Hadis palsu ketiga, orang yang berpuasa itu tetap dalam ibadah meskipun dia tidur di atas kasurnya.

Hadis ini  diriwayatkan oleh Dailami rahimahullah dalam kitab Musnad Firdaus lewat jalur Anâs bin Mâlik ra. dengan lafazh :

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ نََائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa itu tetap dalam ibadah meskipun dia tidur di atas kasurnya”.

Sanad hadis ini palsu (maudhu), karena ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl. Orang ini termasuk pemalsu hadis, sebagaimana diterangkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab ad-Dhu’afa.

Kepalsuan hadits ini dapat dilihat di kitab Silsilah ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, no. 653 dan kitab Faidhul Qadîr, no. 5125

Ada juga hadis lain yang semakna :

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang yang sedang berpuasa itu ibadah, diamnya merupakan tasbih, amal perbuatannya (akan dibalas) dengan berlipatganda, doa’nya mustajab dan dosanya diampuni”. (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan lain-lain dari jalur periwayatan Abdullah bin Abi Aufa.)

Sanad hadis ini  palsu (maudhu), karena dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i, seorang pendusta. ( Dapat dilihat  di kitab Faidhul Qadir, no. 9293, Silsilatud Dha’ifah, no. 4696)

(Bersambung)

(Rakhmad Zailani Kiki, dari pelbagai sumber)