Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya yang berlangsung pada tanggal 20 Rabi’ ats-Tsani 1422 H, bertepatan dengan tanggal 12 Juli 2001M, yang membahas tentang Hukum Sumbangan Non Muslim Untuk Pembangunan Masjid, Mushala, Pondok Pesantren dan sebagainya, setelah:

Menimbang:
1. Bahwa masyarakat Indonesia yang memegang teguh dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 sangat toleran terhadap pemeluk agama lain. Bahkan mereka saling membantu dan tolong menolong, bukan hanya dalam kehidupan kemasyarakatan, tetapi juga dalam kehidupan agama.

2. Bahwa salah satu bentuk nyata dari sikap saling bantu membantu dan tolong menolong bangsa Indonesia adalah kesediaan kaum muslimin Indonesia memberikan bantuan untuk pembangunan rumah ibadah agama lain. Demikian juga sebaliknya, kesediaan orang-orang non muslim memberikan bantuan untuk pembangunan masjid, mushala, pondok pesantren dan sebagainya.

3.Bahwa sebagian umat Islam mempertanyakan tentang boleh atau tidaknya bantuan non muslim untuk pembangunan masjid, mushala, pondok pesantren dan sebagainya.

4. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hukum bantuan non muslim untuk pembangunan masjid, mushala, pondok pesantren dan sebagainya, maka MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Hukum Bantuan Non Muslim untuk Pembangunan Masjid, Mushala, Pondok Pesantren dan sebagainya.

Mengingat:
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 20 Rabi’ ats-Tsani 1422 H. bertepatan dengan tanggal 12 Juli 2001 M, yang membahas tentang hukum bantuan non-muslim untuk pembangunan masjid yang diajukan oleh Pengurus Yayasan Wakaf Baitus Salam Komplek Billy& Moon, Pondok Kelapa Jakarta Timur 13450 melalui suratnya no. 05/Ya Salam/2001 tanggal 1 Juli 2001.

Memutuskan:
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya, sesudah mengkaji permasalahan tersebut dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan kitab-kitab yang mu’tabar menyampaikan fatwa sebagai berikut:

1. Panitia pembangunan masjid diperbolehkan menerima sumbangan atau bantuan dari orang-orang non muslim; baikberupa uang, bahan bangunan maupun tenaga yang dimanfaatkan untuk pembangunan masjid. Sumbangan atau bantuan tersebut diperbolehkan, dengan syarat tidak mengikat dan tidak dijadikan sarana untuk menimbulkan bahaya (dharar) atau fitnah, baik bagi umat Islam maupun bagi masjid itu sendiri. Hal ini didasarkan pada dalil dan argumentasi yang disampaikan Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya At-Tafsir al-Munier Juz X, halaman 140-141 sebagai berikut :
و الاصح أنه يجوز إستخدام الكافر في بناء المساجد و القيام بأعمال لا ولاية له فيها كنحت الحجارة و البناء و البناء و النجارة فهذا لا يدخل في المنع المذكور فى الآية ، إنما المنع موجوه إلى الولاية على المساجد و الإستقلال بالقيام بمصالحها مثل مثل تعيينه ناظر المسجد أو ناظر أوقافه . … و لا مانع أيضا من قيام الكافر ببناء مسجد أو المساهمة فى نفقاته بشرط ألا يتخذ أداة للضرر و إلا كان حينئذ كمسجد الضرار

“Menurut pendapat yang paling shahih (valid) bahwa orang kafir diperbolehkan membantu pembangunan masjid dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan pembangunan masjid seperti menjadi tukang batu dan tukang kayu. Karena hal ini tidak termasuk larangan yang termaktub pada ayat di atas (Surat at-Taubatayat 17-18). Akan tetapi, orang kafir tidak boleh menjadi pengurus masjid (ta’mir masjid) atau pengurus yayasan wakaf masjid. Namun, orang kafir diperbolehkan membangun masjid atau memberikan bantuan dana pembangunan masjid dengan syarat hal itu tidak dijadikan sarana untuk menimbulkan bahaya (dharar). Jika dijadikan sarana untuk menimbulkan bahaya atau fitnah, maka hal itu dilarang karena sama dengan masjid dlirar (masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik di Madinah pada masa Rasulullah untuk memecah belah umat Islam)”.

2. Sungguh pun orang-orang kafir (non-muslim) telah membantu pembangunan masjid, mereka tidak diperbolehkan menjadi pengurus ta’mir masjid, pengurus yayasan wakaf masjid, atau pengurus di sektor lain yang terkait dengan usaha-usaha memakmurkan masjid. Karena hal itu hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat at-Taubah ayat 17-18:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ (١٧)إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (١٨)

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir.Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat menunaikan zakat dan tidak takut kepada (siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (At-Taubah (9):17-18).

Jakarta, 15 Februari 2001 M.
21 Dzulqo’dah 1421 H.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

      Ketua,                                                                                                       Sekretaris,

        ttd                                                                                                                 ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA                                                   KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

                                                            Mengetahui,

   Ketua Umum,                                                                                   Sekretaris Umum,

        ttd                                                                                                                   ttd

  KH. Achmad Mursyidi                                                                 Drs. H. Moh. Zainuddin