Nama lengkap Guru Mughni adalah Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qais. Ia lahir sekitar tahun 1860 di Kampung Kuningan, Jakarta dan wafat pada hari Kamis, 5 Jumadil Awwal 1354H, dalam usia 70 tahun. Ia merupakan anak bontot (bungsu) dari pasangan H. Sanusi dan Hj. Da`iyah binti Jeran. Saudara kandungnya yang lain adalah Romli, Mahalli dan Ghozali.

Keluarganya merupakan keluarga yang sangat taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Guru pertamanya adalah bapaknya sendiri, H. Sanusi. Selain mengaji kepada ayahnya, ia dan kakak-kakaknya juga mengaji kepada H. Jabir.

Kecerdasannya membuatnya sang bapak bertekad mengirimnya untuk belajar ke Makkah. Pada usia 18 tahun, ia dikirim bapaknya ke Makkah. Pada tahun 1885, ia sempat kembali ke tanah air. Namun, karena merasa belum cukup berilmu, ia kembali lagi Makkah unuk mengaji selama lima tahun. Keilmuannya yang mendalam, membuat ia pernah diminta untuk mengajar di Masjidil Haram bersama ulama Makkah lainnya.

Di antara guru-gurunya selama di Makkah antara lain: Syekh Sa`id Al-Babsor (Mufti Makkah), Syekh Abdul Karim Al-Daghostani, Syekh Muhammad Sa`id Al-Yamani, Syekh Umar bin Abi Bakar Al-Bajnid, Syekh Muhammad Ali Al-Maliki, Syekh Achmad Al-Dimyathi, Syekh Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Abdul Hamid Al-Qudsi, Syekh Muhammad Mahfuz Al-Teramasi, Syekh Muhammad Muktar Athorid A-Bogori, Syekh Sa`id Utsman Mufti Betawi, Syekh Muhammad Umar Syatho, Syekh Sholeh Bafadhal, Syekh Achmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Setelah 14 Tahun di Makkah, ia kembali ke Tanah Air. Dengan kapasitas ilmunya, orang datang berduyun-duyun untuk belajar dan menimba ilmu darinya. Sejak itulah ia dikenal dengan panggilan “Guru Mughni”. Dari beberapa pernikahannya, ia dikarunia banyak anak. Seperti dirinya, Guru Mughni juga mengirim putra-putrinya untuk bermukim dan menuntut ilmu agama di Makkah. Sekembalinya ke tanah air, anak-anaknya banyak yang berhasil menjadi ulama, antara lain, yaitu: KH. Syahrowardi, KH. Achmad Mawardi, KH. Rochmatullah, KH. Achmad Hajar Malisi, KH. Ali Syibromalisi, KH. Achmad Zarkasyi, dan KH. Hasan Basri. Selain anak-anaknya, cucu-cucunya ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, antara lain, yaitu KH. Abdul Rozak Ma`mun, Dr. KH. Nahrawi Abdus Salam, KH. Abdul Azim AS, KH. Abdul Mu`thi Mahfuz, dan KH. Faruq Sanusi. Selain anak dan cucunya, cicitnya pun, baik yang putri maupun putra, ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, salah satunya adalah Dr. KH. Lutfi Fathullah yang pada masa kecilnya pernah berguru kepada salah seorang kakeknya, KH. Ali Syibromalisi.

Di halaqah atau majelis taklimnya, Guru Mughni mengajar ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadits, akhlak, dan bahasa Arab. Untuk pelajaran fiqh, ia gunakan kitab Safinah An- Najah untuk tingkat  murid dan kitab Fath Al- Mu`in untuk tingkat guru. Untuk pelajaran tauhid, ia gunakan kitab Kifayah Al-Awam. Untuk pelajaran tafsir, ia gunakan Tafsir Jalalain. Untuk pelajaran hadits, ia gunakan kitab Shahih Bukhori dan Shahih Muslim. Untuk pelajaran akhlak, ia gunakan kitab Minhaj Al-Abidin. Untuk tata bahasa Arab, ia gunakan kitab Alfiyah. Selain itu, ia juga menerjemahkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Syama`il.

Murid-muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka di antaranya adalah Guru Abdul Rachman Pondok Pinang, KH. Mughni Lenteng Agung, Guru Naim Cipete, KH. Hamim Cipete, KH. Raisin Cipete, Guru Ilyas Karet, Guru Ismail atau Guru Mael Pendurenan, KH.Abdurrachim dan KH. Abdullah Suhaimi yang menjadi salah seorang guru dari Syekh. Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)