Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 8 Rabi’al Akhir 1422 H, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2001 M, yang membahas tentang Hukum Melantunkan Al-Qur’an Secara Bersamaan (Duet dan Koor)[1], setelah :

Menimbang:

  1. Bahwa akhir-akhir ini, sebagian qari dan qari’ah merasa senang dan bangga jika mereka dapat melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an secara bersama-sama oleh dua orang (duet) atau lebih disertai dengan lagu-lagu yang indah. Hal itu bukan hanya mereka lakukan pada acara-acara keagamaan, tetapi juga direkam dalam pita-pita kaset untuk disebarluaskan kepada masyarakat.

 

  1. Bahwa melantunkan ayat suci al-Qur’an secara bersama-sama oleh dua orang (duet) atau lebih dapat mempengaruhi keikhlasan niat para qari dan qari’ah dari niat semata-mata menyampaikan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai petunjuk atau pembimbing bagi manusia ke arah keselamatan dunia dan akhirat, serta penyembuh dari segala macam penyakit jiwa (hati) yang akan menjerumuskannya ke lembah kesengsaraan dunia dan akhirat, kepada niat memamerkan kehebatan diri mereka (riya’ dan sum’ah).

 

  1. Bahwa sehubungan dengan semakin maraknya pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an secara bersama-sama oleh dua orang qari dan qari’ah atau lebih, maka masyarakat luas terdorong untuk mengajukan pertanyaan kepada Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta tentang Hukum Melantunkan Al-Qur’an Secara Bersamaan (Duet dan Koor).

 

  1. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang boleh atau tidaknya Hukum Melantunkan Al-Qur’an Secara Bersamaan (Duet dan Koor), maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk memberikan fatwa tentang Hukum Melantunkan Al-Qur’an Secara Bersamaan (Duet atau Koor).

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

 

 

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 8 Rabi’al Akhir 1422 H, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2001 M, yang membahas tentang Hukum Melantunkan Al-Qur’an Secara Bersamaan (Duet atau Koor).

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Melantunkan al-Qur’an secara duet atau koor seperti yang dilantunkan oleh sebagian qari dan qari’ah Indonesia adalah hukumnya Jika hal itu menimbulkan dampak negatif seperti perubahan huruf atau bacaan sehingga mengubah arti ayat-ayat al-Qur’an dari arti yang sebenarnya maka hukumnya adalah haram. Di antara hujjah (argumentasi)-nya adalah:

 

  1. Melantunkanal-Qur’an secara duet atau koor merupakan bid’ah madzmumah (tercela) yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan ulama-ulama salaf yang shaleh. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Ibda’ fi Madlar al-Ibtida, halaman 285:

 

و من البدع قرأة القرأن جماعة جماعة المسماة عندهم (بالقرأة الليثية) و هي دائرة بين الحرمة و الكراهة فقد أنكرها الضحاك و قال ما رأيت و لا سمعت و لا أدركت أحدا من الصحابة يفعلها و قال ابن وهب لمالك رحمه الله تعالى أرأيت القوم يجتمعون فيقرؤون جميعا سورة واحدة حتى يختموها فأنكر ذلك و عابه و قال ليس هكذا كان يصنع الناس إنما كان يقرأ الرجل على الأخر يعرضه انتهى

 

“Dan sebagian dari bid’ah yang dibuat-buat adalah membaca Al-Qur’an secara bersama-sama (duet atau koor) yang mereka namakan bacaan laitsiyah. Hal ini termasuk kisaran antara hukum haram dan makruh. Adh-Dhahak berkata: Saya tidak pernah mendengar, melihat atau menjumpai seorang sahabat melakukan hal itu”. Ibnu Wahab berkata: saya bertanya kepada Imam Malik RA: “Bagaimana pendapat anda tentang orang-orang yang bersama-sama membaca satu surat?” Beliau menolak dan mencelanya sambil berkata: “Bukan begitu yang dilakukan umat manusia (para Sahabat dan Tabi’in). Salah seorang di antara mereka membacakan al-Qur’an dan memperdengarkanya kepada orang lain”.

 

Demikian juga disebutkan dalam kitab Al-Itqan, sebagai berikut:[2]

 

 

 

و من ذلك نوع أحدثه هؤلاء الذين يجتمعون فيقرأون كلهم بصوت واحد فيقولون فى قوله تعالى أفلا تعقلون بحذف الألف و قال آمنا بحذف الواو و يمدون ما لا يمد ليستقيم لهم الطريق  التى سلوكها و ينبغى أن يسمى التحريف

 

“Dan di antaranya adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang yang berkumpul kemudian membaca al-Qur’an dengan satu suara (naa).Mereka mengucapkan firman Allah “Afalaata’qiluun” dengan membuang huruf alif (mad), mereka mengucapkan “Qaaluuaamannaa” dengan membuang huruf waw (mad), mereka panjangkan apa yang seharusnya tidak dipanjangkan sekedar untuk meluruskan jalan (menyamakan nada) yang mereka gariskan. Dan cara inilah yang disebut tahrif (merubah-rubah bacaan al-Qur’an).

 

  1. Melantunkan al-Qur’an secara duet atau koor sangat memungkinkan terjadinya kesalahan dan kesemrawutan dalam bacaan yang disebabkan oleh terputusnya nafas salah seorang Ketika ia selesai mengumpulkan nafas, teman-temannya telah sampai pada bacaan selanjutnya, maka ia terus mengikuti bacaan yang terdahulu itu dengan meninggalkan huruf-huruf atau ayat-ayat yang tertinggal, demi untuk memelihara kesamaan bacaan (nada). Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al- Ibda’ fi Madlar al-Ibtida, halaman 285:

 

و قد تؤدى هذه القرأة إلى تقطيع الحروف ولآيات لا تقطاع نفس أحدكم فيتنفس فيجد أصحابه قد سبقوه فيترك بقية الآية أو الكلمة و يلحقهم فيما هم فيه فيشاركهم تارة فى إبتداء الآية و تارة فى أثنائها و بذلك يقرأ القرأن على غير تربية الذى أنزل عليه و فيه ما فيه من الخليط فى كتاب الله تعالى فقد تخـتلط آية رحمة بآية عذاب و آية أمر و آية نهى و آية وعد بآية وعيد إلى غير ذلك، أضف إلى هذا أنهم يتصنعون بحاجرهم أصواتا مختلفة تقشعر منها جلود المؤمنين و تطرب لها نفوس الغافلين و كل ذلك حرام بإجماع المسلمين

 

“Membaca al-Qur’an secara bersama-sama (duet atau koor) terkadang menyebabkan terputusnya beberapa huruf atau beberapa ayat karena terputusnya nafas salah seorang pembaca. Ketika ia selesai menarik (mengumpulkan) nafas, teman-temannya telah sampai pada bacaan selanjutnya, maka ia terus mengikuti bacaan yang terdahulu itu dengan meninggalkan huruf-huruf atau ayat-ayat yang tertinggal, demi untuk memelihara kesamaan bacaan (nada). Terkadang hal itu terjadi pada permulaan ayat, dan kadang pula terjadi di tengah-tengah ayat. Dengan demikian, ia telah membaca al-Qur’an tidak sesuai dengan susunan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Akibat lebih lanjut, hal itu juga menimbulkan kesemrawutan dalam membaca kitab suci al-Qur’an. Mungkin ayat rahmat bercampur baur dengan ayat ‘adzab, ayat perintah bercampur dengan ayat larangan, ayat janji berbaur dengan ayat ancaman dan sebagainya. Lebih dari itu, kadang-kadang mereka membikin-bikin di tenggorokan mereka berbagai macam suara yang menyebabkan berdirinya bulu kuduk orang-orang mu’min dan menimbulkan kesenangan di hati orang-orang yang lalai. Cara pembacaan yang demikian itu adalah haram menurut kesepakatan seluruh ulama muslim”.

 

  1. Melantunkan al-Qur’an secara duet atau koor dapat mendorong para qari dan qari’ah untuk membacanya secara cepat-cepat sehingga tidak memperhatikan makhraj huruf atau kaidah-kaidah ilmu tajwid. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fadhail al-Qur’an, Juz IV halaman 55:

و قال الإمام أحمد ثنا عبد الوهاب يعنى ابن عطاء ثنا أسامة بن زيد الليثي عن محمد بن المنكدر عن جابر بن عبد الله قال دخل رسول الله صلى الله عليه و سلم المسجد فإذا قوم يقرؤون القرأن قال إقرأ القرأن و ابتغوا به الله عز و جل من قبل أن يأتي قوم يقيمونه إقامة القدح يتعجلونه. و قال أحمد أيضا ثنا خلق بن الوليد ثنا خالد عن حميد الأعراج عن محمد بن المنكدر عن جابر بن عبد الله قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم و نحن نقرأ القرأن و فينا العجمي و الأعرابي فاستمع فقال اقرؤوا فكل حسن و سيأتي قوم يقيمونه كما يقام القدح يتعجلونه و لا يتأجلونه

 

 

“Menurut riwayat yang diterima oleh Imam Ahmad dari Abdul Wahab Ibnu Atha’ dari Usamah ibn al-Laitsi dari Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir ibn Abdullah RA “Suatu ketika, Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid sementara para sahabat sedang membaca al-Qur’an, Nabi berkata: Bacalah al-Qur’an dan carilah keridhaan Allah dengan bacaan itu, sebelum tiba masanya dimana orang-orang membacanya seperti orang menegakkan mangkok, mereka bergegas-gegas menegakkannya dan tidak menegakkannya dengan tenang. Dari Sanad lain, Imam Ahmad meriwayatkan ucapan Jabir bin Abdullah RA sebagai berikut: “Suatu ketika Rasulullah SAW masuk ke tengah-tengah kami pada waktu kami sedang membaca al-Qur’an. Di antara kami ada orang non Arab dan pula orang Arab.Setelah beliau mendengar dan memperhatikan bacaan kami, beliau berkata: Bacalah! Semuanya baik! Nanti akan datang suatu masa, di mana suatu kaum akan membaca al-Qur’an seperti orang menegakkan mangkok, mereka bergegas-gegas menegakkannya dan tidak menegakkannya dengan tenang”.

 

  1. Melantunkan al-Qur’an secara duet atau koor mengharuskan para qari dan qari’ah untuk memelihara keseragaman nada dan Akibatnya, mereka lebih menitikberatkan segi estetika atau keseniannya disbanding dengan memelihara kesucian al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT yang seharusnya dibaca dengan khusyu’ dan dihayati makna-maknanya. Sebagaimana difirmankan dalam surat Shaad, ayat 29:

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shad (38):29)

 

  1. Melantunkan al-Qur’an secara duet atau koor yang dilakukan oleh para qari dan qari’ah sangat dikhawatirkan akan berkembang menjadi mode, di mana kitab suci al-Qur’an tidak lagi dibaca sebagai bacaan suci yang agung yang mengetuk hati nurani para pendengar, tetapi akan merosot menjadi suatu peragaan dan tontonan yang rendah (murah). Sebagaimana telah diingatkan Allah SWT dalam surat al-Jatsiyah, ayat 35:

 

 

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula diberi kesempatan untuk bertaubat”.  

 

Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa’, ayat 140:

 

 

 

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga memasuki pembicaraan yang lain), karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka”.

 

  1. Sehubungan dengan keputusan fatwa ini, Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta menghimbau kepada seluruh umat Islam, khususnya para qari dan qari’ah agar memelihara kesucian dan keagungan al-Qur’an dengan tidak membacanya secara bersama-sama (duet atau koor), sebagaimana yang dilakukan oleh para penyanyi dalam mendendangkan lagu-lagunya. Semoga Allah SWT memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk memelihara kesucian dan keagungan firman-Nya. Amin.

 

Jakarta, 8 Rabi’ul Akhir 1422 H.

20 Juli 2001 M.

 

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

 

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

 

 

[1]Fatwa  ini adalah penyempurnaan dari Penjelasan MUI DKI Jakarta tentang: 1. Pembacaan duet (koor) al-Qur’an, tanggal 22 Dzulhijjah 1406 H/28 Agustus 1986 M yang ditandatangani oleh KH. Achmad  Mursyidi dan H. Gazali Syahlan, 2. Fatwa  MUI  DKI  Jakarta  tentang pembacaan bersama (koor) al-Qur’an, tanggal 8 Sya’ban 1403 H bertepatanpadatanggal 21 Mei 1983 yang ditandatangani oleh KH. Abdullah Syafi’ie dan H. Gazali Syahlan (surat terlampir ).

[2]Jalal ad-Din as-Suyuthi, Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz I, hal. 102.