Bulan Maulid Nabi, Rabi’ul Awwal, memang sudah berakhir. Namun, mengenang kelahiran Nabi Muhammad saw. dan menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupan tidak mengenal ruang dan waktu. Untuk itulah, pada tanggal 7 Februari 2015 lalu, MUI Jakarta Barat bersama NU Jakarta Barat menyelenggarakan Gema Maulid Akbar 1436 H.

Kegiatan bertajuk “Dengan Maulid Kita Jadikan Rasulullah saw Sebagai Suri Tauladan dalam Kehidupan Kita” ini bertempat di Masjid Jami’ Nurul Istiqomah, Lamporan-Semanan Raya, Kalideres, Jakarta Barat. Hadir dalam kesempatan ini, sejumlah ulama, umara, dan habaib. Antara lain: KH. Munahar Muchtar [Ketum MUI Jakarta Barat], KH. Zuhri Yakub [Ketua Syuriah PBNU DKI Jakarta], KH. Abdurrahman Mahmud [Ketua Tanfidziyyah NU Jakarta Barat], KH, Fathurrahman Yakub, Habib Ali bin Bd. Rahman Al-Habsy, H. Syaifullah [Sekda Provinsi DKI Jakarta], H. Fatahillah [Askesmas Provinsi DKI Jakarta], Drs. Anas Effendi [Walikota Jakarta Barat], pengurus Kecamatan dan Kelurahan, aparat hukum  [militer dan polisi] dan lain-lainya.

Acara yang dibuka selepas ‘Isya dengan pembacaan kalam Ilahi oleh qori’ tingkat internasional, KH. Imron Rosyadi, ini banyak menyuguhkan tausiyah dari para kyai seputar maulid Nabi dari pelbagai aspek. KH. Zuhri Yakub, misalnya, yang didaulat mengawali ceramah sempat menyinggung betapa pentingnya peringatan Maulid Nabi seraya mengutip QS. Hud, ayat 120 yang berbunyi: “Dan semua kisah dari rasul-rasul yang telah Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang denganya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”  Menurut KH. Zuhri, berdasarkan ayat tersebut, Allah memantapkan Nabi untuk terus menyampaikan risalah-Nya. Sebab, pasalnya, perjuangan Nabi Muhammad saw. tidaklah mudah dan banyak penentangan pada masanya. Untuk itulah, Allah swt. mengisahkan perjuangan rasul-rasul sebelumnya kepada Nabi sebagai spirit untuk terus berdakwah dan menyeru kebaikan. Dalam hal ini, tegas KH Zuhri, bila Nabi Muhammad saw. saja butuh cerita-cerita perjuangan dari Nabi sebelumnya, apalagi umat zaman sekarang. Pada titik inilah, maulid Nabi terasa signifikan dan mengena untuk konteks kekinian.  Untuk memperkaya nutrisi spiritual jamaah seputar pentingnya Maulid Nabi, tentu saja, para ulama dan kyai lainya ikut bertausiyah. Meski di tengah acara sempat hujan, antusiasme jamaah yang datang dari pelbagai daerah itu tidak surut. Semua itu, tidak lain, karena kecintaan terhadap Nabi Muhammad saw. dan berharap dapat mengamalkan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para ulama dalam perayaan Maulid Nabi kali ini. [Teks dan Foto: Muaz]