Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 21 Jumadi ats-Tsaniyah 1421 H, bertepatan dengan tanggal 20 September 2000 M yang membahas permohonan fatwa Saudara Rulianto Jl. Karya Bakti III/6A Gongseng-Cijantung tentang hukum pembudidayaan bekicot dan memakan dagingnya sesudah diolah menjadi abon, dendeng, sate dan sebagainya, setelah;
Menimbang:
1. Bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini telah memungkinkan manusia mendayagunakan ciptaan Allah SWT secara optimal sehingga hal-hal yang mustahil dilakukan oleh manusia beberapa puluh tahun yang lalu, kini dapat mereka lakukan.

2. Bahwa salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan ciptaan Allah SWT secara optimal berkat pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah pembudidayaan bekicot untuk diolah menjadi abon, dendeng, sate dan sebagainya.

3. Bahwa sebagian umat Islam mempertanyakan boleh tidaknya pembudidayaan bekicot untuk diolah menjadi abon, dendeng, sate ditinjau dari sudut hukum Islam.

4. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hukum pembudidayaan bekicot untuk diolah menjadi abon, dendeng, sate, maka MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan fatwa tentang hukum masalah yang dimaksud ;

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal tanggal 20 September 2000 M yang membahas permohonan fatwa Saudara Rulianto Jl. Karya Bakti III/6A Gongseng-Cijantung tentang hukum pembudidayaan bekicot dan memakan dagingnya sesudah diolah menjadi abon, dendeng, sate dan sebagainya.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah dan kitab-kitab yang mu’tabar, menyampaikan fatwa sebagai berikut:
1. Pada dasarnya, seluruh hewan yang hidup di lautan (air), baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, adalah halal dimakan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 14:

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا

“Daan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan)”. An-Nahl (16) :14)

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Maidah ayat 96 :

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan”. (Al-Maidah (5): 96)

2. Hewan yang hidup di darat, pada dasarnya semuanya juga halal dimakan dagingnya, kecuali yang secara tegas diharamkan oleh al-Qur’an atau as-Sunnah. Diantaranya adalah bangkai (hewan yang mati tidak melalui sembelih secara syar’i / ajaran Islam), darah, daging babi, dan daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala”. (QS. Al-Maidah (5) :3)

Demikian juga diharamkan memakan hewan buas yang mempunyai gigi taring dan burung yang mempunyai kuku mencengkram. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Hadits Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagaimana berikut :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَ عَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَيْرِ
“Rasulallah SAW melarang (umat Islam) memakan setiap binatang buas yang bergigi taring dan burung yang mempunyai kuku mencengkram”.

3. Bekicot, sepanjang tidak membahayakan kesehatan manusia dan tidak dipandang sebagai hewan yang menjijikkan oleh perasaan umat manusia yang normal, maka hukumnya adalah halal, baik untuk dibudidayakan maupun untuk dimakan. Akan tetapi jika membahayakan kesehatan manusia atau dinilai menjijikkan oleh perasaan manusia yang normal, maka ia termasuk al-khabaits yang haram dimakan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-A’raf ayat 157 :

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf (7):157)

Para ulama memberikan definisi al-khabaits (segala yang buruk) yang disebutkan Allah SWT pada ayat di atas adalah sebagai berikut:

الخبائث هي التي يستقذرهاالذوق الحسىي العام للناس في مجموعهم، إن أساغها أفردهم

Al-Khabaits (segala sesuatu yang buruk yang diharamkan oleh Allah SWT) adalah segala sesuatu yang dipandang jijik oleh orang-orang yang memiliki dzauq (rasa) yang normal, sungguh pun ada diantara mereka yang secara individual (tidak memandang jijik sehingga) memperbolehkannya”

Demikian juga jika membahayakan kesehatan manusia, maka hukumnya menjadi haram. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah, ayat 195 :

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah (2):195)

Jakarta, 21 Jumadi ats-Tsaniyah 1421 H.
20 September 2000 M

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                               Sektretaris,

Prof. KH. Irfan Zidny, MA        KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                            Sekretaris Umum,

KH. Achmad Mursyidi                         Drs. H. Moh. Zainuddin

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of