan yang termasuk dalam kategori judi sangat banyak. Antara lain SDSB, Porkas, Lotto, Nalo, Togel (Toto Gelap), Toto, taruhan dalam pertandingan sepakbola, tinju, dan sebagainya.

Jakarta, 27 Syawwal 1421 H.
22 Januari 2001 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                                    Sekretaris,

ttd                                                                           ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA            KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                               Sekrtaris Umum,

ttd                                                                               ttd

KH. Achmad Mursyidi                          Drs. H. Moh. Zainuddin