Nama lengkapnya Abdul Madjid, lahir di Pekojan, Jakarta Pusat tahun 1887. Ayahnya bernama KH. Abdurrahman bin Sulaiman bin Muhammad Nur bin Rahmatullah. Buyutnya yang bernama Rahmatullah ini dikabarkan masih keturunan Pangeran Diponegoro yang datang di daerah Kebayoran Lama karena mengikuti sayembara menaklukkan macan buas yang meresahkan masyarakat. Atas keberhasilannya mengalahkan macan tersebut, ia diberi sebidang tanah sesuai dengan bunyi sayembara.

Guru Madjid belajar agama kepada ayahnya sendiri, KH. Abdurrahman, sebelum bermukim di Makkah dan mengaji antara lain kepada Syekh Mukhtar Atharid dan Syekh Sa`id Al-Yamani. Di Makkah, ia mendalami ilmu fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, dan beberapa cabang ilmu bahasa Arab. Tetapi, Guru Madjid dikenal sebagai alim ahli tasawuf, ahli tafsir, dan terutama sekali ahli ilmu falak. Bagi murid-murid dan orang yang mengenalnya, Guru Madjid dikenal banyak menunjukkan keluarbiasaan, yang dalam bahasa Arab disebut Khariqul `adah. Di antara peristiwa luar buasa yang diingat para muridnya adalah ketika Guru Madjid dan para muridnya terhindar dari bahaya tertimbun reruntuhan masjid di jalan Pecenongan yang sedang digunaknnya untuk mengaji. Di kisahkan, ketika Guru Madjid dan salah seorang ulama lain, KH. Abdurrahman, sedang mengajar mengaji, tiba-tiba ia memperoleh firasat untuk memindahkan acara pengajian ke serambi masjid. Sekitar 15 menit kemudian, bangunan utama masjid itu roboh dan tinggal serambinya yang masih tegak. Guru Madjid  juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan perkembangan tempat rukyatul hilal di Menara Masjid Al-Musyari`in, Basmol, Jakarta Barat,  yang juga tidak tidak terlepas dari kiprah dan keterlibatan  Habib Usman Bin Yahya , Mufti Betawi.

Habib Usman bin Yahya sebagai seorang mufti yang menguasai berbagai bidang ilmu ke-Islaman, termasuk ilmu falak,  pada waktu itu melihat di sebelah barat Betawi terdapat dataran tinggi, dikenal dengan nama Pisalo atau Basmol, yang karena tingginya sampai hari ini tidak pernah kebanjiran. Pada waktu itu, daerah Basmol hampir seluruhnya digunakan sebagai area persawahan dengan cuaca dan pemadangan ke arah ufuk barat yang sangat baik dan memenuhi syarat untuk dijadikan tempat rukyatul hilal. Karena itulah Habib Usman terpikat dan menjadikan Basmol sebagai tempatnya untuk melakukan rukyatul hilal. Sepeninggalan Habib Usman yang wafat pada tahun 1913, Basmol tidaklah redup sebagai tempat favorit masyarakat Betawi untuk ngeker bulan. Ulama yang kemudian menggantikan posisi Habib Usman adalah Guru Madjid. Ketika Habib Usman wafat, ia berumur 26 tahun. Ia sempat mengarang kitab falak yang berjudul Taqwim an- Nayyirain berbahasa Arab-Melayu yang menjadi rujukan hisab para perukyat hilal di Pesalo Besmol selain kitab Sullam an-Nayyirain. Begitu terpikatnya dengan daerah Pisalo Basmol, ulama asal Pekojan ini bahkan ketika mau wafatnya meminta agar jenazahnya dikuburkan di tempat ini. Sekarang, makam beliau berada tepat di depan Masjid Al-Musyari`in, Basmol, Jakarta Barat bersama dengan beberapa makam lainnya. Untuk membedakan dengan makam lainnya dan agar mempermudah para penziarah, makamnya diberi kramik warna biru. Masyarakat Betawi Basmol sangat menghormatinya sehingga setiap tahunnya, yaitu pada minggu ke-2 di bulan Sya`ban selalu diselenggarakan haulan beliau.

Seiring dengan waktu, pemandangan di Pisalo Basmol ke arah ufuk barat mulai terhalang oleh bangunan. Terlebih sawah lapang yang dijadikan tempat rukyatul hilal dijadikan lintasan kali yang cukup lebar. Dikarenakan tidak lagi memungkinkan, menurut KH. Ahmad Syarifuddin Abdul Ghani,MA tokoh dan penerus rukyatul hilal Pisalo Basmol, pada tahun 1991, tempat rukyatul hilal dipindah ke Masjid Al-Musyari`in yang berjarak hanya beberapa meter di belakang tempat yang lama. Masjid Al-Musyari`in sendiri memiliki menara dengan ketinggian 28 meter, dan yang digunakan untuk rukyatul hilal pada ketinggian 25 meter dari menara. Tetapi, hanya pada ketinggian 9 meter saja, yaitu ketinggian yang ada di masjid, sebenarnya hilal sudah dapat dirukyat. Bukan hanya tempat rukyatul hilalnya saja yang berubah, tetapi juga sistem hisab yang dijadikan rujukan bukan hanya kitab Taqwim an- Nayyirain dan Sullam an-Nayyirain, tetapi juga menggunakan Ephemeris, Newcomb, dan lainnya.  Sampai saat ini ,setiap menjelang 1 Ramadhan, saat hari penentuan puasa, Masjid Al-Musyari`in, Pisalo Basmol sangat ramai dikunjungi oleh kaum muslimin, terutama masyarakat Betawi, yang datang dari Jakarta dan sekitaranya hanya untuk melihat  ahlinya orang Betawi mengeker bulan demi menghilangkan keraguan apakah besok sudah puasa atau belum?

Di antara murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama Betawi adalah Mu`allim Thabrani Paseban; KH. Abdul Ghani, Pesalo Basmol (bapak dari KH. Syarifuddin Abdul Ghani, MA); KH. Abdul Rozak Ma`mun, Tegal Parang; KH. Abdul Rahman, Petunduan; KH. Soleh, Tanah Koja; KH. Abdullah Syafi`i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafi`iyyah; KH. Nahwari, Kuningan, Jakarta Selatan; KH. Sa`idi, Ciputat; Syekh KH. Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Darry, pendiri dan pimpinan Pesantren An-Nida Al-Islami, Bekasi; KH. Najib, Tanah Abang; KH. Bakir, Rawa Bangke; KH. Abdurrahman, Bekasi; KH. Bakar, Tambun; KH. Abdullah, Kampung Baru, Cakung Barat;  KH. Mukhtar, Cengkareng; KH. Mas`ud, Cengkareng (ayah dari KH. Hasyim Mas`ud pimpinan pesantren Al-Hidayah, Basmol), KH. Tohir Rohili, pendiri dan pimpinan Perguruan At-Tahiriyah; KH. Thohir, Kampung Baru, Kebayoran, Jakarta Pusat; KH. Mas`ud, Pesalo Basmol; KH. Muhammad Azhari, Ketapang; KH. Syarbini, Kedaung Kaliangke; KH. Mursan, Batu Ceper; KH. Mohammad Zen, Kaliangke; KH. Najihun, Duri Kosambi; KH. Abdul Wahab, Rawabuaya; dan Guru Ma`mun, Rawabuaya; KH. Sukri, Batu Ceper; KH. Arsad, Batu Ceper; dan KH. Amin, Batu Ceper. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)