foto: dok.pribadi Muaz

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 13 Syawwal 1420H, bertepatan dengan tanggal 20 Januari 2000 M, yang membahas tentang HukumWanita Menjadi Petugas Haji, setelah :

Menimbang:

  1. Bahwa setiap tahun, jumlah kaum wanita Indonesia yang melaksanakan ibadag haji mencapai lebih 50 % dari seluruh jamaah haji Indonesia.
  1. Bahwa untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadahnya, jamaah haji wanita sangat memerlukan bantuan, pelayanan dan bimbingan dari para petugas haji wanita di samping petugas haji pria, terutama dalam memberikan bimbingan kepada mereka yang sedang menjalani masa haid dan ketika sedang berada di raudhah (Masjid Nabawi), atau memberikan penyuluhan terhadap masalah-masalah yang khusus bagi kaum wanita pada umumnya.
  1. Bahwa menjadi petugas haji, adalah salah satu jenis ibadah kepada Allah SWT dalam bentuk pemberian bantuan, pelayanan dan bimbingan kepada para tamu Allah (dhuyur ar-Rahman) agar mereka dapat melaksanakan ibadah haji dengan benar dan sempurna serta khusyu’ sehingga dapat meraih haji mabrur.
  1. Bahwa agama Islam memberikan kesempatan yang sama kepada kaum pria dan wanita untuk melaksanakan ibadah dan amal shaleh serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 13 Syawwal 1420H, bertepatan dengan tanggal 20 Januari 2000 M, yang membahas tentang HukumWanita Menjadi Petugas Haji.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Pada prinsipnya, kaum wanita yang memiliki kemampuan untuk memberikan tuntunan, bantuan dan bimbingan kepada jamaah haji Indonesia dan memenuhi syarat sebagai petugas haji diperbolehkan menjadi petugas haji. Karena menjadi petugas haji adalah suatu ibadah, Islam tidak membeda-bedakan antara kamu wanita dan pria.. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil sebagai berikut:
  1. Firman Allah SWT dalam surat al-Azhab ayat 35:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٣٥)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Ahzab, 33:35)

  1. Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa’ ayat 124:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا (١٢٤)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An-Nisa’, 4:124)

 

  1. Firman Allah SWT dalam surat at-Taubah’ ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٧١)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian mereka yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah, 9:71)

 

 

  1. Bahwa dalam beberapa hadits yang shahih, Rasulullah SAW memang melarang kaum wanita bepergian jauh jika tidak disertai suami atau mahram. Di antaranya adalah hadits shahih yang dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيْرَةً يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ عَلَيْهَا (رواه البخاري ومسلم(

“Dari sahabat Abu Hurairah beliau berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda; ‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir bepergian (safar) dalam waktu satu hari satu malam, kecuali disertai mahramnya”. (H.R. Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

 

Akan tetapi para ulama memahami, bahwa larangan Rasulullah tersebut adalah semata-mata dimaksudkan sebagai langkah preventif (Li Saddi adz-Dzari’ah, bukan Lidzatihi) yang bertujuan untuk melindungi kaum wanita dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi di tengah perjalanan. Oleh karena itu, jika perjalanan aman apalagi bersama-sama dengan rombongan yang dapat melindungi kaum wanita dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi, maka kaum wanita diperbolehkan menempuh perjalanan jauh meskipun tidak disertai suami atau mahram. Dalam hal ini termasuk untuk melaksanakan ibadah haji atau ‘umrah. (Kitab Fathul Bari Juz IV/447).

  1. Pendapat Imam al-Karabisi yang menyatakan bahwa kaum wanita boleh menempuh perjalanan jauh sendirian, tanpa disertai suami atau mahram atau rombongan, jika situasi perjalanan benar-benar aman baginya. Pendapat ini dinilai shahih oleh Imam Abu Ishaq al-Fairuzzabadi, seorang ulama besar di kalangan madzhab Syafi’i.[1]
  1. Qaidah Ushuliyah sebagaimana dikutip oleh Dr. Yusuf Qardlawi sebagai berikut:[2]

 

إن ما حرم لذاته لا يباح إلا لضرورة أماما حرم لسد الذريعة فيباح للحاجة

 

“Sesuatu yang diharamkan atas dzatiyahnya, maka tidak akan diperbolehkan kecuali karena sangat darurat. Adapun sesuatu yang diharamkan karena sebagai langkah preventif (lisaddi dzari’ah), maka suatu ketika diperbolehkan karena ada hajat (kebutuhan)”.

  1. Hadits Mauquf yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab shahihnya, bahwa khalifah Umar ibn al-Khattab memberikan ijin kepada para isteri Nabi untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian beliau mengutus sahabat Utsman ibn Affan dan Abdurrahman ibn ‘Auf untuk mendampingi mereka. Ternyata kebijakan Umar ini disetujui oleh seluruh sahabat dan tidak ada seorang pun di antara para sahabat yang menentangnya. Oleh karena itu, hal ini dapat dinilai sebagai Ijma’. (Fathul Bari Juz IV/447).
  1. Syarat_syarat yang harus dipenuhi oleh kaum wanita yang boleh menjadi petugas haji adalah sebagai berikut:
  1. Bersifat amanah dan mampu menjaga kehormatannya selaku wanita muslimah yang mendapat amanat sebagai petugas haji.
  2. Mendapat ijin dari suami bagi yang bersuami atau dari walinya bagi yang tidak
  3. Tidak sedang menjalani masa ‘iddah, baik karena dicerai (thalaq), maupun karena ditinggal mati suami.
  1. Petugas Haji Wanita, diutamakan yang disertai suami atau mahramnya.

Jakarta, 13 Syawwal 1420 H.

20 Januari 2000M.

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

 

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

[1]Imam Abu Ishaq al-Fairuzzabadi, Al-Muhaddzab Fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’I, juz ke-1, hal. 197.

[2]Yusuf Qardlawi, Fatawa Mu’ashirah, Juz ke-1, hal. 350.