Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 13 Ramadhan 1431 H, bertepatan dengan tanggal 23 Agustus 2010, yang membahas tentang Hukum Kegiatan Keagamaan yang Mengganggu Ketertiban Umum, berdasarkan Rekomendasi Palang Merah Indonesia (PMI), setelah:

Menimbang:

Hasil Kajian Tim Syari’ah dan Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta.

 

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 – 2015
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

  1. Rekomendasi Palang Merah Indonesia (PMI).

 

  1. Saran dan pendapat para peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 13 Ramadhan 1431 H, bertepatan dengan tanggal 23 Agustus 2010, tentang Hukum Memindahkan Mayat (Kuburan) berdasarkan rekomendasi PMI.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, al-Sunnah dan pendapat (qaul) yang mu’tabar, menyampaikan dan merevisi fatwa yang dikeluarkan Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta pada tanggal, sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya kegiatan keagamaan (membaca tahlil, dzikir, atau shalawat bersama) merupakan ibadah yang banyak dianjurkan dalam agama Islam, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab, ayat 41 : “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya”.

Dan hadist Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut:

 

صحيح مسلم (13/167)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الله عَزَّ وَ جَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَ أَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكُرُوْنِى إِنْ ذَكَرَنِيْ فِي نَفْسِهِ ذَكَرَتُهُ فِي نَفْسِي وَ إِنْ ذَكَرَنِي فِى مَللإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَللإٍ هُمْ خًيْرٌ مِنْهُمْ وَ إِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَ إِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Artinya:

Diriwayatkan Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda; Allah berfirman: “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat Aku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam Dzat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di tengah-tengah umat, mereka lebih baik dari mereka. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal Aku akan mendekatinya satu hasta, apabila ia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya satu depa. Kalau ia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”.

 

  1. Di antara adab tahlil, dzikir atau shalawat yang diajarkan Rasulullah SAW adalah kegiatan itu dilakukan dengan tidak mengganggu ketertiban umum apalagi menyakiti atau merugikan orang lain.

 

  1. Apabila tahlil, dzikir atau shalawat yang mulia itu dilakukan dengan mengganggu ketertiban umum apalagi menyakiti atau merugikan orang lain, maka hukumnya menjadi haram, berdasarkan firman Allah SWT, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.

 

Dan hadist Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut:

لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ

Artinya:

“Tidak boleh membuat bahaya kepada diri sendiri dan membuat bahaya kepada orang lain”.

 

 

Artinya:

 

الضرار يزال

“Bahaya itu harus dihilangkan”.

صحيح البخاري – (ج 8/ ص 351)

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَ الجُلُوْسُ عَلَى الطُرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيْهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا المـَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيْقَ حَقَّهَا قَالُوا وَ مَا حَقُّ الطَّرِيْقِ قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَ كَفُّ الْأَذَى و َ رَدُّ السّلَامِ وَ أَمْرٌ بِالمـَعْرُوفِ و َ نَهْيٌ عَنِ المـُنْكَرِ

Artinya:

Diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudry dari Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Hendaknya kalian tidak duduk-duduk di jalan. Kenapa kami tidak boleh berbuat itu? Apabila kamu tidak mengindahkan dan tetap duduk-duduk di jalan, berikan hak-haknya pemakai jalan. Apa hak bagi para pemakai jalan yang diwajibkan bagi orang yang duduk-duduk di jalan? Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Menahan pandangan, tidak menyakiti (mengganggu), menjawab salam dan amar ma’ruf nahyi mungkar”

حاشيتا قليوبي – و عميرة ( 9/445)

فَصْلٌ : مَنْفَعَةُ الشَّارِعِ الأَصْلِيَّةِ (الـمُرُوْرُ) فِيْهِ (وَ يَجُوْزُ الجُلُوْسُ بِهِ لِاِسْتِرَاحَةٍ وَ مُعَامَلَةٍ وَ نَحْوِهِمِا إِذَا لَمْ يُضَيِّقْ عَلَى الـمَارَّةِ، وَ لَا يُشْتَرَطُ إِذْنُ الْإِمَامِ) فِي ذَلِكَ لِإِتِّفَاقِ النَّاس عَلَيْهِ عَلَى تَلَاحُقِ الأَعْصَارِ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ

Artinya:

Tujuan utama adanya jalan adalah untuk dilewati. Duduk-duduk di jalan untuk istirahat atau melakukan transaksi dan sejenisnya diperbolehkan, selama tidak membuat sempit (tidak mengganggu) arus lalu lintas. Hal ini tidak di syaratkatkan izin dari penguasa karena telah disepakati masyarakat dan tidak pernah disangkal berbagai generasi sepanjang masa.

 

 

 

 

Jakarta, 13 Ramadhan 1431 H.

23 Agustus 2010 M.

 

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

 

Ketua,

 

ttd

 

KH.Syarifudin Abdul Ghani, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

Dr. H. Fuad Thohari, MA

 

Mengetahui,

DEWAN PIMPINAN MUI DKI JAKARTA

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Munzir Tamam, MA

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Dr. H. Samsul Ma’arif, MA

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of