Seorang ayah, suatu hari, menjanjikan putra kinasihnya satu hadiah istimewa jika sang anak lulus kuliah dengan peringkat luarbiasa.

Momen itu tiba. Sang anak benar-benar lulus. Ia meraih nilai istimewa. Dan ia pun menghadap ayahandanya. Tentu, sang ayah mafhum. Sang ayah mengerti maksud putranya itu. Ia pun pergi, dan menunaikan janjinya. Ia menyerahkan hadiah yang dijanjikanya tersebut kepada putranya. Ia memberikan al-Qur’an yang indah kepada buah hatinya dengan bungah.

Sang anak terheran-heran. Ia terkejut menatap ayahnya, ia terkaget-kaget dengan  hadiah tersebut.

“Ini hadiahku, wahai ayah!?” Tanyanya heran, seraya mengguncang-guncang Kibab Suci itu.

“Ya,” jawab sang ayah, tegas.

Tetiba sang anak melemparkan hadiah itu. Ia berpaling. Murka. Kecewa. Marah. Ia lalu kabur dari rumahnya selama beberapa hari. Ia kesal dan tidak menduga hanya mendapatkan al-Qur’an. Singkat cerita, setelah itu, ia pulang ke rumah lagi. Dan ia mencari-cari ayahnya. Namun, ia tidak menemukanya. Ia lalu bertanya kepada ibunya. “Ayah dimana, Bunda?”

“Ayahmu sudah tiada, Nak,” jawab ibundanya seraya menangis terisak-isak.

Anak itu kaget bukan kepalang. Ayahnya sudah wafat? Tidak! Spontan, ia pun menangis juga. Ia merasa bersalah. Ia sedih sekali. Ia menyesali diri yang tidak tahu terimakasih. Ia kemudian mencari al-Qur’an pemberian almarhum ayahnya. Ia memeluk hadiah istimewa itu di dadanya, begitu erat, begitu kuat.

Pelan-pelan ia membuka al-Quran itu. Lamat-lamat ia membaca sebagian ayat-ayatnya. Dan…betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah kunci mobil ada di dalamnya. Ia sadar. Ternyata, sang ayah tidak mangkir. Ternyata ayahnya benar-benar membelikannya hadiah istimewa itu: sebuah mobil.

Rupanya, ayahnya sengaja meletakkan kunci mobil itu di dalam al-Qur’an, agar ia kerap mengingat Allah meski materi sudah dimilikinya. Namun ia keburu berprasangka buruk, hingga menghempaskanya dan tidak memahami maksud sang ayah. Ia malah mendurhakai ayahnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilakukanya. Ia bukan hanya tidak merhormati Kitab Suci itu, tapi juga mengejek dan menghinakan hadiah super istimewa dari ayah tercintanya yang kini sudah pergi selama-lamanya.

Demikianlah secuil kisah yang saya nukil dan sadur kembali dari kitab 150 Qishah Birrul Walidain wa Uququhuma wa Shilaturahim, yang ditulis Mansyur Abdul Hakim [Darul Kitab Al-Araby, Mesir, hal 201-202: 2011).

Syahdan menurut penulis kitab, kisah kontemporer ini adalah kejadian nyata. Sayang, tak ada penjelasan terjadi dimana dan kapan peristiwanya.  Barangkali di Mesir, tempatnya berasal. Barangkali, setahun lalu, atau beberapa tahun silam. Entahlah. Yang demikian kadangkala tidak begitu penting, termahjub dengan pesan dan hikmah kejadian yang kita bisa tafakuri bersama.

Sejatinya, ihwal kisah durhaka anak terhadap orangtua begitu banyak. Kejadian sang ayah dan putranya di atas hanya setitik hikayat yang menegaskan betapa kasih orangtua menangkup segenap pikiran dan perasaan sang anak. Semua orangtua, saya yakin, punya seribu satu cara mengasihi dan menyayangi putranya. Mereka punya cadangan kasih sayang yang sulit kita ukur neracanya. Sementara anak? Anak acapkali mengukur-ukur dan menghisab-hisab laku pemberian terhadap orangtua. Anak kerap merasa puas selepas memberi yang jumlahnya tak seberapa.  Lebih dari itu, prasangka, ego, dan nafsu seringkali meringkus sang anak untuk bersikap tak adil terhadap orangtuanya. Perasaan-perasaan tidak disayang. Pikiran-pikiran tidak dikasihi. Itulah yang suka muncul. Sementara orangtua? Merekalah para juara dan jawara kehidupan yang setelah tiada kita baru merasakanya. Merekalah yang menempatkan kepentingan anak terlebih dahulu demi kepentinganya. Mereka melupakan kebutuhan sendiri demi sang anak. Mereka meminggirkan keinginannya dulu demi buah hatinya.

Bahkan, bila seandainya mereka, para juara dan jawara kehidupan itu, tidak mengenal huruf dan angka sekalipun,  mereka punya “ilmu” lebih jitu dan bernilai dalam mencintai putra-putrinya. Wallahu’alam bilshawab[Foto: dok.pribadi Muaz]