Guru Hadi, atau K.H. Abdul Hadi bin K.H. Ismail, masih keturunan ke-10 Sultan Maulana Syarif Hasanuddin dari Banten. Dia lahir di Gang Kelor, Kelurahan Jawa, Manggarai, pada tahun 1331 H/ 1912 M. Ia temasuk salah satu murid Guru Marzuqi Cipinang Muara. Selain itu ia juga belajar kepada Guru Mahmud Menteng, Guru Pekojan, Mu’alim Shodri Pisangan Baru, dan ulama besar lainnya.

Di mata murid-muridnya, ada tiga sifat utama yang dimiliki Guru Hadi, Pertama, Hubbul ilmi, yaitu cinta ilmu dari kecil hingga tua. Kedua, tawadhu’, merendah kepada setiap orang, lebih khusus kepada dzurriyah Nabi Muhammad SAW. Ketiga, istiqamah, yaitu terus berkesinambungan di jalan dakwah dengan belajar dan mengajar. Hal ini terbukti, selain aktif mengajar, hingga masa tuanya, Guru hadi tetap aktif menuntut ilmu kepada para ulama di zamannya. Ia tidak pernah absen untuk datang ke majelis Habib Ali Kwitang, selain juga mengaji kepada Habib Ali Bungur, Habib Abdullah Asy-Syami, dan Al-Walid habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, hinga akhir hayatnya. Ulama yang tawadhu dan suri tauladan dalam keistiqamahan ini wafat pada 1988 dan dimakamkan di belakang Masjid Jami’ Al-Akhyar, Pisangan. Namanya diabadikan untuk sebuah masjid, Masjid Guru Hadi yang terletak di Jl. Gading Raya 1 Nomor 57, Jakarta Timur. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)